Ditemukan Fosil Kayu Berusia Jutaan Tahun

Yesaya Felle, terlihat dari belakang saat memikul fosil kayu yang ditemukan di salah satu perbukitan di belakang Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Sabtu (17/7).(Yewen/Cepos)

SENTANI- Balai Arkeologi kembali menemukan fosil kayu yang telah menjadi batu. Ini merupakan temuan dari Balai Arkeologi Papua di salah satu bukit yang berada di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Sabtu (17/7).

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengungkapkan, penemuan fosil ini di sela-sela pihaknya sedang mencari serpihan-serpihan gerabah peninggalan masa lalu yang berada di perbukitan Kampung Abar. Perjalanan ke sini kurang lebih satu jam.

“Ini merupakan fosil kayu yang ditemukan. Fosil kayu ini berusia jutaan tahun yang lalu, sebab ini merupakan proses geologi yang terjadi,”ungkapnya kepada wartawan.

Fosil kayu yang ditemukan ini kemudian dibawa oleh salah satu pegawai dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Jayapura untuk disimpan di Kampung Abar. Fosil kayu ini bisa menjadi bukti tentang proses perubahan yang terjadi berjuta tahun yang lalu.

Kata Hari Suroto, setiap fosil berkaitan erat dengan kebudayaan masa lalu. Oleh karena itu, keberadaannya sangat penting untuk melihat kehidupan masa lalu dan kehidupan yang saat ini terjadi. Seperti sebelumnya ditemukan fosil kerang laut tentu berakaitan erat dengan kehidupan Danau Sentani di masa lalu yang disebut merupakan lautan.

“Fosil yang ditemukan ini tentu berkaitan erat dengan kehidupan pra sejarah masa lalu. Terutama yang telah terjadi jutaan tahun yang silam,” ucapnya.

Hari Suroto menyampaikan, dalam survei yang dilakukan pihaknya, hanya menemukan kurang lebih 3 kepingan gerabah. Namun uniknya adalah kepingan gerabah ini merupakan buatan lama yang saat ini tidak ditemukan lagi di Kampung Abar.

“Kepingan gerabah ini merupakan yang lama dan tidak dibuat lagi di Abar. Kita bisa lihat kepingan gerabah ini dicampur dengan berbatuan kecil, sehingga tujuannya adalah supaya tetap keras. Namun saat ini kita tidak lagi lihat gerabah semacam ini dibuat oleh masyarakat di Kampung Abar. Yang ada saat ini justru gerabah yang di buat dari tanah liat,” katanya. (bet).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *