Pemberdayaan Petani Melalui Pengembangan Teknologi Irigasi Sumur Renteng Sebagai Solusi Pertanian Lahan Kering di Distrik Walelagama

Foto: Pembangunan irigasi sumur rentang di distrik Walelagama Kabupaten Jawijaya

Oleh: Tim Pelaksana Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Petra Baliem Wamena

Sumiyati Tuhuteru, S.P., M.Sc. Anti Uni Mahanani, S.P., M.P., Rein Edward Yohanes Rumbiak, S.Kom. M.MSI, Endius Tabuni dan Melson Siep

Papua merupakan dataran terluas di Indonesia yang terletak di ujung timur Indonesia. Namun, sejauh ini pemanfaatan lahan belum secara maksimal dilakukan. Saat ini yang menjadi salah satu agenda global negara di dunia ketahanan pangan dan kemiskinan, karena ketahanan pangan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi proses pembangunan. Kegagalan dalam pencapaian ketahanan pangan akan diidentikkan dengan kemiskinan dan kondisi rawan pangan. Karena itu, masalah ketersediaan pangan memerlukan penanganan yang serius, terencana, dan hati-hati. Hal ini dapat terjadi dan berlangsung lama di daerah-daerah yang minim infrastruktur bahkan sumber daya manusia, seperti contoh di Distrik Walelagama Kabupaten Jayawijaya yang merupakan Distrik dengan kehidupan sosial yang beragam dan mayoritas mata pencaharian sebagai petani yang hanya mengandalkan alam, dimana proses penyiraman tanaman  tidak pernah dilakukan karena masyarakat setempat hanya bergantung pada hujan. Begitupun dengan pemanfaatan lahan pertanian yang dilakukan sejauh ini dengan cara ladang berpindah untuk setiap musim tanam. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengembalikan kesuburan tanah yang telah terkuras selama satu musim tanam (sekali panen).

Salah satu penanganan ketersediaan pangan adalah pembangunan saluran irigasi. Oleh karena itu, komitmen pemerintah atas ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat menjadi tema sentral dalam rangka kegiatan pembangunan (Sudirja, 2008). Air merupakan salah satu input pertanian yang sangat penting. Sumber air permukaan sampai saat ini menjadi andalan untuk penyediaan air irigasi. Namun tidak semua daerah yang memiliki lahan pertanian dapat dilayani dengan irigasi teknis yang bersumber dari air permukaan tersebut. Keberadaan air tanah tidak dibatasi oleh batas administrasi suatu daerah, sehingga pengelolaan sumber daya air tanah memerlukan pemikiran yang luas, holistik, dan komprehensif. Pada saat ini pemanfaatan air tanah cenderung meningkat sehingga perlu adanya peningkatan dalam usaha konservasi dan pengelolaannya. Pemanfaatan air tanah untuk irigasi di Indonesia relatif belum memberikan manfaat yang maksimum, diantaranya diperlukan upaya peningkatan kinerja jaringan irigasi air tanah (Prastowo, 2007). Salah satunya melalui pembangunan saluran irigasi.

Pembangunan saluran irigasi untuk menunjang penyediaan bahan pangan nasional sangat diperlukan, sehingga ketersediaan air di lahan terpenuhi walaupun lahan tersebut berada jauh dari sumber air permukaan (sungai). Hal tersebut tidak terlepas dari usaha teknik irigasi yaitu memberikan air dengan kondisi tepat mutu, tepat ruang, dan tepat waktu dengan cara yang efektif dan ekonomis (Sudjarwadi, 1990).

Pemanfaatan sumber daya lahan/tanah secara optimal, seimbang, dan berkelanjutan perlu disesuaikan dengan kondisi dan sifat-sifat sumber daya lahan tersebut serta kondisi lingkungan, dan tidak mendapat hambatan karena faktor fisik dan lingkungan. Di Wamena, sumber daya lahan pertanian berperan sebagai penghasil pangan serta sumber pendapatan petani dan daerah, sehingga upaya untuk mengembangkan pertanian perlu dilakukan. Mengingat sebagian besar masyarakat Wamena masih menggantungkan kehidupannya pada sumber daya lahan dan lingkungan maka usaha pengembangan pertanian secara tidak langsung juga meningkatkan taraf hidup, pendapatan, dan kesejahteraan mereka. Memanfaatkan potensi sumber daya lahan daerah ini secara terarah dan terpadu berpeluang menumbuhkan pusat pertanian organik yang selama ini telah diterapkan.

Namun, permasalahan yang dihadapi petani secara umum adalah belum adanya pembangunan irigasi terkait sistem pertanian organik yang telah diterapkan selama ini, yang dapat menjawab permasalahan terkait kebutuhan air tanaman di musim kemarau. Hal ini didukung oleh rendahnya sumber daya manusia akibat minimnya pengetahuan yang dimiliki. Sistem pertanian yang diterapkan sejauh ini hanya mengandalkan alam semata dan pada umumnya terjadi tanpa campur tangan manusia selain hanya saat proses penanaman. Proses penyiraman tanaman tidak pernah dilakukan karena petani hanya mengandalkan hujan (bersifat tradisional). Bahkan penampungan air berupa embung pun tidak ditemukan dilapangan. Tanaman yang ditanam hanya Ubi jalar, Keladi/Talas dan Ubi Kayu, yang diketahui merupakan tanaman yang tahan akan kondisi kekurangan air. Sedangkan untuk penanaman seperti wortel, kentang, bawang merah, stoberi, labu siam, kol, seledri, brokoli dan sebagainya ditanam hanya saat musim penghujan.

Kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan air tanaman sebagai faktor utama bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dibandingkan dengan pemanfaatan air hujan, serta sistem irigasi yang dapat membantu dalam meningkatkan kecukupan air tanaman dalam sistem pertanian organik yang telah diterapkan petani selama ini, yakni melalui teknologi irigasi sumur renteng. Sehingga, permasalahan kebutuhan air yang sejauh ini teratasi dengan curah hujan yang meningkat dapat diminimalisir bahkan ditiadakan dengan adanya pembuatan sumur renteng pada lahan pertanian milik petani setempat. Diketahui bahwa, Wamena termasuk wilayah dengan tingkat curah hujan tinggi, yakni rata-rata 1.900 mm dalam setahun dan dalam sebulan terdapat ± 16 hari hujan  yang dijadikan solusi keterbatasan air (BPS, 2018).

Pada umumnya sistem pertanian di Distrik Walelagama mengandalkan hujan yang turun, sedangkan diketahui bahwa tanaman membutuhkan penyiraman rutin. Hal ini terkait dengan produktivitas tanaman yang dibudidayakan terutama untuk kelompok tanaman pangan, seperti padi, jagung dan tanaman hortikultura lainnya. Untuk itu perlu dilakukan sebuah studi terhadap metode alternatif dalam memaksimalkan pemanfaatan air pada saat musim hujan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman melalui adanya penyimpanan air atau teknologi irigasi yang dapat membantu petani setempat.

Pembuatan sumur renteng di tujukan untuk membantu petani dalam menyuplai air bagi kebutuhan tanaman, terutama untuk daerah yang memiliki potensi sumber daya lahan yang belum memiliki infrastruktur yang memadai. Selain itu, pembuatan teknologi irigasi sumur renteng juga digunakan dalam menyuplai kebutuhan air tanaman tanpa adanya masa bero pada lahan petani karena harus menunggu musim penghujan serta digunakan sebagai referensi untuk perencanaan operasi irigasi di lokasi lainnya.

Ucapan Terima Kasih:

Kami mengucapkan terima kasih kepada Direktoran Riset dan Pengabdian Masyarakat yang telah memfasilitasi secara finansial  kebutuhan dan kepentingan pengabdian ini yang diumumkan melalui surat edaran No. B/124/E3/RA.00/2021 dan kontrak pelaksanaan pengabdian masyarakat No. T/37/LL14/KS/PG/2021

Wamena, 14 Juni 2021

Tim Pelaksana Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat

Referensi:

BPS, (2018). https://jayawijayakab.bps.go.id/

Prastowo. (2007). Pengembangan Model Rancangan Irigasi Tetes Pada Sistem Irigasi Air Tanah Dangkal yang Berkelanjutan Di Kabupaten Nganjuk – Jawa Timur. Disertasi. Institut Pertanian Bogor.

Sudirja, R. 2008. Mewujudkan Kedaulatan Pangan Melalui Kebijakan Pengelolaan Lahan Pertanian Pangan. Makalah dalam Seminar Regional Musyawarah Kerja Badan Eksekutif Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Indonesia Wilayah II, Gedung Student Centre Faperta Unpad‐Jatinangor, 29 Januari 2008. Bandung.

Sudjarwadi. 1990. Teori dan Praktek Irigasi. Pusat Antar Universitas Ilmu Teknik. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Sumber Gambar: Milik Pribadi, 2021

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *