Sentuhan Kemanusiaan di Daerah Konflik juga Salah Satu Implementasi Nilai Pancasila

Martinus Mabel.( foto: Yewen/Cepos)

Tokoh Pemuda Papua  Tentang Hari Lahir Pancasila

Pancasila merupakan landasan dan ideologi bagi bangsa dan negara. Tak hanya itu, Pancasila memiliki nilai-nilai yang terus mempersatukan perbedaan yang ada di seluruh nusantara. bagaimana implementasi Pancasila selama ini di tanah Papua ?

Piter Gusbager, S.Hut, MUP. ( foto: Yewen/Cepos)

Laporan: Robert Yewen

Tanggal 1 Juni telah ditetapkan sebagai hari khusus untuk memperingati lahirnya salah satu pilar negara yang paling penting, yaitu Pancasila. Pancasila merupakan “roh” dari  bangsa Indonesia.

Tonggak dimulai sejarah Hari Lahir Pancasila adalah saat Sukarno menyampaikan pidato dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945. Pidato Bung Karno tersebut yang akhirnya dirumuskan menjadi Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Pancasila terdiri dari lima sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden RI, Ir. H Joko Widodo dalam periode pertama telah menetapkan hari raya Pancasila sebagai libur nasional. Hal ini sebagai bukti komitmen negara dalam menghargai dan menghormati serta ikut memperingati perjuangan para pahlawan dalam melahirkan Pancasila sebagai pilar penting dalam kehidupan bernegara dan berbangsa yang ada di seluruh tanah air Indonesia.

Kelima sila ini merupakan pedoman yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat mulai dari Sabang sampai Merauke. Tak heran implementasi kehidupan bermasyarakat ini terlihat juga dalam kehidupans hari-hari di bumi cenderawasih (Papua ).

Secara khusus untuk Papua , Pancasila menjadi salah satu pilar yang selama ini mengisi kehidupan bermasyarakat, sehingga terwujudnya nilai-nilai toleransi, kemajemukan, saling menghargai dan menghormati serta hidup aman dan damai dalam perbedaan suku, ras, agama yang ada di Papua .

Salah satu tokoh pemuda yang kini memimpin Kabupaten Keerom Piter Gusbager, S.Hut, MUP mengungkapkan bahwa implementasi Pancasila di tanah Papua  tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, seluruh daerah di Indonesia silakan datang dan belajar di Papua .

Keerom daerah yang dipimpinnya sendiri merupakan salah satu laboratorium mini di tanah Papua . Di mana nilai-nilai seperti hidup dalam kemajemukan, keberagaman, bersatu dan menjaga toleransi terus dibangun dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Papua  saat ini.

“Bicara Pancasila adalah bagaimana mewujudkan sila-sila dalam kehidupan sehari-hari bagaimana Ketuhan Yang Maha Esa, Persatuan Indonesia dan Keadilan Sosial dan lain sebagainya kita harus memulai dari rumah dalam keluarga, RT/RW, kelurahan, distrik dan seterusnya di seluruh kabupaten,” ungkapnya.

Mantan dosen Univesitas Negeri Papua  (Unipa) ini menambahkan, Pancasila harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di daerah, nilai-nilai universal harus menjadi penyemangat, sehingga tetap saling menghargai, menghormati, mencintai dan bersatu untuk membangun kabupaten/kota yang ada di Papua .

“Saya minta generasi muda harus berdiri paling depan untuk menjadi pelopor dalam menjaga dan merawat nilai-nilai Pancasila di tanah Papua ,” pintanya.

Yulianus Dwaa, S.Km

Sementara itu, Ketua Aliansi Papua  Penuh Damai (Papeda), Yulianus Dwaa mengatakan, Pancasila merupakan ideologi bagi bangsa dan negara yang mampu menyatukan perbedaan. Oleh karena itu, Pancasila harus terus menjadi landasan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis kedepannya.

“Pancasila adalah landasan kita bersama dalam membangun kehidupan yang toleransi, saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lainnya di Indonesia, khususnya di Papua ,” ucapnya.

Senada dengan itu, mewakili Organisasi Cipayung, Ketua PMKRI Cabang Jayapura, Martinus Mabel mengatakan, secara umum toleransi antara umat beragama dan sesama sangat baik di Papua . Tidak hanya itu, kepedulian terhadap bencana alam yang selama ini terjadi juga sangat nampak di Papua .

Meskipun demikian, menurut Martinus masih ada nilai-nilai Pancasila yang belum berjalan di Papua, seperti bencana kemanusiaan di beberapa daerah, misalnya Intan Jaya dan Nduga yang seharusnya mendapatkan perhatian. Hal inilah yang harus diperhatikan kedepannya. “Bencana kemanusiaan di daerah konflik seperti Intan Jaya dan Nduga perlu mendapatkan sentuhan, karena ini merupakan implementasi dari nilai Pancasila yang sesungguhnya,” ucapnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *