Usia Produktif Terbanyak Gunakan Narkoba

Wali KOta Jayapura Dr Benhur Tomi Mano bersama Kapolres Jayapura Kota Kombes Pol Gustav Urbinas berjalan usai mengikuti perayaan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di kampung Nelayan Hamadi Jumat (25/6) kemarin.(GAMEL/CEPOS)

JAYAPURA – Penyebaran narkoba di Kota Jayapura nampaknya sudah berada pada lampu kuning atau peringatan kepada para orang tua untuk lebih mengamati pergaulan  anak – anaknya. Pasalnya dari data yang disampaikan BNN Provinsi Papua disebutkan jika usia belasanlah yang paling sering ditemukan sebagai pengguna narkoba khususnya jenis ganja. Usia produktif yang sepatutnya focus  mengenyam pendidikan namun terjebak pada buruknya pergaulan hingga menjadi aktif sebagai pengguna.

Hal ini disampaikan  Kepala BNN Provinsi Papua, Brigjend Pol Robinson D.P Siregar SH., S.IK diakhir kegiatan kampanye pagelaran seni, perang melawan narkoba di tengah pandemic yang dilaksanakan di Kampung Nelayan, Hamadi kemarin. Untuk kegiatan ini, Robinson menjelaskan bahwa Peringatan Hari Anti Nakoba  kali ini sekaligus dilakukan deklarasi guna mewujudkan Keluharan  Hamadi menjadi kelurahan Bersinar atau bersih dari Narkoba. “Kita ketahui bahwa Narkoba ini sudah masuk ke kampung atau desa sehingga kami sepakat dengan pemerintah Kota Jayapura untuk mewujudkan satu kampung bersinar. Untuk saat  ini masih Kelurahan Hamadi namun ada 5  kelurahan lain yang disiapkan,” beber Robinson kepada Cenderawasih Pos.

Ia menjelaskan, petugas kelurahan kampung nantinya akan melakukan pendataan soal mantan pecandu kemudian diberi keterampilan sehingga bisa lebih produktif. Para mantan pecandu ini juga akan dikawal agar menjadi influencer atau orang yang menjadi pelopor bagi warga lainnya mengajak untuk menjauhi narkoba. “Untuk mencegah masukya narkoba hingga ke kampung – kampung kami melakukan pencegahan yang pertama soft power dengan memberdayakan potensi masyarakat guna membantu BNN memerangi narkoba dan hard power kami difungsi pemberantasan, sweeping dan jika ditemukan kami tindak atau rehabilitasi. Yang terakhir adalah smart power  dimana kami bersinergi agar kampung – kampung bebas dari narkoba,” beber Brigjend Robinson.

Disini ia menjelaskan bahwa data BNN usia pengguna yang paling banyak adalah  usia 15-20 tahun dan usia 20 – 25 tahun. “Ini usia produktif dan kebanyakan hanya mencoba setelah ditawari, dampak dari  buruknya lingkungan dan pergaulan,” katanya. Bahkan kata Robinson ada juga anak SD yang ditemukan sudah pernah mengkonsumsi ganja. “Ia, ada anak SD,” akunya. Sementara untuk lokasi rehabilitasi rawat inap dan rawat jalan saat ini di Papua baru ditangani oleh LP2M khusus untuk anak sedangkan untuk dewasa di Papua belum ada. “Untuk dewasa rujukan masih di Paduka Sulawesi Selatan,” bebernya. Sementara Wali Kota Jayapura, DR Benhur Tomi Mano MM   secara tegas meminta agar aparatur kampung dan kelurahan ikut pro aktif membantu BNN menekan atau melakukan upaya pencegahan peredaran narkoba.

Jika ada ditemukan atau diketahui maka  diminta untuk langsung melapor. Selain itu Tomi Mano menyebut jika benteng terbaik untuk menghindari anak – anak dari dampak narkoba adalah perlunya peran keluarga. “Keluarga harus mengambil peran. Ajari anak bagaimana berperilaku  dan bergaul yang sehat, takut akan Tuhan harus diajarkan,” singkatnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *