Perempuan Port Numbay Harus Bicara Kerusakan Lingkugan Yang Merusak Youtefa

Suasana Reses Anggota Pokja Perempuan MRP Nerlince Wamuar Rollo  yangv menggelar sosialisasi dan jaring aspirasi masyarakat orang asli Papua (OAP) terkait perlindungan dan afirmasi serta  perubahan kedua RUU Otsus Papua, di Abe Pentai,  Selasa, (6/7). (Foto: Noel/cepos)

JAYAPURA – Majelis Rakyat Papua,  (MRP) melalu Pokja Perempuan mengelar reses Angota MRP  dengan gelar sosialisasi dan jaring aspirasi masyarakat orang asli Papua (OAP) terkait perlindungan afirmasi dan perubahan kedua RUU Otsus Papua.

Dalam kegiatan yang berlangsung Abe Pantai itu, melibatkan mama – mama asli Port Numbay   dari tiga Kampung yaitu, Engros, Nafri dan Tabati, dimana dalam kegiatan ini di bicarakan peran dan manfaat Otsus selama ini yang belum dirasakan dan yang sudah dirasakan hingga dapak kebijakan Pemda yang melanhgar HAM

Angota Pokja Perempuan Majelis Rakyata Papua, (MRP) Nerlince Wamuar Rollo mengatakan, banyak masalah di teluk Youtefa akibat sampah dan dampak pembangunan yang merusak mata pencaharian mama – mama Port Numbay di tiga kampung Yaitu, Nafri, Enggros, dan Tobati.

“Kita bicara tiga kampung khususnya di teluk Youtefa jika ada masalah harus dibicarakan, misalnya  lampu, Kebersian Teluk Youtefa, dan kurangnya keterlibatan perempuan  juga Kerusakan lingkungan selain itu dalam terjemaan otsus sudah banyak pemerintah lakukan pembangunan di tempat ini, tapi kami perempuan tidak pernah dilibatkan sementara, Perempuan ini yang buat keberlajutan generasi dan kami yang lahir orang di teluk Youtefa dan kita tidak bisa diam kita harus bicara hak kami , kekhususan orang Port Numbay, selain itu jika Bicara HAM selama ini pembanguna pasar dan dampak sampah dari warga kami dapat penyakit dari limba pasar hasil laut semua tercemar dan rusak dampak dari pembangunan ini kami harus  bicara, selain itu manfaat Kartu Papua sehat itu harus masyarakat paham bahwa ini bagian dari terjemaan Otsus tapi kurang sosialisasi,”katanya yang menyangkan kurang tidak hadirnya Dinas Lingkungan Hidup dan Angota DPRD Kota membicarakan persoalan tersebut meski awalnya mereka di undang.

Ia juga meminta kepada perempuan Port numbay untuk terus bersama membuat berbagai tindakan melindungi alam dan hak – hak mereka dalam menghidupkan keluargga baik dari sisi kesehatan  dan juga pendidikan dan lingkungan Youtefa.

“Dengan reses ini kami menjaring aspirasi masyarakat dan afirmasi terhadap orang Port Numbay dan dengar aspirasi masyarakat di tiga kampung dengan melihat kondisi alam kami, dengan adanya dampak program pemerintah  semua yang ada di teluk jadi rusak, dan harapan kami bisa bermanfaatkan bagi anak cucu kami,” ujarnya di Abe Pantai,  Selasa, (20/7).

Ia pun berharap agar pemerintah melihat aspirasi yang  disuarakan mama – mama Port Numbay terkait hak mereka yang dirusak dan mengembalikam hak mereka yang suda dirusak.

Salah satu perserta, Maria Hanuebi dalam diskusi itu mengaku adanya manfaat otsus tapi dirinya tidak tau kalau program terabut bersumber dari dana Otsus.

“Saya pertama dapat, saya pakai KPS berobat di Makassar tapi saya tidak tahu kalau itu dari dana otsus, kalau bilang  otsus berti kami semua suda dapat dan pemerintah saja tidak jelaskan,” katanya,

Sementara itu, kepala Distrik Abepura, Dionisius J.A Deda. S. SSTP usai memberikan materi pada kegiatan itu, ia memberikan apresiasi karena melihat adanya tokoh perempuan yang bisa merangkul  perempuan port numbay dengan memberikan ide dan gagasan dalam melihat kondisi maayatakat asli Port Numbay khususnya perempuan.

“Saya apresiasi ada tokoh perempuan yang memiliki pemikiran maju berpikir sama sama mengeluarkan beberapa masalah kita hari ini dan mencari solosi, dan saya siap dukung untuk aktovokasi perempuan Port Numbay, ia mengatakan apa yang menjadi aspirasi ini akan di perjuangkan bersama sebagai anak – anak negeri,” paparnya, (Oel).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *