Pertanyakan Kenapa Tidak Ditelan Sekalian

Kelompok Karya Salemba Empat (KSE) bersama Rumah Bakau Jayapura berfoto di belakang ratusan botol minuman keras yang ditemukan di pinggir Jembatan Yotefa, Sabtu (3/7).((Gamel Cepos))

JAYAPURA – Sebuah kekesalan ditunjukkan kelompok muda penggiat lingkungan di Jayapura usai melakukan grebek sampah di samping Jembatan Yotefa atau tak jauh dari Pantai Ciberi. Mereka kesal lantaran menemukan 313 botol minuman keras berbagai merk yang dibuang atau ditinggalkan si peminum.

Mereka kesal lantaran botol ini hanya akan menjadi sampah dan membahayakan orang karena banyak juga yang pecah. Para penggiat lingkungan ini menyindir mengapa tidak sekalian menelan botolnya  agar tidak menjadi sampah.

Apalagi lokasi yang digunakan untuk minum – minum ini berada persis di pinggir hutan bakau yang artinya harusnya kondisi hutan bisa bebas dari sampah tetapi perbuatan para peminum ini justru mengotori.

“Minum bisa tapi kenapa tidak bawa  pulang sampahnya? Atau telan saja sekalian biar tidak meninggalkan sampah. Masak soal buang pada tempatnya masih harus diajari lagi,” sindir Vhian Sada salah satu anggota Rumah Bakau Jayapura yang ikut dalam  grebek sampah, Sabtu (3/7). Grebek sampah ini diinisiasi Karya Salemba Empat (KSE) dan menggandeng kelompok penggiat lingkungan, Rumah Bakau Jayapura. Dari kegiatan yang hanya berlangsung sekitar 1 jam ini ditemukan sebanyak 313 botol minuman keras berbagai jenis.

Kata Vhian kebanyakan ditemukan di bawah pohon cemara. Ini menandakan pohon – pohon cemara di pinggir jembatan Yotefa ini dipakai untuk minum – minum. “Tempat yang kami bersihkan juga tidak besar, hanya sekitar 40 meter  dan kami yakin jumlahnya akan jauh lebih banyak yang tercecer,” tambahnya.  Vhian juga menganggap mereka yang minum tidak punya tata krama. “Jelas saja, ini hutan milik orang di kampung dan yang minum kebanyakan dari luar. Mereka masuk ke wilayah orang kemudian minum dan tinggalkan botolnya begitu saja. Ini ibarat orang luar datang ke halaman rumah orang lain lalu mabuk seenaknya,” sindirnya.

Ronie yang ikut dalam kegiatan tersebut juga menyayangkan.  Ia menyayangkan jika akhirnya ada tamu saat PON kemudian justru yang dilihat adalah orang mabuk atau botol mirasnya. “Jayapura akan menerima tamu paling banyak tapi kalau sata ke lokasi wisata tamu – tamu ini bertemu orang – orang yang mabuk pastinya memberi kesan tidak mengenakkan,” tambahya.

Sementara  Kepala Kampung Engros, Septinus Hanasbey yang sempat melintas di lokasi kegiatan juga menyayangkan banyaknya botol miras. Melihat kondisi ini ia merencanakan adanya aparat keamanan kampung yang berkeliling untuk memastikan tak ada yang miras disekitar lokasi kampung.

“Nanti kami coba cari cara apakah kalau malam ada keamanan kampung yang jalan berkeliling sebab saya pikir itu perlu juga,” pungkasnya (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *