Intens Persiapkan Pembukaan Pintu PLBN Skouw

Kepala Badan Pengelola Perbatasan dan Kerja Sama Provinsi Papua, Suzana Wanggai, didampingi Konsulat RI di Vanimo, PNG, Allen Simarmata, dalam BLOM di PLBN Skouw, di Wutung, Kota Jayapura, (20/5) lalu.(Gratianus silas/cepos)

JAYAPURA– Dengan akan dibukanya pintu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw di Wutung, Kota Jayapura, pada 22 Juni nantinya, Pemerintah Provinsi Papua terus melakukan komunikasi dan koordinasi bersama Pemerintah Pusat terkait hal-hal teknis dalam merealisasikan kesepakatan yang dibuat dalam Border Liaison Officer Meeting (BLOM) bersama Pemerintah Papua Nugini, dalam hal ini perihal pembukaan pintu perbatasan untuk kepentingan aktivitas perekonomian.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan dan Kerja Sama Provinsi Papua, Suzana Wanggai, menyebutkan bahwa Pemerintah Provinsi Papua terus melakukan komunikasi dan koordinasi bersama Pemerintah Pusat, mengingat pintu perbatasan yang akan dibuka pada 22 Juni mendatang.

“Kita baru selesai rapat. Intinya, kita akan mengatur mekanisme alurnya seperti apa. Pasalnya, kita buka bukan di masa normal, melainkan di masa pandemi, sehingga kita atur secara baik. Nanti kita rapat lagi dengan pemerintah pusat untuk bagaimana pengaturannya secara teknis,”

Namun, kata Wanggai, selain hal yang bersifat teknis, secara umum, persiapan Pemerintah Indonesia sudah siap untuk kembali membuka pintu perbatasan di Wutung Kota Jayapura, untuk kepentingan perdagangan/ekonomi.

“Hal-hal yang signifikan akan dikomunikasikan dan koordinasikan terus bersama pemerintah pusat. Namun, pada dasarnya, garis besar kesepakatan RI – PNG dalam BLOM tetap berjalan,”

Diketahui, dalam BLOM yang digelar di PLBN Skouw RI – PNG pada 20 Mei lalu, Pemerintah Indonesia dan Papua Nugini bersepakat untuk kembali membuka pintu perbatasan untuk menjalankan aktivitas perekonomian.

Pemerintah Indonesia menyetujui usulan Pemerintah Papua Nugini tentang perdagangan di wilayah perbatasan yang dilakukan tiga hari dalam seminggu, yakni Senin, Rabu, dan Jumat, agar terjadi jual-beli produk PNG oleh warga RI, khususnya produk vanilla.

Sedangkan Pemerintah Papua Nugini menyetujui usulan Pemerintah Indonesia agar pintu perbatsan yang dapat kembali dibuka dua kali seminggu pada Selasa dan Kamis untuk masa uji coba selama satu bulan, untuk kepentingan aktivitas ekonomi di wilayah berbatasan RI – PNG, di Wutung, Kota Jayapura.

Ditambahkan Diakui perputaran uang di daerah perbatasan ini cukup tinggi dimana dalam sebulan bisa mencapai puluhan miliar.

Dari “mati” nya pasar perbatasan ini menurut Kepala Badan Perbatasan RI-PNG, Suzana Wanggai pelan – pelan pemerintah mencoba menghidupkan kembali. Saat ini  di PNG kata Suzana pasar perdagangan masih dikuasai oleh Malaysia dan  China namun Indonesia diyakini belum terlambat untuk masuk bersaing. “Untuk perputaran  uang yang lalu – lalu memang tinggi namun saat ini total tidak ada. Kalau situasi normal angkanya sangat luar biasa, bisa mencapai puluhan miliar tiap bulannya namun kini pasarnya mati namun tidak mungkin kita diam dan PNG juga tidak mau diam,” jelas Suzana menjawab pertanyaan Cenderawasih Pos di Waena, Rabu (9/6).

Ia juga meluruskan pandangan bahwa salah jika menganggap selama ini PNG tergantung pada  pasar di Indonesia sebab Indonesia  sejatinya juga bergantung pada PNG terutama pada aktifitas jual beli. . “Yang  jelas kalau normal perputaran uang ini bisa mencapai puluhan miliar dan itu sangat menjanjikan. Kami pelan – pelan coba mencari terobosan bagaimana agar pintu perdagangan bisa kembali dihidupkan,” imbuhnya.

“Saya pikir kita (Indonesia) belum terlambat mengambil peluang untuk bisa membuka kerjasama yang saling menguntungkan dan pelan – pelan Indonesia juga menyiapkan strategi untuk bisa mengambil peluang menguasai pasar asia pacific karena saat ini  pasar negara PNG masih dikuasai oleh Malaysia dan China. Saya yakin ada pertimbangan dan strategi yang akan dilakukan untuk menumbuhkan pasar perbatasan tadi,” imbuhnya. (gr/ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *