Keberadaan Kian terancam, Perlunya Kesadaran untuk Ikut Lindungi Penyu

Kampung Skouw  Mabo yang Dijadikan Tempat Konservasi Penyu (Bagian 1)

Melestarikan penyu hingga dapat disaksikan oleh anak cucu, mendorong Kelompok Konservasi Penyu di Skouw  tekun mengumpulkan telur penyu untuk di tetaskan.

Laporan: Yohana

Penyu, salah satu spesies hewan yang mulai langka di dunia, binatang amphibi ini telah ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi, mengingat penyu banyak diburu oleh manusia.

Penyu sendiri dikenal sebagai hewan dasar laut yang jarang sekali naik ke permukaan laut, selain naik ke permukaan laut untuk bernapas, karena penyu diketahui bernapas menggunakan paru-paru, penyu atau yang disebut dengan kura-kura laut ini  naik ke permukaan laut pastinya untuk bertelur di pesisir pantai.

Di Kota Jayapura Penyu-penyu mempunyai tempat tersendiri untuk bertelur yakni di Pantai Skouw Mabo Distrik Muara Tami.

Menurut Ketua Konservasi Penyu di Kampung Skouw  Mabo, Apner Pai menjelaskan, dirinya bersama anggota kelompok Konservasi Penyu mulai melindungi telur-telur penyu sejak 8 Maret 2014.

Hal ini dilakukan, karena kesadaran penuh untuk melestarikan hewan dasar laut ini, agar dapat disaksikan anak-cucu turun, temurun, mengingat spesias satu ini sudah mulai langka dijumpai masyarakat umum.

Memang untuk melihat pergerakan penyu atau yang sering dikenal dengan sebutan kura-kura laut ini tidak gampang, karena hewan tersebut merupakan hewan dasar laut yang selalu berkelana menjelajahi seluruh bumi termasuk juga Papua.

“Kami sadar betul akan pentingnya melestarikan hewan tersebut dari kepunahan, kami sudah melepaskan 10.200 ekor tukik atau anak penyu dari 2014-2018 (untuk penyu pipih), sementara penyu belimbing telah dilepas 1.200, dan penyu tempayang baru 200 ekor,” jelasnya.

  Untuk proses bertelur penyu dimulai dari Januari – September, satu ekor penyu bisa naik 3 kali untuk bertelur, yang mana satu kali bertelur selisi waktu untuk seekor penyu sekitar 14 hari untuk penyu tersebut naik ke daratan lagi untuk bertelur kedua kalinya dan seterusnya hingga 3 kali bertelur.

Sekali bertelur biasanya para warga yang telah bergabung menjadi anggota Konservasi Penyu, mengumpulkan telur penyu setiap malam namun tidak setiap hari, itu pun para warga khususnya orang-orang tua di Kampung. Skouw  Mabo ini membaca tanda dilangit, yakni awan  hitam menyerupai bentuk penyu berarti pertanda bahwa penyu tengah naik untuk bertelur.

“Tanda seperti ini biasanya tidak akan salah, jadi kalau sudah melihat awan hitam menyerupai bentuk penyu, di ujung gunung Cycloop maka kami akan bergerak ke pantai, untuk mengumpulkan telur penyu dan kemudian disimpan selama 58 hari untuk menetaskan telur-telur tersebut,” katanya lagi.

Telur-telur ini tidak bisa dibiarkan di pesisir pantai begitu saja, mengingat musuh terbesar telur-telur penyu ini adalah manusia, maka harus dijaga takutnya telur-telur tersebut dimakan habis.

“Kami selalu menjaga telur-telur ini sudaya dapat ditetaskan dan dikembalikan ke laut, menyadari pentingnya generasi penyu untuk dilestarikan, kami juga berencana bersama pemerintah kampung untuk menerbitkan sebuah peraturan untuk melindungi penyu maupun telurnya,” katanya lagi.

Melihat, kecintaan masyarakat untuk mengkonsumsi penyu dan telurnya yang dilakukan secara berlebihan maka secara otomatis harus dilindungi.

konon khusus di Papua, penyu kerap kali dijadikan santapan dalam acara-acara khusus seperti pembayaran maskawin, pembayaran uang kepala dan pesta-pesata adat, untuk berburu penyu juga tidak gampang hanya pada situ-situasi tertentu saja.

Namun jika terus menjadi konsumsi masyarakat, lama-lama penyu akan punah, maka dari itu perlu adanya perhatian masyarakat dan juga pemerintah untuk menjaga hewan dasar laut yang sudah hampir punah ini.

Skouw  Mabo sendiri merupakan sebuah kampung yang memiliki pesisir pantai yang sangat luas, pantai tersebut dibentangi dengan hamparan pasir sehingga sangat cocok untuk menjadi tempat bertelurnya penyu.

Ketika penyu setelah ditetaskan dengan jangka waktu 58 hari, kemudian tukik-tukit tersebut ditampung selama 15 hari pada kolam-kolam penampungan yang telah disipakan setelah 15 hari baru dilepaskan langsung ke pantai.

Kebetulan Skouw  Mabo merupakan kampung yang berhadapan langsung dengan laut lepas yaitu laut pasifik, jadi tidak heran jika menjadi tujuan utama penyu bertelur di kampung tersebut.

“Untuk proses penetasan telur penyu sendiri, ada bebagai kendala yang kami hadapi, dimana dengan kelembapan dan suhu pasir juga menghambat telur-telur untuk menetas dengan sempurna, paling dari 70 butir yang tidak menetas 20 -30 butir rusak,” jelasnya.

Meski telur yang menetas juga memiliki banyak kendala dalam hal bertahan hidup, setikannya dari ratusan tukik, bisa hidup puluhan tukik yang kemudian berkembang menjadi penyu dewasa.

“Harapan kami hanya ingin melestarikan penyu di seluruh dunia, karena penyu-penyu ini merupakan hewan dasar laut yang selalu berkelana kemana saja, namun untuk bertelur pasti kembali ke daerah dimana ia ditetaskan atau pertama kali penyu itu bertelur,” tambahnya. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *