Pembelian BBM Kembali Pakai Kupon 

Antrean pengisian BBM di APMS Lasminingsih yang setiap harinya padat dipenuhi kendaraan(Denny/ Cepos)

WAMENA– Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jayawijaya mulai kembali kepada teknik yang lama yakni dengan menggunakan kartu, bagi warga yang akan membeli BBM di APMS yang ada di Wamena. Hal ini, menyusul temuan pembagian BBM yagn tidak merata di setiap APMS dalam sidak yang dilakukan oleh Bupati Jhon R Banua, Kamis (24/6) lalu.

  Kepala Disnakerindag Jayawijaya Dr. Lukas Kosay, SE, MSi mengaku  untuk pendistribusian BBM kepada masyarakat di setiap APMS yang ada di Jayawijaya akan kembali ke teknik yang lama. Yakni,  menggunakan kartu atau kupon pengisian yang dikeluarkan Disnakerindag sesuai dengan Nomor kendaraan.

  “Jadi pengisian cukup satu kartu, supaya mengurangi pengantrean dan kita buat kartunya itu langsung sasaran ke APMS yang bersangkutan. Artinya untuk pengisian BBM kita bagi ke setiap APMS, sehingga tidak ada penumpukan di satu tempat saja,”ungkap Lukas via selulernya, Jumat (25/6) kemarin.

   Ia menyatakan  kendaraan yang dibagi ini, nantinya diberikan kartu yang tertera tempat pengisian BBM-nya, sehingga APMS yang bersangkutan tidak boleh melakukan penolakan terhadap kendaraan yang sudah diarahkan kesana. Sebab, di dalam kupon sudah tercantum bahwa pelayanannya, yang bersangkutan harus di APMS yang tertera dalam kupon.

  “Ini dilakukan agar pengisian BBM disetiap APMS itu merata, tidak boleh di satu APMS saja yang ramai sedangkan di tempat lain tidak,”bebernya.

   Kata Lukas sekalipun kuota BBM itu habis pada satu APMS, maka APMS itu diharuskan tetap melayani pada kuota berikutnya, kalaupun harus meminjam kuota dari APMS lainnya harus tetap diganti kembali, karena tiap kendaraan yang tertera pada satu AMPS pengisian BBMnya adalah tanggungjawab APMS itu sendiri.

  “Kadang kalau sudah terjadi penumpukan di satu APMS terjadi kemacetan, itu bukan karena dari kupon yang kita keluarkan sesuai pembagian itu, tetapi dia selalu terjadi di lapangan atau di tempat pengisian.”katanya

  Lukas Kosay memastikan jika telah memerintahkan personelnya untuk mengecek, dan alasan yang sering didapatkan adalah mesin yang bermasalah. Kedua, adalah pelayanan di sana yang terjadi harusnya dilayani dua kupon, tetapi mereka bisa melayani lima kupon per orang.

  “Itu persoalan yang terjadi di lapangan tanpa sepengetahuan kami, maka terjadilah pengantrean. kami sudah laporkan ke pimpinan untuk segera kita ubah sistem ini, mungkin kita akan menambahkan personel di masing-masing itu supaya pengawasan lebih ketat lagi.”tutupnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *