Jalan Lingkar Lukmen Banyak Lewati Tempat Sakral

Pembukaan pembangunan Jalan Lingkar Lukmen yang dilakukan PT. Bina Karya Raya di Kampung Wara Distrik Pisugi, Jumat (18/6) pekan kemarin.(Denny/ Cepos)

WAMENA– Pemda Jayawijaya berharap kepada Pemerintah Provinsi Papua yang memiliki pekerjaan fisik di Wilayah  Jayawijaya seperti Jalan Lingkar Lukmen agar bisa melihat lokasi -lokasi yang dianggap sakral oleh masyarakat. Sebab   masalah ini yang membuat warga enggan melepas hak ulayat tanahnya.

  Wakil Bupati Jayawijaya Marthin Yogobi, SH, M.Hum mengatakan program jalan Lingkar Lukmen memang ada kontraktor yang sudah memulai usai mendapat izin pelepasan hak ulayat dari masyarakat adat setempat,  namun masih ada wilayah lain juga yang belum jalan pengerjaannya karena ini menyangkut dengan tempat -tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat yang tak biasa dilalui.

  “Jalan lingkar Lukmen adalah Program Pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Dinas PUPR Provinsi Papua sehingga kami berharap instansi terkait harus mengkaji itu secara baik karena akan melintasi wilayah yang dianggap masyarakat Baliem sebagai tempat keramat.”ungkapnya Sabtu (19/6) kemarin.

  Menurutnya, perlu ada diskusi dan solusi yang baik dengan masyarakat yang memiliki hak ulayat yang dilalui oleh program ini agar jalan Lingkar Lukmen di Kabupaten Jayawijaya  agar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Sebab sampai saat ini masih ada beberapa lahan masih enggan dilepaskan oleh masyarakat karena masalah ini.

  “Kita lihat saja masih ada beberapa tempat yang masih enggan untuk dilepaskan tanahnya karena ada wilayah yang dianggap keramat, hal seperti ini bisa menghambat pekerjaan itu sehingga perlu dikaji lagi dengan baik,”jelasnya.

  Ia juga menyatakan tempat yang dianggap keramat dari setiap suku -suku yang ada di lembah Baliem ini berbeda -beda dan banyak. Sebab, semua wilayah itu ada tempat keramat. Sementara program jalan lingka ini juga melalui beberapa distrik dan kampung yang ada di Jayawijaya.

  “Kami ingin pelaksana pekerjaan ini bisa melihat dan berkoordinasi secara baik dengan masyarakat agar pelaksanaan program ini tidak terhambat dengan masalah -masalah seperti ini,”bebernya.

  Sementara untuk pembangunan tugu, kata Wakil Bupati Jayawijaya, sampai saat ini belum bisa dibicarakan karena harus melihat titik sentral lembah Baliem seperti apa dan dimana. Itu yang penting, karena tidak bisa memasang tugu di sembarang tempat, tetapi harus dilihat pusat dari lembah baliem ini ada dimana.

  “Tidak harus titik mulainya pembangunan jalan lingkar Lukmen ini menjadi pusat untuk pembangunan sebuah tugu, namun yang harus dilihat itu dimana pusat dari Kabupaten ini itu yang terpenting agar tidak menjadi masalah dalam masyarakat,”katanya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *