Pendidikan Inklusif Tidak Hanya bagi Anak Berkebutuhan Khusus Permanen

Kepsek SMAN I Merauke Sergius Womsiwor, S.Pd, M.Pd saat  menjadi pemateri Pendidikan inklusif pada launching dan beda buku dengan judul jalan terjal pemenuhan hak Pendidikan, karangan Wahdania Suwardi di aula Hotel Itese, Minggu (20/6).(Sulo/Cepos)

MERAUKE– Kepala Sekolah SMAN I Merauke  Sergius Womsiwor, S.Pd, M.Pd menegaskan bahwa pendidikan  insklusif   tidak hanya bagi anak yang berkebutuhan khusus  permanen  tapi juga bagi anak yang berkebutuhan khusus sementara.

   “Untuk Pendidikan inklusif ini  tidak hanya bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus  permanen yakni anak yang sejak lahir mengalami kecacatan misalnya tuna rungu,’’ kata  Sergius Womsiwor saat menjadi narasumber pada launching dan  bedah buku berjudul Jalan Terjal Pemenuhan Hak Pendidikan karangan  Wahdania Suwardi  di Aula Hotel Iteze Merauke, Minggu (20/6).

  Sergius Womsiwor juga mencontohkan anak-anak yang berkebutuhan  khusus sementara misalnya tingkah  seorang siswa ketika  guru  tidak masuk kelas. Dimana   anak tersebut akan menjadi pengacau dalam kelas. Namun Ketika ada guru  ia menjadi anak yang  penurut.

   “Itu juga termasuk berkebutuhan khusus sementara. Hanya sementara. Karena Ketika  guru masuk dia menjadi anak  penurut,” terangnya.

   Sergius juga menjelaskan bahwa memaksakan kepada siswa harus menguasai sejumlah konsep adalah salah. Ia  baru mengetahui  hal itu setelah banyak belajar tentang Pendidikan inklusif tersebut. “Salah karena anak  tidak mampu menguasai dalam sekejap. Karena banyak faktor yang mempengaruhi. Kita tahu karena ketika anak berada di dalam kelas, banyak masalah yang dihadapi karena masalah internal dan eksternal,” jelasnya.

   Faktor  internal dipengaruhi dari dalam dirinya, misalnya pada malam hari tidak bisa tidur dengan baik. “Kemudian ketika ke sekolah terlambat lagi,” jelasnya.

  Dikatakan, saat ini yang terjadi banyak anak-anak yang terjerumus dalam pergaulan bebas dengan menghisap lem aibon. Sementara Merauke beberapa waktu lalu  telah dicanangkan sebagai kota layak Anak. Namun  sarana dan prasarananya sendiri, lanjut  Sergius  Womsiwor sampai saat ini  tidak dipersiapkan. Untuk rumah singgah  anak-anak yang berkebutuhan  khusus tersebut sampai sekarang belum ada.

   “Anak-anak  yang telanjur kecanduan  lem Aibon tersebut apakah harus terus dibiarkan. Tentu tidak. Disini  negara harus berperan,’’ kata Sergius yang mengaku salah satu peran  yang dilakukan oleh SMAN I Merauke tersebut mencoba merangkul anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut ke dalam pendidikan inklusif. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *