Penyebaran Covid-19 Makin Mengkhawatirkan

Lokasi pemakaman pasien covid yang diambil dari ketinggian, Jumat (9/7) kemarin. Setiap hari di lokasi ini dipastikan selalu ada yang meninggal dan dimakamkan  karena covid.(Gamel/Cepos)

Tampak tenda darurat yang terpaksa dibangun di halaman RS Provita guna mengantisipasi lonjakan pasien Covis-19, Jumat (9/7).(Yohana/Cepos)

*Rata-rata 224 Kasus Covid Perhari, BOR Rumah Sakit 96-100 Persen

JAYAPURA-Penyularan Covid-19 di Provinsi Papua pada awal bulan Juli 2021 ini makin mengkhawatirkan.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG (K) mengatakan, tim Satgas Covid-19 Papua telah melakukan analisi epidemiologi, dimana tercatat rata-rata kasus perhari untuk bulan Juli di Papua, sebanyak 244 kasus perhari. Angka ini meningkat 306,6 persen dibadingkan kasus bulan Juni 2021 yaitu 60 kasus perhari.

Parahnya lagi, untuk wilayah Jayapura menurut dr. Silwanus Sumule, ketersediaan tempat tidur di rumah sakit atau BOR (bed occupancy rate) sudah mencapai 96-100 persen. Bahkan RSUD Jayapura yang merupakan rumah sakit rujukan tertinggi, hingga Jumat (9/7) kemarin BORnya sudah mencapai 100 persen alias sudah full.

“Ruangan kami sudah terisi semuanya. Bahkan sebagaian pasien masih tertahan di IGD (Instalasi Gawat Darurat). Kami akan melakukan penambahan ruangan secepatnya guna mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 saat ini,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos, Jumat (9/7).

Diakuinya, untuk ruang isolasi Covid-19 di RSUD Jayapura  sebanyak 24 tempat tidur. Ini belum ditambah ruang-ruang lainnya, sehingga kurang dari 50 tempat tidur yang disediakan untuk pasien Covid-19. Namun hingga kemarin seluruh tempat tidur sudah full.

“Kondisi kita sampai dengan hari ini semua rumah sakit masih bisa menanggulangi. Baik dari sisi ketersedian barang habis pakai, obat-obatan masih bisa kami tanggulangi. Harapan kami seluruh masyarakat bisa mematuhi 6M, serta mematuhi edaran-edaran yang telah dikeluarkan baik itu pemerintah kabupaten/kota maupun provinsi,” pintanya.

Satgas Covid-19 Provinsi Papua menurut dr. Silwanus Sumule, pada prinsipnya sangat mendukung setiap upaya dari pemerintah kabupaten/kota dalam penanganan kasus Covid-19. Baik melalui PPKM Mikro, Lockdown dan sebagainya. Namun untuk Provinsi Papua sendiri, lockdown mungkin tidak dilakukan karena sifatnya berpengaruh pada berbagai sektor.

Terkait dengan jumlah kasus yang terus meningkat tajam, dr. Silwanus Sumule menyebutkan ada dua daerah yang menjadi perhatian serius yaitu Kota Jayapura dan Kabupaten Boven Digoel.

“Untuk itu harapan besar kita, adalah masyarakat lebih ketat dalam hal melaksanakan prokes. Bagi mereka yang belum melakukan vaksinasi bisa segera divaksi dan periksakan diri ketika ada gejala, jangan tunggu sampai berat,” tambahnya.

Mengenai tenaga kesehatan (Nakes), dr. Silwanus Sumule menyebutkan, RSUD Jayapura saat ini sedang kesulitan tenaga perawat. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan direksi RSUD Jayapura untuk penambahan tenaga medis.

“Keterbatasan tenaga medis sediri dikarenakan, ada tenaga medis dalam minggu terakhir ini sebanyak 16 tenaga perawat terpapar Covid-19. Dengan kondisi ringan dan sedang. Sementara untuk yang meninggal, satu orang perawat,” ujarnya.

Dengan penambahan petugas kesehatan yang positif, pelayanan kesehatan di RSUD Jayapura sedikit terganggu. Pelayanan yang terganggu seperti pelayanan operasi atau bedah yang bersifat terjadwal.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, direksi RSUD Jayapura  akan membatasi pasien yang berobat ke Poliklinik, kecuali pasien yang dalam kondisi berat tetap diberi pelayanan.

“Para petugas kesehatan memiliki peran yang sangat luar biasa. Khususnya di tengah pandemi Covid-19, mereka tetap bekerja. Untuk itu, perlu adanya dukungan doa dari semua pihak. Untuk 16 tenaga kesehatan yang terpapar ini, mulai ditemukan pada awal bulan Juli semenjak lonjakan kasus meningkat,” bebernya.

Saat ditanya kondisi Nakes di kabupaten dan kota di Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule mengaku belum mendapat data yang pasti. Namun dirinya meminta seluruh Nakes di Papua agar tidak lengah serta betul-betul memperhatikan dan menerapkan  prokes.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dilaporkan 9 tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang terpapar Covid-19.

“Ini karena memang ada beberapa yang terpapar, tapi kurang jujur dalam memberikan informasi kepada petugas kesehatan, sehingga petugas kita ikut terdampak penularan Covid 19. Dari yang saya sebutkan, ada yang dikarantina di LPMP Kotaraja,” ungkap Rustan Saru, kepada Cenderawasih Pos, Jumat (9/7) kemarin.

“Kami harap, mereka semua segera sembuh dan kembali bekerja seperti biasa, dalam hal ini membantu pemerintah dalam percepatan pemutusan mata rantai penularan Covid 19 di Kota Jayapura,” lanjutnya.

Rustan Saru mengakui bahwa tugas tenaga kesehatan sangat padat, sehingga faktor kelelahan dapat menyebabkan penularan Covid-19 terjadi.

“Tenaga keseahtan kita harus memberikan pelayanan kesehatan, pelayanan Covid 19 hingga memenuhi target vaksinasi kepada warga kota. Mereka padat tugas. Belum lagi, harus mencapai tes sesuai instruksi Mendagri, di mana di Kota Jayapura harus capai 438 tes per hari, entah itu tes antigen maupun PCR,” sebutnya.

“Makanya, kita kerahkan aparatur kita di tingkat distrik, lurah, dan kampung, juga kepala puskesmas kita untuk aktif melakukan tes antigen maupun PCR, maupun juga vaksinasi. Dan ini berjalan terus setiap hari,” sambungnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari mengaku, tak dapat memastikan jumlah tenaga kesehatan yang terpapar Covid 19 di Kota Jayapura. Namun, dapat dipastikan bahwa tenaga kesehatan di sebagaian besar puskesmas di Kota Jayapura sudah terpapar Covid-19.

“Sudah tak terhitung, teman-teman lagi banyak yang terpapar. Di Puskesmas Twano ada 9 Nakes, meskipun ada juga beberapa yang sudah sembuh. Kemudian, di Puskesmas Waena dan Hamadi juga ada nakes yang terpapar. Di Puskesmas Skouw ada 2 nakes, dan di Puskesmas Yoka ada 5 nakes,” tambah dr. Sri Antari kepada Cenderawasih Pos.

Sementara itu, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., menyebutkan bahwa tingginya tren penularan Covid-19 di Kota Jayapura tertuang dalam angka kasus yang sudah mencapai 400 lebih orang dalam perawatan.

Adapun, kapasitas rumah sakit dan LPMP sebagai rumah isolasi mandiri hampir penuh menampung pasien Covid-19 di Kota Jayapura.

“Ini sudah 400 kasus lebih, mau sampai 1.000 kasus. Rumah sakit mungkin sudah penuh. LPMP Kotaraja sedikit lagi sudah penuh,” jelas Wali Kota Benhur Tomi Mano kepada Cenderawasih Pos, Jumat (9/7) kemarin.

“Memang ada isolasi mandiri. Disebut isolasi mandiri kalau yang bersangkutan ditempatkan di kamar tersendiri. Tapi kalau ada interaksi dengan keluarga, maka penularan terjadi dan angka kasus bertambah terus di wilayah Kota Jayapura. Itu yang kita takutkan,” sambungnya.

Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. Rustan Saru, MM., menambahkan, peningkatan tren penularan Covid 19 di Kota Jayapura juga berpengaruh terhadap penuhnya pasien yang dirawat di LPMP Kotaraja sebagai rumah isolasi mandiri di Kota Jayapura.

“Kita sudah 80 – 90 pasien yang menempati LPMP Kotaraja. Ada ruangan yang masih tersedia tapi masih harus direnovasi dulu baru bisa difungsikan. Kalau dalam minggu ini sudah selesai direnovasi, maka bisa langsung digunakan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 156 pasien yang dirawat di LPMP Kotaraja. Namun, angkanya fluktuatif, sehingga kemudian dapat bertambah lagi.

“Di LPMP, dari 166 yang dirawat, ada 9 orang yang pulang, sehingga tinggal 156 orang. Nanti mungkin bertambah lagi. Kapasitas LPMP sesuai perjanjian itu 273 orang, termasuk tenaga kesehatan 22 orang, sehingga jadi 251 orang,” jelasnya.

“Hanya saja, kita masih harus buka lagi ruangan yang belum terpakai, dan ada yang direnovasi juga. Jadi, ruangan yang digunakan itu sekitar 200-an,” pungkasnya.

Adapun sikap tegas yang diambil pemerintah kota untuk melakukan pembatasan aktivitas dengan batas waktu pukul 20.00 WIT termasuk rencana mulai diberlakukan portal untuk gang – gang dianggap tepat seiring meledaknya angka penularan di Jayapura. Jika ini tak disikapi serius maka  sangat memungkinkan Jayapura menyimpan bom waktu yang sewaktu – waktu justru semakin sulit dalam penanganannya.

Ini juga terlihat di lokasi pemakaman pasien covid-19 di Buper Waena dimana Jumat (9/7) tercatat ada 4 jenazah yang dimakamkan.

Setiap hari dipastikan ada saja jenazah covid yang harus dikuburkan. “Untuk kami di satuan tugas,  memakamkan  jenazah itu setiap hari pasti ada. Tidak hanya yang di Jayapura tetapi ada juga yang dari luar Jayapura,” kata Yamamoto Sasarari salah satu anggota tim covid saat ditemui di lokasi pemakaman, Jumat (9/7).

Ia menyebut bahwa pandemi ini sulit diatasi apabila masyarakat tak mau ambil pusing. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada jumlah jenazah yang dimakamkan akibat Covid.

Dirinya menyesalkan apabila masih ada oknum masyarakat yang masih berkeliaran tanpa mengenakan masker dan mengikuti apa yang menjadi protokol kesehatan.

“Sulit kita putuskan mata rantai ini jika semua masih tidak peduli. Covid ini benar- benar ada dan 5 jenazah setiap hari bagi kami itu sudah biasa. Bahkan saat ini Covid tidak hanya menghantam para lanjut usia. Ada juga anak-anak muda usia 20-an tahun,” beber Yamamoto. Sementara dalam penanganan jenazah, pria yang bertugas di Dinas Kesehatan Provinsi Papua ini mengaku terkadang mengalami kelelahan. Namun karena personel terbatas akhirnya mau tidak mau harus dilakukan.

“Untuk yang selalu stanby dalam proses pemakaman ya kami – kami ini. Jumlahnya tidak lebih dari 10 orang sehingga bisa dibayangkan jika jenaah mau dikebumikan malam hari dengan kondisi hujan dan personel sangat terbatas,” bebernya.

“Tidak perlu merasa diri hebat dan kuat sebab penyakit ini bisa menghantam semuanya, sekali lagi setiap hari selalu ada jenasah dan jangan disepelekan,” imbuhnya. (ana/gr/ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *