Warga 3 Kampung Mengaku Seperti Pengemis 

Warga 3 kampung dan 7 dusun di pesisir pantai Distrik Semangga saat melakukan pertemuan dengan anggota DPR Papua Hendrikus Ben Gebze di Kampung Matara, Distrik Semangga, baru-baru ini. (Sulo/Cepos)

MERAUKE-Warga Kampung di pesisir Pantai Distrik Semangga-Merauke, yakni Kampung Urum, Matara dan Nasai  mengeluhkan  kurangnya perhatian pemerintah kepada warga asli Papua di 3 kampung tersebut. Keluhan itu  disampaikan oleh Robert Basik-Basik saat kunjungan anggota DPR Papua Hendrikus  Eben Gebze,  baru-baru ini.

   Robert Basik-Basik  mengaku bahwa sebagian warga  masih  menggali pasir  untuk  dapat menyambung hidup, karena pihaknya mau buka lahan untuk pertanian namun dilarang buka hutan. “Sementara kalau bukan penduduk asli  diberi keleluasan,” kata   Robert Basik-Basik.

   Selain itu, lanjut dia, dalam hal  dukungan alat pertanian  seperti handtraktor,  alat mesin perontok padi dan peralatan lainnya  pihaknya juga sudah mengajukan  ke pemerintah tapi  tidak direspons. “Kami bukannya pemalas, tapi tidak didukung dengan peralatan. Tahun kemarin,  banyak yang tidak di panen karena  tidak ada alat. Kalau dipanen secara manual  tidak mampu  dijangkau,” jelasnya.   

   Menurut dia, pihaknya sudah  seperti pengemis  untuk meminta-minta bantuan, namun kurang  mendapat perhatian. “Begitu juga jalan sampai di 3 kampung 7 dusun mulai dari  Urum sampai Kampung Nasai itu sudah rusak. Kami sudah beberapa kali ajukan perbaikan  tapi sampai hari ini  tidak diperhatikan,’’ katanya.

   Anggota DPR Papua Hendrikus Eben Gebze  menilai bahwa untuk  menghentikan penggalian  pasir pantai  tersebut, pemerintah harus memberikan solusi kepada  masyarakat terutama anak muda yang ada di 3 kampung dan 7 dusun  orang asli Papua tersebut. ‘’Disini lahan sebenarnya masih luas. Pemerintah  kabupaten, distrik dan kampung  harus memberikan perhatian dan pendampingan kepada masyarakat. Lahan yang ada di  belakang kampung  yag masih luas itu bisa dibuka untuk tanam padi, sehingga warga memiliki pendapatan, setidaknya stok bahan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka  sehari-hari,” tambahnya. (ulo/tri)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *