Rumah Sakit Mulai Kewalahan

Tampak sejumlah pasien untuk sementara terpaksa dirawat di luar ruangan RSUD Jayapura, Jumat (16/7). Hal ini disebabkan ruangan yang tersedia di RSUD Jayapura telah terisi penuh.(Yohana/Cepos)

Seorang petugas pengantar tabung oksigen (O2) saat mengambil tabung oksigen yang kosong untuk diisi ulang di RS Marthen Indey, Jumat (16/7).(Elfira/Cepos)

*BOR RSUD Jayapura 100 Persen, Ketersediaan Obat Mulai Menipis

JAYAPURA-Lonjakan kasus Covid-19 yang terus dalam beberapa minggu terakhir membuat rumah sakit di Kota Jayapura kewalahan menangani membludaknya pasien.

Bahkan bed occupancy ratio (BOR) atau tingkat pemanfaatan tempat tidur di RSUD Jayapura sudah mencapai 100 persen. Akibatnya puluhan pasien untuk sementara waktu harus dirawat di luar ruangan tepatnya di pelataran IGD (Instalasi Gawat Darurat).

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, yang juga Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Jayapura,  dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) mengakui adanya 24 pasien yang untuk sementara tertahan di IGD, lantaran ruangan yang ada sudah penuh, Jumat (16/7).

Meskipun demikian, dr. Silwanus Sumule memastikan bahwa 24 pasien yang tertahan di IGD kemarin tetap mendapatkan perawatan maksimal meskipun tidak seperti pada pasien yang berada dalam ruangan.

“Pasien yang masih tertahan di luar ini, seluruhnya kami curiga Covid-19. Ini berdasarkan hasil pemeriksaan repid antigennya positif. Namun kami masih menunggu hasil pemeriksaan PCR,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos, Jumat (16/7).

Untuk saat ini, RSUD Jayapura menurut dr. Silwanus terpaksa melakukan pembatasan pelayanan. Hal ini tidak terlepas dari keterbatasan tenaga kesehatan (Nakes). “Dengan meningkatnya kasus terkonfirmasi, pelayanan kami juga ikut terganggu. Karena sebagian tenaga perawat kami terpapar Covid-19 yaitu sebanyak 25 tenaga perawat,” bebernya.

Dikatakan, tenaga kesehatan yang bertugas melayani pasien di RSUD Jayapura saat ini berjumlah 45 orang yang terdiri dari 29 perawat, 8 tenaga penunjang, 6 dokter umum dan 2 dokter spesialis.

“Meski pelayanan di RSUD Jayapura terganggu dari sisi pelayanan, akan tetapi kami akan terus berupaya semampu yang kami bisa untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Bahkan untuk menahan laju perkembangan Covid-19,” tegasnya.

Pihaknya juga memohon agar masyarakat dapat membantu tenaga kesehatan. Khususnya dalam hal menjalankan protokol kesehatan sebaik mungkin. Dirinya meminta  aktivitas masyarakat harus sadar betul akan bahaya Covid-19.

“Terus terang kami sangat membutuhkan dukungan dari masyarakat. Jujur kami lelah, kami capek dan kami sangat membutuhkan dukungan dari masyarakat. Petugas kesehatan kerja hampir 24 jam, mereka juga butuh asupan gizi, butuh perhatian baik dari masyarakat maupun pemerintah,” tambahnya.

Berperang menghadapi situasi Covid-19 saat ini diakuinya tidaklah mudah. Bahkan menurut dr. Silwanus, kasus saat ini lebih berat dibandingkan dengan kasus awal Covid-19 pada Maret tahun lalu.

Dalam kesempatan itu, dr. Silwanus juga mengimbau masyarakat untuk memberikan diri divaksin. Sebab dari hasil pemantauan yang telah dilakukan pihaknya maupun dinas-dinas kesehatan, dari sekian banyak pasien terpapar Covid-19 paling banyak yang tidak melakukan vaksinasi.

“Menurut data kami, 90% pasien yang meninggal belum divaksinasi covid-19. Tetapi sekali lagi saya katakan bahwa penelitian yang kita lakukan adalah deskriptif tidak dilakukan secara multisenter,” tambahnya.

Terkait dengan ketersediaan obat-obatan yang berkaitan dengan penanganan Covid-19, diakuinya ada yang mulai menipis dan ada yang masih ada. Menurut dr. Silwanus, yang menipis itu seperti obat-obatan emergency.

“Dari semua yang kita butuhkan, teristimewa adalah oksigen. Dimana kami sedikit khawatir dengan kondisi oksigen saat ini. Dari sisi pengobatan, oksigen mulai menipis. Selain itu, obat-obat yang menyangkut kegawatdaruratan juga mulai menipis. Termasuk APD kita juga sudah mulai menipis,” bebernya.

Terkait kondisi ini, dr. Silwanus Sumule berharap pihak-pihak terkait bisa memberi dukungan bagi tenaga medis di Kota Jayapura. “Untuk Kota Jayapura sendiri masih bisa dikendalikan saat ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Kompol dr. Andi Mappaodang mengatakan di tengah lonjakan penyebaran angka Covid-19, pihaknya menambah 15 tempat tidur.

“Sebelumnya ruang tempat tidur kami sebanyak 25 bed. Dengan terjadi lonjakan maka kami menambahnya sebanyak 15 bed. Sehingga total tempat tidur yang kami sediakan sebanyak 40 bed,” ucap dr. Andi kepada Cenderawasih Pos, Jumat (16/7)

Lanjutnya, dengan jumlah 40 unit tempat tidur tersebut, 95 persen diantaranya sudah terisi dengan pasien.

Sementara terkait Nakes yang ditugaskan di RS Bhayangkara sebanyak 131 orang. Dari jumlah tersebut 14 di antaranya terpapar Covid-19 yang terdiri dari 3 dokter spesialis serta 11 orang perawat dan lainnya.

“Terlepas dari 14 Nakes yang terpapar, Nakes lainnya ada juga yang sudah sembuh dari Covid-19. Para Nakes bekerja secara bergantian dalam melayani pasien di Rumah Sakit,” terangnya.

Untuk tabung oksigen sendiri hingga saat ini masih terpenuhi, dalam artian belum ada masalah. Sebab pihak RS Bhayangkara sudah berkoordinasi dengan para penyuplai.

“Sejauh ini belum ada pasien yang kami rawat di luar ruangan. Untuk pasien ringan gejala kami arahkan untuk isolasi mandiri. Pasien yang dirawat di rumah sakit, yaitu yang sakitnya berat, butuh oksigen dan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu pantauan Cenderawasih Pos di Rumah Sakit Marthen Indey aktivitas pelayanan berjalan seperti biasa. Terlihat pengantar tabung oksigen O2 sedang mengambil tabung yang kosong dan akan diisi ulang di Keerom.

Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Arm Reza Nur Patria menyampaikan informasi yang menyampaikan bahwa Lab PCR RS Marthen Indey (RS MI) tutup adalah tidak benar atau hoaks. Saat ini Lab PCR RS MI masih dapat melayani.

“Sampai saat ini Petugas Kesehatan RS MI masih dalam kondisi sehat walaupun ada beberapa orang yang terpapar Covid-19,” terang Reza saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat (16/7).

Adapun daya tampung RS MI untuk pasien Covid-19 berjumlah 42 tempat tidur dan saat ini sudah ditambahkan menjadi 64 tempat tidur. Keterisian pasien fluktuatif setiap harinya dan pasien yang dirawat diutamakan yang memiliki gejala sedang dan berat serta diutamakan juga bagi anggota militer dan keluarga TNI.

“Upaya yang dilakukan manajemen RS Marthen Indey dalam menghadapi lonjakan pasien Covid-19 adalah senantiasa menganjurkan untuk mematuhi dan mempedomani Protokol Kesehatan Covid-19, membatasi jam besuk pasien dan melaksanakan tracing bagi anggota dan keluarga Militer dan PNS Kodam XVII Cenderawasih yang terpapar Covid-19 serta melaksanakan screening swab antigen bagi Pasien yang akan dirawat di RS MI,” paparnya.

Reza memohon doa dari semua pihak agar semua personel tenaga kesehatan di Provinsi Papua serta masyarakat Papua selalu diberikan kesehatan dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. (ana/fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *