Sagu Mulai Tergusur

Seorang Mama-mama Papua sedang menokok sagu atau mengolah sagu hingga menjadi tepung.(Dani Ratu for Cepos)

JAYAPURA-Sagu sebagai makanan pokok masyarakat asli Papua saat ini mulai tergusur.  Charles Toto, Ketua Papua Jungle Chef mengakui bahwa saat sagu masih menjadi makanan nomor 2 di Papua mengingat dari apa yang kita lihat setiap hari masyarakat masih sibuk mencari beras dan mengonsumsi nasi.

“Apalagi dimusim pandemi ini dan bila diberlakukan pembatasan atau penyekatan lagi maka beras akan menjadi makanan yang akan menyingkirkan sagu,” ucapnya kepada Cenderawasih Pos, pekan kemarin.

Tepung sagu yang dihasilkan dari pohon sagu (Metroxylon sagu Rottb).

Sebagai salah satu makanan pokok masyarakat di Indonesia, tepung sagu sebenarnya memiliki nutrisi yang baik bagi tubuh. Pasalnya kandungan nutrisi dalam sagu relatif lengkap. Dimana, dalam sagu, terdapat karbohidrat dalam jumlah yang cukup banyak. Selain itu, bahan ini juga memiliki protein, vitamin, dan mineral, meski jumlahnya tidak banyak.

Dalam 100 gram sagu kering, terdapat 94 gram karbohidrat, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10 mg kalsium, dan 1,2 mg zat besi. Kalori yang dihasilkan 100 gram sagu adalah sebanyak 355 kalori. Meski mengandung lemak, karoten, dan asam askorbat, namun jumlahnya sangat sedikit sehingga sering kali diabaikan.

Charles Toto atau yang akrab disapa Chato menyebut selain  diolah menjadi papeda, sagu juga bisa dibuat menjadi kue kering. Bahkan dari riset terakhir yang dilakukan DR Satparining Wulan menurut Chato sagu juga sudah dibuat menjadi beras analog.

“Saya pikir jika beras ini bisa dikembangkan menggantikan beras asli maka sagu bisa  kembali bergeliat di Papua. Tapi ini bila diseriusi,” tambahnya.

Selain mulai tergusur sebagai makanan pokon masyarakat asli Papua, keberadaan tanaman sagu di Papua juga mulai tergusur.

Hutan atau dusun-dusun sagu di Papua, saat ini banyak beralih fungsi ke penggunaan lain seperti perkebunan, pemukiman dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan, keberadaan sagu sebagai salah satu sumber pangan orang Papua, makin terancam.

Dikutip dari www.mongabay.co.id, pada tahun 2018, Laboratorium Biologi dan Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua bekerjasama dengan Balitbangda Jayapura, memetakan luasan hutan sagu di Jayapura.

Luas Sentani Timur 437 hektar, Sentani 1.964,5 hektar, Waibu 138 hektar, Sentani Barat 74,6 hektar, Unurum Guay 277,3 hektar dan Demta 374,6 hektar. Ini belum termasuk Senggih, Kaure, Airu dan Benwa. Dusun-dusun sagu alam ini terancam alih fungsi.

Naftali Felle salah satu kepala suku di Kampung Abbar,  Sentani, Naftali Felle menyebut untuk wilayah Sentani di sebelah Utara sudah banyak dusun yang tergusur sedangkan di Puay hingga Donday dusun sagu masih terjaga.

“Solusinya adalah hutan sagu itu patut  dilindungi dan tak bisa menggunakan alasan atau kepentingan pembangunan. Pinggiran danau banyak dusun sagu memiliki fungsi penyerapan. Ingat bencana 16 Maret 2019 itu karena bagian utara di danau Sentani dusun sagu habis sehingga saat air naik tak ada penyerapan,” tuturnya.

Meskipun mulai tergusur, Naftali Felle melihat bahwa hingga kini sagu masih menjadi makanan pokok bagi masyarakat di Papua sehingga patut dipertahankan.

Untuk itu, Naftali Felle berharap pemerintah provinsi dan kabupaten perlu terus menginisasi lahirnya kelompok yang memang peduli soal pelestarian sagu,  sehingga keberlangsungan pohon ini bisa bertahan hingga anak cucu.

Sagu lanjut Naftali memiliki banyak fungsi, salah satunya menyerap air dan menjaga kelembaban tanah.

Disini pria yang juga menjabat sebagai Ketua Bamuskam ini menyinggung soal kejadian 16 Maret 2019 lalu, musibah yang menelan 100 lebih nyawa dimana salah satu penyebab air di Danau Sentani sulit untuk surut dikarenakan bagian utara Kabupaten Jayapura sudah mengalami kelangkaan pohon sagu.

“Saya pikir ketika sagu masih dalam posisinya tentu air saat banjir lalu bisa terserap lebih cepat dan terkait kondisi sekarang, saya berpendapat bahwa semangat menanam sagu harus digalakkan meski saat ini sudah ada beras,” tambahnya.

Lalu bagaimana dengan sagu yang bisa dihitung dari aspek status sosial. Naftali menyebut bahwa sagu yang dimaksud memang ada.

Dari jenisnya ada 29 secara keseluruhan dan sagu Ondo ini biasanya disuguhkan atau diberikan kepada anak  perempuan ataupun kepada kepala suku dan ondoafi. Sagu ondo sendiri biasa baru ditebang ketika seorang Ondoafi meminta.

“Ada sagu yang patut dibawa ke anak perempuan maupun ke Ondoafi, kepala suku dan  biasa disebut sagu Bara. Sagu ini kualitasnya bagus dan memiliki kekentalan dan ia berwarna merah. Dari sekian banyak jenis, sagu duri ini warnanya merah dan biasa untuk sosok yang dihormati,” tambahnya.

Untuk Kota Jayapura sendiri, Wali Kota Jayapura, DR. Benhur Tomi Mano, MM., membeberkan bahwa wajah Kota Jayapura yang dulunya sesak dengan hutan sagu. Mulai dari wilayah Kotaraja hingga Kali Acay, kokoh berdiri pohon-pohon sagu yang menjadi titik tumpu kehidupan masyarakat setempat pada masanya.

“Wilayah Kota Jayapura ini dulunya hutan sagu. Mulai dari Kotaraja sampai di Kali Acay itu semuanya berdiri pohon-pohon sagu. Masyarakat lokal hidup dari pohon-pohon sagu itu. Saya dibesarkan dengan makan sagu itu,” ungkap putra asli Port Numbay ini kepada Cenderawasih Pos, Rabu (23/6) lalu.

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman dan pembangunan daerah, sudah tak ada lagi pohon-pohon sagu yang dulunya menjadi sumber penghidupan masyarakat lokal Papua di Kota Jayapura.

“Yang tersisa hanyalah hutan sagu di wilayah Muara Tami. Makanya, Dinas Pertanian Kota Jayapura mengembangkan budidaya hutan sagu di Muara Tami. Ini harus kita lakukan karena sagu menjadi makanan khas orang Papua,”  jelasnya.

Wali Kota Benhur Tomi Mano memiliki mimpi besar agar Kota Jayapura dapat memproduksi dan mendistribusikan sagu maupun produk olahan sagu ke seluruh Indonesia, bahkan diimpor ke luar negeri.

“Kalau bisa ya kita produksi sagu. Masa di Kalimantan saja bisa, sedangkan kita tidak bisa melakukan itu. Jangan sampai sagu ini hilang karena tergerus pembangunan yang begitu pesat di wilayah Kota Jayapura,” pungkasnya.

Untuk menjaga kelestarian hutan sagu di Papua, Pemprov Papua sudah menjadikan sagu sebagai salah satu yang dilindungi. Terkait perlindungan terhadap sagu, Pemprov Papua sudah menetapkan Perda Provinsi Papua Nomor 3 Tahun 2000 tentang Pelestarian Kawasan Hutan Sagu dan Perda Provinsi Papua Nomor 27 Tahun 2013 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Pokok Berkelanjutan.

Selain Pemerintah Provinsi Papua, pelestarian sagu juga mendapat dukungan berbagai pihak.

Berbagai kelompok dan komunitas di Jayapura, berkomitmen bersama-sama melestarikan sagu. Mereka kemudian menggagas Hari Sagu yang diperingati setiap tanggal 21 Juni. Hingga tahun 2021, peringatan Hari Sagu sudah memasuki tahun ke-5.

Charles Toto dari Papua Jungle Chef juga pernah membuat petisi selamatkan hutan sagu Papua di Change.org yang dimulai 26 Maret 2019.

Pria yang sudah melanglang buana memperkenalkan kuliner khas Papua ini meminta Gubernur Papua dan Papua Barat segera membuat peraturan melindungi hutan sagu tersisa di Papua.

Menurut Chato, dengan peraturan gubernur, hutan sagu akan lebih terlindungi.(ade/gr/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *