Orang Tua Alm. Paul Fonataba Masih Perjuangkan Keadilan

Orang Tua Almarhum Paul Fonataba, Gidion Fonataba dan Sarah S, menunjukkan ijazah anaknya yang selama bersekolah selalu berprestasi dan anaknya disiplin dalam jumpa pers di PTC Entrop, Jumat (9/7)kemarin.(Priyadi/Cepos)

JAYAPURA– Orang Tua Almarhum Paul Fonataba mahasiswa Fakultas Kedokteran Uncen, Gidion Fonataba dan Sarah S masih tetap menuntut keadilan bagi anak semata wayangnya yang sudah meninggal dunia beberapa bulan lalu. Ia melihat meninggalnya anaknya dampak dari pembunuhan karakter hingga depresi akibat praktek di RS Dok II bertahun-tahun tidak selesai-selesai, padahal teman-temannya sudah banyak yang menjadi dokter dan bekerja.

Orang tua Almarhum Paul Fonataba, Gidion Fonataba mengaku, untuk mencari keadilan mereka sudah menyurat ke berbagai instansi pemerintah untuk meminta supaya kematian anaknya bisa diungkap kembali, karena ada kejanggalan berdasarkan pengakuan dari para teman-teman kuliah almarhum Paul.

  “Saya butuh keadilan, saya sudah menyurat ke Uncen, Dinas Kesehatan Provinsi Papua , Ombusdman Papua   Komisi V DPR Papua  dan Kemenpan RB tapi belum ada tanggapan sama sekali, saya tidak akan menyerah saya akan minta keadilan sampai ke Presiden Ir.H.Joko Widodo,”ungkapnya dalam melakukan konferensi Pers di PTC Entrop, Jumat (9/7)kemarin.

   Dijelaskan, ia sangat ngotot kenapa ingin mencari keadilan hal ini dikarenakan memang anaknya salah telah merubah nilai dari E Ke B tapi sudah menerima hukuman tidak boleh mengikuti praktek di RS Dok II Jayapura selama 1 sementer dan ini sudah dijalankan. Tapi dokter penguji spesialis mata yang melaporkan anaknya tetap tidak mau lagi menerima anaknya untuk praktek lagi  dan mempersulit anaknya hingga 4 tahun, hal inilah yang membuat ia sangat kecewa kenapa hal ini terus dilakukan, karena kalau sudah jalani hukuman tentu sudah bisa kembali mengikuti praktek seperti biasa.

Sementara itu, ibu  Almarhum Paul Fonataba, Sarah S mengakui, dokter spesialis mata  juga sebagai seorang ibu tentu tahu bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan, jika dia punya anak punya dibeginikan bagaimana, kalau memang Paul salah besar mungkin bisa di DO atau dipenjarakan, jangan dipersulit dalam pendidikanya seperti ini karena ini sudah pembunuhan karakter, apalagi jika sampai meninggal dunia, apakah dia ada hati atau tidak.

  Sarah sangat kecewa ia dan suaminya tetap akan terus mencari keadilan sampai kapanpun, dimanapun, karena ia juga memiliki akses hingga ke Pemerintah pusat, karena ia pendiri Rumah pintar di Arso 14 dulu banyak istri menteri datang ke sana.

  Ditempat terpisah, Direktur RS Dok II Jayapura Drg. Aloysius Giyai, M.Kes, mengaku, telah mengetahui masalah ini dan sempat mengetahui bahwa almarhum dulu memang pernah melakukan kesalah dan sudah dijalani hukamannya tapi tiba-tiba adanya pernyataan orang tua almarhum soal kematian anaknya akibat ada hal tertentu, tentu ini harus bisa dibuktikan bersama-sama dan bisa dilakukan duduk bersama sehingga tidak terjadi opini kemana-mana dan pihaknya juga siap  mempertemukan dokter yang bersangkutan dengan orang tua almarhum, bagaimanapun ini memang anak semata wayang tentu demi menjawab keadilan yang dicari orang tua harus bisa diselesaikan dengan baik.(dil/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *