Bokondini Kembali Ukir Peradaban Baru

Siswa/siswi SMA Ob Anggen foto bersama usai penamatan di SMA Ob Anggen, di Distrik Bokondini, Kabupaten Tolikara, Jumat (21/5) lalu.(Diskominfo Tolikara)

*Bupati Usman Wanimbo Hadiri Penamatan Siswa SMA  Ob Anggen Internasional

BOKONDINI-Sekolah Ob Anggen Internasional merupakan salah satu sekolah warisan misionaris Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Yapelin yang ada di Distrik Bokondini, Tolikara.

Di sekolah ini ada kelas life skill dan bahasa Ingris, mekanik, jaringan listrik dan belajar bertani. Namun yang lebih penting dari itu ada kelas pemuridan untuk mengembleng moral dan akhlak siswa/i sesuai ajaran Nasrani.

Bupati Tolikara, Usman G. Wanimbo, SE., M.Si., menghadari acara penamatan siswa/siswi SMA Ob Anggen yang dinyatakan lulus 100 persen, Jumat (21/5) lalu.

Dalam sambutannya, Bupati Usman Wanimbo, memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pengurus Sekolah Ob Anggen bersama dewan guru yang telah mendidik peserta didik mulai dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA. Bahkan telah sukses menamatkan siswa/i SMA berstandar internasional.

Dengan adanya penamatan ini, Bokondini menurut Usman Wanimbo kembali membuat sejarah atau peradaban baru.

“Bokondini telah membuat dua peradaban di dua masa yang berbeda. Dulu Bokondini menjadi kota Injil dan saat ini Bokondini kembali mengukir peradaban baru dengan menamatkan siswa/i berstandar internasional.  Apa yang sudah dibagun di Bokondini ini, patut dikembangkan dan tentu membuat Tolikara  beranjak lebih maju di bidang pendidikan,” ungkap Bupati UsmanWanimbo dalam rilis yang diterima Cenderawasih Pos dari Diskominfo kabupaten Tolikara, Kamis (10/6).

Dikatakan, pemilihan nama Ob Anggen bukan tanpa arti. Ob Anggen mengandung arti dalam bahasa Suku Dani Ob artinya bagus, dan Anggen artinya buah. Untuk itu, diberi nama Ob Anggen yang mengandung arti buah bagus.

Sekolah Ob Anggen resmi berdiri sejak 12 tahun yang lalu tepat pada tahun 2007. Tercatat sebagai kepala sekolah pertama hingga sampai sekarang adalah Friskillah Sawen, dibantu beberapa tenaga guru yang masih aktif mengajar.

Guru-guru tersebut berasal dari pendidikan guru. Namun ada juga ada beberapa guru bukan lulusan sekolah guru, di antaranya  sebagai misionaris atau penginjil dari GIDI.

Hal yang paling berkesan dari sekolah Ob Anggen yang diakui Kepala Sekolah Ob Anggen, Friskilah Sawen yaitu pasti selalu ada guru di kelas  untuk siap mengajar dan ada  kelas life skill.

Di dalam kelas life skill ini menurut Friskilah Sawen, peserta didik belajar mekanik dan listrik, termasuk bagaimana bertani. Untuk itu,  guru dan siswa belajar bersama-sama.

“Lebih penting dari itu adalah sekolah Ob Anggen mau bekerja sama dengan orang tua siswa. Meski sulit dari semua yang sudah kita dilakukan ini, kami berusaha berbuat untuk memenuhi standar sekolah internasional,” ucap Friskilah Sawen.

Friskilah Sawen mengungkapkan,  biaya operasional sekolah menjadi persoalan yang tidak mudah dikelola. Dimana  pihaknya tidak bisa menggantungkan pemasukan dari orang tua siswa saja. Karena banyak orang tua tidak mampu.

“Setiap bulan, kami selalu pontang-panting mencari uang untuk membayar gaji guru. Belum lagi harus membantu kekurangan anggaran sekolah yang mencapai puluhan juta. Meski banyak kendala, para guru tetap memelihara semangat pengabdian,” tegasnya.

Meski jauh dari ibukota kabupaten, Sekolah Ob Anggen merupakan sekolah unggulan. Banyak orang tua berebut menyekolahkan anaknya di tempat ini. “Untuk itu, kami mengutamakan cinta kasih, walau orang tua siswa kurang mampu, asal anak punya niat sekolah,” tandasnya.

Untuk mengatasi kekurangan biaya, komite sekolah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tolikara yang memberikan  bantuan sekolah. Berkat bantuan itu, Sekolah Ob Anggen bisa menampung anak-anak kurang mampu dari Distrik Bokondini dan sekitarnya.

Bahkan dengan bantuan dana sekolah, anak-anak Sekolah Ob Anggen bisa fokus belajar dan meraih prestasi. Hasilnya, Sekolah Ob Anggen beberapa kali mampu ikut ujian internasional dari Distrik Bokondini karena di sekolah ini sudah dilengkapi jaringan internet.

“Siswa yang tamat di SMA Ob Anggen berjumlah 5 orang. Sementara ratusan siswa/i masih aktif belajar  baik dari TK, SMP dan SMA. Seperti anak-anak pada umumnya, kadang para siswa ada yang bandel susah diatur. Namun kami bawa anak-anak ini ikut kelompok pemuridan untuk diarahkan sesuai ajaran Firman Tuhan Yesus di dalam kitab suci Alkitab. Mereka mengikuti bimbingan itu,” tuturnya

Diakuinya, setiap hari sebelum memulai pelajaran di kelas, para siswa dibiasakan berdoa bersama. Sebelum pulang pun dibiasakan untuk berdoa pulang dan dimintai berdoa bergilir. Semua siswa  beragama Kristen Protestan sehingga moral siswa digembleg dengan ajaran Tuhan Yesus.

Ditambahkan, kesan yang sama juga diakui para guru dimana ada komunitasnya yang selalu mendukung.  “Paling penting adalah kita bisa bertumbuh menjadi seseorang yang lebih baik. Dan rekan lain juga mengakui hal yang paling disukainya adalah kelompok pemuridannya dimana melalui ajaran Tuhan Yesus di dalam Alkitab dan lingkungannya selalu mendukung untuk bertumbuh menjadi seseorang yang kuat,ramah,dan rendah hati,” pungkasnya

Sementara itu siswa Ob Anggen mengaku hal yang paling disukai di sekolah Ob Anggen adalah guru-guru yang selalu setia mengajar. Hal lainnya yaitu mereka bisa belajar berkelompok dan belajar ajaran Tuhan Yesus. (Diskominfo Tolikara/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *