Di Kameyakha, Ditemukan  Goa Persembunyian Masyarakat Saat PD II

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto bersama warga masyarakat serta para mahasiswa, saat melihat salah satu goa peninggalan perang dunia II yang menjadi tempat persembunyian masyarakat di Kampung Kameyakha, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Jumat (9/7).(Yewen/Cepos)

SENTANI-Wilayah Danau Sentani menyimpan berbagai benda-benda prasejarah, peninggalan masa lalu, terutama peninggalan Perang Dunia II (PD II).

Seperti di Kampung Kameyakha, Distrik Ebungfauw, ditemukan goa peninggalan PD II. Goa ini merupakan tempat persembunyian masyarakat yang ada di wilayah Danau Sentani ketika terjadi perang Pasifik antara Sekutu dan Jepang.

Terdapat tiga goa yang digunakan masyarakat untuk bersebunyi selama perang dunia II berlangsung. Dari ketiga goa ini, dua goa berukuran besar dan berada saling berdekatan. Sedangkan, satu lagi berada jauh. Meskipun demikian, ketiga goa ini berada tak jauh dari perkampungan warga.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, dua goa ini berukuran besar dan di dalamnya luas, sehingga dapat dipastikan merupakan tempat persembunyian masyarakat dari serangan musuh selama perang dunia II berlangsung.

Meskipun demikian, goa ini belum dijaga dengan baik, bahkan terdapat coret-coretan nama di sekitar goa yang merusak keasliannya.

Padahal goa ini termasuk salah satu peninggalan prasejarah yang bisa menjadi destinasi wisata bagi para wisatawan yang akan berkunjung di wilayah Danau Sentani. Hal inilah yang sebenarnya harus diperhatikan oleh masyarakat sekitar untuk menjaga dan merawatnya dengan baik.

Salah satu warga di Kampung Kameyakha, Rudi Ibo mengungkapkan, goa ini merupakan tempat persembunyian masyarakat saat perang dunia II terjadi di Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura.

“Goa ini menjadi tempat persembunyian bagi masyarakat yang ada di sekitar Danau Sentani,” katanya kepada Cenderawasih Pos di sela-sela meninjau goa di Kampung Kameyakha, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Jumat (9/7).

“Masyarakat dari Kampung Atamali, Putali, Abar dan kampung lain di Danau Sentani waktu itu datang bersembunyi di goa ini,” tambahnya.

Sementara itu, Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menjelaskan, goa ini termasuk situs prasejarah alami yang dimiliki oleh masyarakat di Kameyakha. Sebenarnya situs ini harus dijaga dan dirawat dengan baik oleh masyarakat di kampung tersebut.

“Goa termasuk situs prasejarah, karena menjadi tempat persembunyian masyarakat di Danau Sentani, saat terjadi perang dunia II. Seharusnya goa ini bisa dijaga dan dirawat oleh masyarakat di sekitarnya dengan baik, sehingga menjadi tempat tujuan wisata kedepannya,” jelasnya.

Suroto menambahkan, pihaknya hendak mencari jejak yang ditinggalkan manusia zaman dulu di goa ini, tapi dari hasil pencarian tidak ditemukan adanya jejak yang ditinggalkan manusia di goa tersebut.

“Kita lihat tidak ada jejak yang ditinggalkan, seperti belangga dapur dari tanah liat atau bekas bakar di sini. Itu artinya memang goa ini digunakan hanya untuk tempat persembunyian sementara. Nanti kalau sudah aman mereka akan kembali melaksanakan aktifitas lagi seperti biasa di kampungnya masing-masing,” ujar Peneliti Senior Balai Arkeologi Papua ini.

Suroto berharap, peninggalan-peninggalan pra sejarah, termasuk goa-goa yang ada di Kampung Kameyakha ini bisa dapat dijaga dan dirawat oleh masyarakat setempat dan juga pemerintah daerah, sehingga bisa menjadi tujuan wisata kedepannya di wilayah Danau Sentani.(bet/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *