Kontak Tembak TNI-Polri dengan KKB, Tiga Warga Sipil Tewas

Aparat gabungan TNI-Polri saat mendengarkan arahan pasca kontak tembak antara aparat TNI-Polri dengan KKB di Ilaga, Jumat (4/6). ( FOTO:Humas Polda Papua for Cepos)

Tiga Lainnya Luka-luka

JAYAPURA-Konflik senjata antara Aparat TNI-Polri dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Puncak belum berakhir. Dalam kontak tembak yang terjadi di Kampung Nipuralome, Distrik Ilaga, Kamis, (3/6) malam, tiga warga sipil dilaporkan tewas tertembak dan tiga lainnya mengalami luka-luka.

Tiga orang yang tewas dalam kontak tembak antara aparat TNI-Polri dan KKB yaitu kepala Kampung Niporolome, Patianus Kogoya, isteri kepala Niporolome, Patena Murib dan Nelius Kogoya (data lengkap lihat grafis).

Selain mengakibatkan tiga warga sipil tewas dan tiga lainnya luka-luka, dalam kontak tembak tersebut, KKB dilaporkan membakar beberapa fasilitas di Bandara Aminggaru, Ilaga, Distrik Omukia. Fasilitas yang dibakar di antranya, bangunan ATC dan ruang tunggu bandara. KKB juga dilaporkan membakar satu unit alat berat excavator dan bangkai pesawat rusak yang mangkrak di area bandara.

Warga yang berkumpul di depan Polres Puncak menanyakan keluarga mereka yang meninggal, Jumat (4/6). ( FOTO:Humas Polda Papua for Cepos)

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri menyampaikan, pihaknya belum bisa memastikan para korban yang meninggal terkena peluru siapa. Namun atas permintaan masyarakat setempat, jenazah dibawa ke Kampung Nipurolome dan dilakukan pembakaran secara adat.

“Ada orang yang membawa lari senjata dan masuk ke dalam kerumunan warga, sehingga terjadi kontak tembak antara kelompok ini (KKB-red) dan anggota,” ungkap Kapolda Mathius Fakhiri kepada wartawan, Jumat (4/6).

KKB yang terlibat kontak tembak dengan aparat serta melakukan pembakaran fasilitas di Bandara Aminggaru menurut Mathius Fakhiri merupakan kelompok pimpinan Lekagak Telenggen. Saat ini, pasca kontak tembak personel SatgasNemangkawi sedang melakukan barometer guna mengantisipasi kelompok ini kembali lagi.

“Kita tetap siap untuk melakukan pengamanan di Kabupaten Puncak khususnya di Ilaga yang merupakan ibukota Kabupaten Puncak. Kita tidak tinggal diam. Kita tetap melakukan pengejaran terhadap kelompok ini,” tegasnya.

Dikatakan, dengan perbuatan yang kerap dilakukan oleh KKB, sudah jelas  menyengsarakan saudaranya sendiri. Selain itu, ulah KKB ini menurut Mathius Fakhiri, juga membuat trauma dan ketakutan di tengah warga yang ada di kampong-kampung.

“Karena dia (KKB-red) lari berlindung di saudaranya, sehingga ada saudaranya yang menjadi korban nyawa maupun korban luka luka. Saya mau masyarakat bangkit kesadarannya untuk melawan kelompok ini,” pintanya.

Kontak tembak yang terjadi di Puncak sejak Kamis (3/6) dan Jumat (4/6) kemarin, membuat warga di beberapa kampung di Kabupaten Puncak memilih mengamankan diri ke Ilaga. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *