Segera Rapat Terpadu Bahas Kondisi Hutan Kota

Upaya penanaman pohon yang dilakukan warga  Kota Jayapura dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni yang digelar di Bukit Frembi Entrop Sabtu (5/6) lalu. Meski upaya penanaman terus dilakukan namun pemerintah kota mencatat banyak lokasi hutan yang juga dirusak.(Gamel Cepos)

JAYAPURA  Wali Kota Jayapura, DR Benhur Tomi Mano MM nampaknya ikut memantau perkembangan kondisi hutan di kota yang dianggap sudah mengkhawatirkan. Laju perambahan dan deforestasi seperti sulit dielakkan. Alasan ekonomi selalu yang dikedepankan  oleh para pelaku sementara jika lingkungan rusak dan terjadi bencana tentunya akan berdampak pada sistem perekonomian yang lebih luas. Banjir bandang di tahun 2015 dan 2019 menjadi contoh konkrit bagaimana lumpuhnya ekonomi saat itu.

Terkait ini Tomi Mano menyatakan akan segera melakukan rapat terpadu dengan para pemangku kebijakan dan stakeholder untuk dicarikan solusinya. Ia menginginkan hutan kota tetap terjaga dan tak ada alasan untuk membiarkan terus rusak. “Saat ini kita menanam tapi saya juga melihat masih ada ada oknum – oknum yang masih saja tidak paham dan tidak mau peduli dengan kondisi hutan Kota Jayapura. Saya ambil contoh kondisi hutan di Pasir VI Jayapura Utara disana hutannya  mulai rusak, sama seperti di Angkasa, banyak kayu dan pohon ditebang dan dijadikan lahan berkebun,” kata Tomi Mano di sela – sela kegiatan penanaman di Entrop, Sabtu (5/6).

Untuk Pasir VI kata Tomi Mano ia sudah melihat langsung ke lokasi dan mendengar kabar bahwa selain merusak hutan ada juga tindak criminal yang sering terjadi seperti pemalakan. “Jadi kalau pemerintah turun tangan saya pikir tidak bisa tetapi harus ada TNI Polri sebab ada perlawanan yang dilakukan masyarakat. Disana hutannya  yang dibabat dan dirusak  oleh mereka yang ingin mendapatkan uang dengan cepat. Terkait ini ia menyatakan akan segera melakukan rapat koordinasi dengan sebagai komponen agar jangan terjadi musibah dulu baru dilakukan pembenahan.

“Saya juga melihat sudah ada pembangunan gereja disana termasuk banyak kebun nenas dan bisa dibilang sebagian besar kondisi hutannya rusak sebab saya sudah sampai disana. Kalau mau dibilang banyak bangunan di Pasir VI yang tak memiliki IMB juga dan saya minta mereka tertib sebelum ada penegakan hokum dan kepada pemilik ulayat saya berharap tidak melepas sembarangan karena nanti tak ada tempat untuk anak cucu,” pungkasnya. “Secepatnya saya juga minta dinas lingkungan hidup untuk segera rapat menangani kondisi hutan kota sebab dulunya pasir VI dan Angkasa pohon soang ukurannya besar -–besar tapi sekarang  soang semakin sulit. Jangan sampai air juga akan sulit,” pungkas Tomi Mano. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *