Langgar Pembatasan Aktivitas, Siap-siap Disanksi

PENGARAHAN: Personel Polda Papua saat mengikuti apel guna mendapat pengarahan dalam menjalankan tugas pengamanan demo, Juni 2021.(Elfira/Cepos)

*Penyebaran Covid di Merauke Dicurigai Varian Delta

JAYAPURA-Pemerintah Provinsi Papua sudah memastikan akan melakukan pembatasan aktivitas masyarakat dan kegiatan perekonomian terhitung 1 Juli 2021. Dalam pembatasan tersebut, Ketua Harian Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Provinsi Papua, Willem Manderi menyebutkan mulai 1 Juli 2021, aktivitas masyarakat dibatasi sampai pukul 20:00 WIT.

“Dengan adanya pembatasan waktu aktivitas nasyarakat, pastinya akan lebih diperketat. Bahkan akan ada sanksi tegas bagi warga dan pelaku usaha yang tidak mematuhi aturan. Surat edaran yang dikeluarkan itu akan diterjemahkan oleh kabupaten dan kota sehingga ini menjadi dasar pelaksanaan di kabupaten/kota,”ungkap Willem Manderi kepada Cenderawasoh Pos, Senin (28/6) kemarin.

Pihaknya juga akan mengawasi akses keluar masuk di bandara dan pelabuhan laut. Hal ini harus dilakukan guna mencegah penyebaran kasus Covid-19 varian Delta yang masuk Papua.

“Kita berupaya semaksimal mungkin. Jangan sampai, kita memberi peluang bagi penyebaran Covid-19 varian Delta. tidak hanya menjaga aktivitas masuk keluar dari bandara dan pelabuhan, tetapi penerapan sweeping atau razia akan tetap dilakukan,” tambahnya.

Lanjutnya, sweeping akan dilakukan khususnya terkait penggunaan masker di tempat-tempat keramaian. Untuk kegiatan ini, pihaknya akan bekerja sama dengan TNI-Polri. Mengingat saat ini aktivitas masyarakat sudah mulai kendor dalam hal penerapan prokes.

Sementara itu, Plh. Gubernur Papua Dance Yulian Flassy juga menjelaskan bahwa surat edaran yang akan dikeluarkan pada tanggal 1 Juli nanti yakni pembatasan aktivitas. Dimana masyarakat hanya bisa beraktivitas mulai dari pukul 06.00 WIT hingga pukul  20.00 WIT.

“Hari Kamis, kita akan keluarkan edaran untuk jam oprasional bagi warga dan para pedagang. Ini agar upaya pemerintah dalam menerapkan prokes dan menekan angka penyebaran Covid-19 bisa dilakukan bersama,” harapnya.

Secara terpisah, Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri menyampaikan, 1/3 kekuatan Polri yang ada di Polda Papua akan diterjunkan untuk mengantisipasi pembatasan aktivitas yang rencanannya mulai diberlakukan pada 1 Juli mendatang.

“Kekuatan Polri tersebut dalam rangka mengamankan 1 Juli dan menyonsong pengamanan PON. Kita akan massif melakukan kegiatan sosialisasi dan melakukan langkah-langkah penegakan hukum membantu pemerintah supaya Covid bisa tertekan,” ungkap Kapolda Mathius Fakhiri, Senin (28/6)

Dijelaskan, sampai saat ini peningkatan Covid-19 cenderung menurun tetapi tanah Papua tidak boleh gegabah dalam menyikapi hal ini.

“Harus lebih hati-hati dalam menyikapi ini, mengingat beberapa bulan ke depan kita akan memasuki PON. Kita pastikan  bahwa Covid  bisa zero di Papua,” harapnya.

Lanjut Kapolda, Polda Papua sendiri sedang melaksanakan sebagaimana perintah Kapolri agar semua kantor Polisi melakukan vaksin massal. “Kami imbau semua keluarga besar khususnya TNI-Polri serta PNS dan lebih khsus lagi masyarakat di papua yang belum vaksin bisa memanfaatkan momen ini untuk melakukan vaksin,” pintanya.

Menurut Kapolda, di tanah Papua penting untuk dilakukan vaksin agar bisa meningkatkan imun tubuh setiap masyarakat. Dengan begitu, harapan semua orang di tanah Papua dalam penyelanggaraan PON sudah bisa dikatakan zero Covid.

“Langkah-langkah yang akan diambil Polda Papua untuk pembatasan aktivitas yakni membantu pemerintah pusat sebagaimana kebijakan Kapolri. Kita akan membatasi kegiatan berupa kerumunan ataupun kumpulan masyarakat  di luar jam-jam tertentu atau di titik keramaian, termasuk melakukan penyekatan. Hal ini agar menekan angka Covid,” tutupnya.

Sementara itu, penyebaran Covid-19 dalam 1 minggu terakhir ini di Kabupaten Merauke dicurigai merupakan varian baru Delta yang  selama  ini cukup ditakuti. Sebab, varian  ini penyebarannya cepat dan juga mudah melumpuhkan pasiennya.

“Iya untuk  Covid yang menyebar  dalam beberapa hari terakhir dicurigai merupakan varian  Delta. Sekali lagi dicurigai  varian Delta,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke dr. Nevile R. Muskita, ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/6).

Menurut  Nevile Muskita, Covid-19 yang menyebar ini dicurigai  sebagai varian baru karena ciri-cirinya. Pertama, cepat sekali menyebar. “Sejak pandemi Covid-19  baru kali ini  terjadi lonjakan Covid. Dalam waktu 1 minggu itu jumlah pasien positif  lebih dari 200 orang. Ini bila dibandingnya lonjakan bulan Desember 2020 lalu, sama dengan data kasus satu bulan,” ucap NevileMuskita.

Ciri-ciri lainnya lanjut dia, yaitu orang yang  sudah pernah terpapar Covid-19  ternyata kena lagi dengan virus  tersebut. Padahal selain sudah terpapar  juga sudah melakukan vaksinasi.  “Ciri-ciri lainnya  bahwa sejumlah anak-anak  juga terkonfirmasi  Covid-19 yang sebelumnya anak-anak jarang  terpapar Covid,” bebernya.

Oleh sebab itu, untuk memastikan apakah Covid-19 jenis  varian Delta tersebut sudah masuk ke Kabupaten Merauke, pemerintah daerah melalui  Dinas Kesehatan mengirim sejumlah sampel ke Jakarta untuk dilakukan uji laboratorium. “Jumat minggu kemarin sampel sudah kita kirim. Di antaranya, 2 sampel pasien anak yang terkonfirmasi Covid-19 kita  kirim juga,” tambahnya.

Untuk hasil  dari pemeriksaan laboratorium, Neville mengaku  bisanya agak cukup  lama. Diperkirakan 2 minggu setelah  sampel diterima  baru hasilnya keluar. “Pengalaman selama  ini sekira 2 minggu  baru hasil keluar,” tandasnya.

Terkait dengan itu,  Nevile mengimbau masyarakat  untuk selalu  taat Prokes dengan memaskai masker,   cuci tangan dan jaga jarak. “Terutama  menggunakan masker ketika keluar rumah. Jangan abaikan kesehatannya  karena virus Covid  ini tidak mengenal umur dan status seseorang,” pungkasnya.(ana/fia/ulo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *