Ormu Tidak Miliki Dermaga, Mobilisasi  Bama Dan Anak Sekolah Jadi Korban

Tampak warga di kampung Ormu kecil yang kewalahan menurunkan penumpang dari speedboat atau perahi dan membawa bahan  makanan (Bama) mereka karena tidak ada dermaga yang dibangun oleh pemerintah, foto ini di ambil pada,  Sabtu,( 25/7)

 

SENTANI – Sejak Puluhan tahun hadirnya Provinsi Papua dan Kabupaten Jayapura tidak pernah dibangun dermaga pelabuhan masyarakat Distrik Refani Rara Kampung Ormu, masyarakat kampung itu mereka mengaku  selalu kesulitan saat menurunkan penumpang dan bahan makanan karena tidak ada pelabuhan/dermaga.

“Ini menjadi kendala untuk menunjang perekonomian masyarakat dengan hasil pertanian untuk dijual ke luar adalah tidak adanya dermaga pelabuhan di kampung Ormu,” Ujar Sekuriti Adat Kampung Ormo, Noak Robert Yoafifi Kepada Cenderawasih Pos,  di Kampung Ormu Kecil, belum lama ini.

Ia mengatakan selama ini masyarakat hanya menggunakan cara alami untuk turun dari perahu  tanpa adanya dermaga di kampung ini sejak lama.

” Selama ini kami turun dari perahu dengan cara yang alami di pinggir pantai karena belun ada dermaga pelabuhan. Kesulitannya, semua ditentukan dengan cuaca.  jika cuaca di pantai bagus bisa turun tetapi kalau ombak  bisa memakan korban dan hasil bahan makanan masyarakat rusai karena terkena  air atau ombak dan ini sudah sering terjadi,” katanya.

Meski masyarakat memiliki kelincahan untuk turun dengan perahu di pantai secara alami tetapi selalu saja masyarakat kewalahan untuk membawa anak sekolah dan juga hasil pertanian mereka apalagi di saat banjir.

” tidak ada dermaga ini benar-bener mempengaruhi aktivitas anak sekolah yang mau pergi ke sekolah juga hasil jualan para petani dan nelayan agak sulit untuk dibawa keluar karena tidak ada dermaga apalagi di saat cuaca buruk dan ombak naik maka seharusnya pemerintah perhatikan ini,” katanya.Ia berharap agar pemerintah kabupaten jayapura melalu Bupati  dan pemerintah provinsi Gubernur untuk melihat kampung hormon yang tidak berada jauh dari ibukota provinsi agar dibangun dermaga pelabuhan karena masyarakat belum tersentuh pembangunan secara maksimal.

” kadang juga ada korban dari masyarakat di kampung karena tidak ada dermaga apalagi saat banjir untuk itu kami minta kepada pemerintah provinsi melalui bapa gubernur dan bupati Klabupaten Jayapura untuk bisa melihat karena kami tidak jauh dari ibukota provinsi, harusnya pemerintah malu karena kampung umurmu belum merasakan sentuhan pembangunan infrastruktur,” katanya.

Sementara itu, salah satu pemuda Tanah merah Victor Apaseray mengatakan bahwa,  Realita yang terjadi dan selalu di alami dari leluhur hingga saat ini masyarakat tidak miliki dermaga pelabuhan.

“Entah apa salah kami dan kami ini bagian dari mana,?  Kisah Kehidupan yang di alami oleh masyarakat dari Pesisir Pantai Teluk Tanah Merah Kabupaten Jayapura, Mereka selalu saja di Abaikan, di lihat sebelah mata seakan-akan kami ini anak tirinya pemegang kekuasahan di Pemerintahan. Kami terletak dekat Ibu Kota Provinsi Papua dan Kabupaten Jayapura, namun kami masih Menangis karena tidak di lihat dan tidak di urus dengan baik,” katanya.

Ia menjelaskan, karena tidak memiliki Dermaga sehingga ketika speedboat  atau perahu yang datang harus di tarik langsung ke darat.

“Jika perahu datang dan tidak ada orang yang mau bantu tarik maka perahu akan hanyut saja di laut.

Hingga masyarakat datang ke pantai baru perahu sandar ke pantai dan langsung tarik ke darat. Itupun harus peritungan ombak jika tidak maka akan berbahaya bahkan bisa-bisa perahu tenggelam karena di hempas ombak lautan dan penumpang bisa jadi korban ombak dan barang bawahan mereka rusak,” ujar Victor, (oel).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *