Pembayaran Denda Adat Masih Dominan

Kepala Dinas DP2AKB Jayawijaya Ramlia Salim.(Denny/Cepos)

Untuk Penyelesaian Kekerasan Terhadap Anak

WAMENA-Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP2AKB) Kabupaten Jayawijaya Ramlia Salim mengungkapkan bahwa penyelesaian masalah kekerasan, pelecehan dan pemerkosaan yang melibatkan anak sebagai korban sering kali sering kali diselesaikan dengan denda adat dalam masyarakat.

   Hal ini, tentunya menjadi kendala pihaknya untuk melakukan pendampingan, apabila kasusnya didiamkan atau diselesaikan secara adat. Padahal setiap masalah  yang berkaitan dengan perempuan dan anak yang masuk ke DP2AKB, pastinya akan ditindak lanjuti dengan cara mediasi sampai memberikan pendampingan ke Kepolisian apabila korban menginginkan itu.

  “Kalau kasus pemerkosaan terhadap anak saat ini tidak ada, namun beberapa waktu lalu ada, namun laporan yang diberikan tidak jelas, seperti apa , korban dimana sehingga kami mau menindak lanjuti susah, kalau seandainya informasinya jelas maka pastinya akan diberikan pendampingan,” ungkapnya Jumat (9/7) kemarin.

   Menurutnya,  meski secara adat telah diselesaikan, namun dari sisi hukum akan memberikan dampak psikologis terhadap anak itu sendiri. “Mungkin kalau anak menjadi korban perkosaan semua yang dilakukan akan berdampak, baik pada sekolah dan lingkungannya , tetapi kalau anak itu berada di lingkungan yang baik akan kembali lagi tanpa ada beban psikologi,”jelasnya.

   Kata Ramlia, untuk penanganan kasus perempuan atau anak yang menjadi korban kekerasan atau perkosaan dalam masyarakat, biasanya lebih memilih untuk menyelesaikan secara adat dan kasus itu ditutupi. Orang tua dari korban juga tidak berdaya apabila pelaku mampu membayar denda adat (bayar Perawan)

  “Kalau sudah ada kesepakatan dari kedua belah pihak, maka keluarga korban mau tak mau harus menerima denda adat itu. Sekarang yang kami inginkan dari DP2AKB, orang tua harus memperhatikan hal ini juga, jangan hanya memikirkan denda yang dibayarkan maka kasus itu selesai,” ujarnya.

   Ia menambahkan biasanya di luar Papua, anak -anak yang menjadi korban pemerkosaan rata -rata akan terjun menjadi PSK. Artinya terjerumus langsung. Namun, iaa belum tahu secara pasti untuk Jayawijaya,  karena belum melakukan penelitian terhadap PSK, sehingga apakah mereka bagian dari korban pemerkosaan atau mereka yang mau menjalani pekerjaan itu.

  “Contoh kalau anak diperkosa umur 5 tahun nanti kalau sudah usia SMP atau SMA biasanya bisa langsung menjajakan diri, namun hal ini tidak terekspos secara besar, “bebernya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *