Liga Ditunda, Persipura Akan Liburkan Pemain

Pelatih kepala Persipura Jayapura, Jacksen F. Tiago saat memberikan latihan di Stadion Mandala Jayapura, beberapa waktu yang lalu.(Erik/Cepos)

JAYAPURA-Federasi PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) kembali mengundur jadwal kick-off Liga 1 musim ini hingga akhir Agustus 2021. Pengunduran ini buntut dari kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa sampai Bali. Pemerintah menerapkan PPKM Darurat sebagai upaya untuk meminimalkan penyebaran virus corona.

Menanggapi hal itu, pelatih kepala Persipura Jayapura, Jacksen F. Tiago mengaku, mereka sudah memiliki beberapa perencanaan ke depan. Termasuk kemungkinan besar mereka kembali meliburkan para pemainnya untuk sementara waktu.

“Piala AFC sudah pasti batal dan Liga kembali ditunda. Kami akan mengambil keputusan yang menguntungkan semua pihak. Kemungkinan besar kami akan liburkan pemain satu pekan atau bahkan 10 hari. Bisa juga kami tetap akan di sini (Kota Batu),” ungkap Jacksen Tiago dalam zoom meeting, Rabu (7/7) siang kemarin.

Legenda hidup PSM Makassar dan Persebaya Surabaya itu juga mengaku sedikit kecewa dengan jadwal kompetisi. Menurutnya, jadwal yang terus berubah-ubah membuat mereka juga harus mengulang setiap program latihan.

“Mengenai Liga yang kembali ditunda, sedikit kecewa tapi kita juga harus memahami situasi saat ini dan menghormati kebijakan pemerintah dalam menekan laju Covid-19. Memang lebih baik jika kita sudah sehat baru liga dimulai,” ujar Jacksen.

“Kalau soal apakah pemain jenuh, tentu sudah pasti. Tapi kami sudah punya tiga perencanaan ke depan. Dan sebagai pelatih di Indonesia juga harus bisa kaya bunglon, agar bisa menyesuaikan dengan perubahan jadwal,” sambung Jacksen.

Saat ini menurut Jacksen, pemainnya sudah pada performa terbaik untuk bisa tampil maksimal andaikan kompetisi Liga digulir pada awal Juli.

“Sebenarnya kami sudah sangat siap untuk melakukan kompetisi, performa pemain kita sudah sangat siap. Tapi karena Liga yang awalnya akan dilakukan di awal Juli kemudian ditunda hingga akhir Juli, kami memilih untuk menurunkan kembali intensitas latihan. Tapi Liga kembali ditunda hingga akhir Agustus, kemungkinan besar tim akan kami liburkan,” pungkasnya.

Adapun kickoff Liga 1 mungkin molor lagi. Awalnya, kompetisi bakal digelar pada 9 Juli. Namun, karena tingginya kasus korona dan adanya PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) darurat sejak 3 hingga 20 Juli, liga ditunda. Tanggal 23 atau 30 Juli jadi opsi sebelumnya.

Namun, upaya PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk menggelar kompetisi pada tanggal tersebut sepertinya sulit diwujudkan. Dirut Operasional PT LIB Sudjarno mengatakan, digulirkannya kompetisi pada akhir Juli sangat mepet dengan batas PPKM.

Terlebih, selama PPKM, klub-klub, khususnya yang berada di Pulau Jawa dan Bali, kurang maksimal dalam menjalani latihan. ’’Sehingga kemungkinan kita akan gelar sekitar akhir Agustus sambil melihat perkembangan situasi yang berkembang,’’ bebernya kepada Jawa Pos kemarin (6/7).

CEO Persib Bandung Teddy Tjahjono setuju jika liga ditunda. Identik dengan penjelasan Sudjarno, dia menyebut tim Maung Bandung tidak bisa latihan maksimal saat PPKM. Selama PPKM, tim pelatih Persib hanya menyiapkan program latihan mandiri. Itu terjadi karena sulitnya Persib mendapat lapangan yang siap pakai saat PPKM. ’’Ini merupakan keputusan yang cukup bijak (kalau liga ditunda). Karena dengan adanya PPKM, kami tidak bisa berlatih maksimal sampai 20 Juli,’’ kata Teddy.

Bahkan, Persija Jakarta terpaksa meliburkan tim selama PPKM. Presiden Persija Mohamad Prapanca menyatakan, meliburkan tim dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan pemerintah. Sebab, salah satu poin dalam PPKM darurat mewajibkan seluruh kegiatan olahraga, selain seni dan sosial kemasyarakatan, dihentikan sementara waktu guna mencegah persebaran Covid-19.

Kendati demikian, pihaknya memastikan bahwa persiapan Persija tidak akan terganggu. Sebab, tim pelatih sudah memberikan materi latihan kepada pemain untuk diterapkan di rumah. ’’Sehingga, saat latihan kembali dimulai, mereka tetap dalam keadaan bugar dan siap menyambut kompetisi,” katanya.

Sementara itu, terkait wacana Liga 1 bergulir pada akhir Agustus, Arema FC angkat bicara. Melalui Media Officer Sudarmaji, Arema mengusulkan kompetisi bisa dimulai setelah 20 Juli. Alias setelah PPKM darurat berakhir dan tidak diperpanjang. ’’Jadi, kalau PPKM berakhir 20 Juli, kita berharap 15 Agustus atau 20 hari setelah masa PPKM,’’ ucapnya.

Alasannya sederhana, jika kompetisi dimulai akhir Agustus, otomatis selesainya Liga 1 akan molor satu bulan. Hal itu tentu berpengaruh pada kontrak pemain. ’’Kita menghindari agar ke depan tidak terjadi sengketa antara klub dan pemain terkait perpanjangan kontrak,’’ tegasnya.

Klub Jawa Timur lainnya, Persebaya Surabaya, punya saran berbeda. Sekretaris Persebaya Ram Surahman menjelaskan, PSSI atau LIB seharusnya punya plan B untuk situasi seperti saat ini. ’’Harus punya rencana bagaimana memproteksi kami selaku klub agar tidak dirugikan lagi,’’ pinta Ram.

Dia sadar PSSI ataupun LIB tidak punya wewenang untuk memutuskan Liga 1 bergulir lagi. Semua keputusan bergantung pemerintah pusat. ’’Tapi, paling tidak kami ini dijamin. Jangan seperti musim lalu lagi,’’ ucapnya.

Dampak molornya kickoff Liga 1 berdampak pada liga di bawahnya. Terutama Liga 2.  Kemungkinan, Liga 2 baru bisa bergulir pada pertengahan September. Manajer Perserang Serang Babay Karnawi hanya bisa pasrah dengan kemungkinan adanya penundaan. ”Bingung saya, tanggapannya gimana ya,” katanya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Dia berharap apa pun keputusan dari PSSI ataupun PT LIB mengenai Liga seharuanya bisa diinfokan kepada klub-klub Liga 2. ”Apakah kami nantinya sekian persen harus menggaji (pemain, Red), harus dijelaskan jangan begini. Nanti kalau ada kesalahan, kami dituntut. Ini tidak ada kejelasan,” kecamnya.

Babay menuturkan, hasil kongres menjadi acuan klub untuk membentuk tim dan mengumpulkan pemain. ”Jika disebutkan kompetisi akan diadakan, kami sudah siap gaji sebulan. Mau bagaimana kalau akhirnya begini,” keluhnya.

Sebelumnya, kompetisi Liga 2 dirancang bergulir pada pertengahan atau akhir Juli. Karena itu, pihaknya sudah mengumpulkan pemain pada awal Juni untuk persiapan. ”Jadi, pemain tanggal 2 Juli kemarin sudah gajian,” ucap Babay.

Menurut Babay, jika terus-menerus seperti ini, persiapan dan pengeluaran yang dilakukan klub berasa sia-sia. ”Kan pengeluaran klub banyak. Dalam sebulan Rp 500 juta tidak cukup loh buat gaji pemain dan semuanya,” tegasnya.

Sekretaris PSMS Julius Raja ikut menimpali. Dia sepakat kalau klub merugi karena penundaan. ”Ya gaji pemain dan katering serta biaya latihan lainnya kan jalan terus,” kata Julius.

Di sisi lain, tim-tim seperti PSG Pati dan Sriwijaya FC masih menunggu keputusan resmi. ”Kami serahkan saja ke federasi,” kata manajer PSG Pati Doni Setiabudi. ”Kami belum terima info resmi dari LIB, kami masih menunggu,” kata Sekretaris Sriwijaya FC Faisal Mursyid.

Nah, terkait gaji pemain, Direktur Operasional PT LIB Sudjarno angkat bicara. ”Apabila ada sengketa masalah pembayaran, bisa diselesaikan dengan negosiasi-negosiasi atau melalui NDRC,” ungkap Sudjarno

General Manager Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) M. Hardika Aji juga menyadari kemungkinan konflik gaji terkait penundaan kompetisi. Namun, menurut dia, risiko adanya sengketa saat ini sangat kecil. Sebab, klub-klub sudah belajar dari pengalaman musim lalu. ”Mayoritas kontrak sudah mengantisipasi jika ada penundaan di tengah-tengah kompetisi,” bebernya.

Saat ini, sambil menunggu ajakan diskusi PSSI dan LIB, Aji sudah bergerak untuk berdiskusi dengan anggotanya. ”Sekarang kami sedang koordinasi dengan semua pemain di tiap-tiap klub saja tentang status kontraknya di klub,” tegasnya. (eri/nat/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *