Yang Bertato Juga Bisa Mengubah Stigma

Salah satu anggota Komunitas Anak Jantung Kota , Elis menggarap kopi pesanan pengunjung pada penyerahan bantuan 5 gerobak kopi di  Taman Kali Anafre, Jayapura, Rabu (7/7) kemarin.(Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Moment penyerahan bantuan 5 gerobak kopi dari Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Provinsi Papua dan Papua Barat nampaknya bisa merubah stigma buruk dari penilaian publik terhadap anak-anak jantung Kota Jayapura. Kelompok pemuda/i yang selama ini dikenal kental dengan kehidupan yang tak sehat ternyata bisa diubah dari program pengembangan sumber daya manusia. Mereka yang dulunya hidup dengan alcohol, ganja, seks, tubuh penuh tato ternyata bisa bangkit dan menemukan aktifitas positif. Hal ini terlihat dari peluncuran bantuan gerobak kopi, Q Tong Pu Kopi  yang diberikan oleh Kadin Kota Jayapura bersama Ekonomi Hijau, Rabu (7/7).

Ketua Kadin Kota Jayapura, Yan Friese menyampaikan bahwa menjadi sebuah komitmen dari Kadin untuk melihat potensi yang dimiliki oleh anak-anak muda Papua yang ingin melakukan perubahan. Kadin hadir untuk mendampingi dan mendorong lahirnya perubahan tadi. Tercatat ada lima gerobak kopi yang dibantu dan nantinya  usaha ini dikelola secara mandiri oleh anak-anak jantung kota yang diketuai oleh Pdt Naomi Selan.

“Hasil dari usaha teman-teman ini akan ditampung dalam tabungan jantung kota dan dalam 4 bulan mereka bisa digaji teratur. Jadi tidak hanya mencari uang namun bagaimana ikut mengelola keuangan. Saat ini 5 gerobak dan bulan depan ada 5 gerobak lagi untuk kopi dari Paniai,” kata Yan usai kegiatan yang digelar di Taman Kali Anafre, Rabu (7/7).

Bahkan kata Yan ada pihak yang siap membantu lebih banyak gerobak namun pihaknya akan mengatur yang tidak hanya kopi tetapi juga produk lainnya. “Mereka akan mengelola produk telur, ayam atau mie sagu dan kami akan buat pelatihan. Kami senang karena yang terlibat adalah anak-anak yang sebelumnya pernah bermasalah. Tadi ada yang keluar dari penjara dan ia menyampaikan ingin mengubah hidup dan ternyata mampu membuat karya,” puji Yan.

Anthony Torrens selaku tim leader Ekonomi Hijau menyampaikan bahwa mandat Ekonomi Hijau adalah membantu ekonomi orang asli Papua dalam hal membangun komoditi usaha dan ini dilakukan dari hulu ke hilir. Ada kopi, rumput laut, pala, sagu dan dari hulu itu petani dan hilir itu pedagang.

“Kami merangkul teman-teman yang punya café kami hubungkan dengan petani kopi. Kami juga membantu pemuda pemudi Papua untuk bisa berwiraswasta dan salah satunya adalah yang dilakukan hari ini,” beber Anthony. Ia juga bersyukur karena ternyata anak-anak yang dulunya memiliki kehidupan tak sehat ternyata mampu melakukan kegiatan positif dan membangun dirinya.

Asisten 2 Setda Kota Jayapura, Nurjaimudin Konu mengaku senang senang bisa ikut mendorong pengembangan SDM dan menumbuhkan sektor ekonomi. “Ini bisa merangsang bagi yang lain dan kami pikir ada momentum yang bisa dipakai yakni PON,  itu bisa dimanfaatkan karena ada 20 rbu lebih official akan tinggal di Jayapura,” jelasnya. Namun disini ia berpesan untuk bisa mempertahankan cita rasa. “Ia, jangan sudah disukai lalu tiba-tiba ada perubahan pada citarasa, ini harus diperhatikan,” tutupnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *