Wakapolda: Personel Polri Harus Siap Bertransformasi

Wakapolda Papua Brigjen Pol Eko Rudi Sudarto memberikan arahan kepada Casis di Aula Elsama Numberi, SPN Jayapura, Selasa (27/4) kemarin. FOTO 2: Salah satu Casis ketika berbicara dalam sesi tanya jawab.

JAYAPURA- Wakapolda Papua Brigjen Pol Eko Rudi Sudarto, meminta Calon Siswa Bintara Polri yang menempuh Pendidikan di SPN Jayapura untuk menjadi agen-agen yang unggul bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Brigjen Pol Eko Rudi Sudarto, dalam arahannya kepada seluruh personel SPN Jayapura dan Siswa Diktur Bintara Polsi Tahun 2021, Selasa (27/5) di Aula Elsama Numberi, SPN Jayapura. “Harus dipahami dunia pendidikan yang membawa kita pada pengayaan budaya. Program saya ini diberi tag line Perisai (Pencerahan Personel Menghadapi Transformasi),” ungkapnya.
Wakapolda menyampaikan pendidikan itu sendiri memiliki simbol dan setiap simbol mempunyai maknanya sendiri. Tugas peserta didik yaitu memahami setiap simbol yang ada.
“Kita harus jadi agen agen yang unggul, karena simbol tersebutlah yang kita capai. Saya minta sekarang rekan-rekan menentukan pilihannya masing-masing. Contohnya ialah, ketika ariel saya tanya dan menjawab itu merupakan agen namanya. Dualitas yaitu ketika ariel berkomunikasi dengan temannya kita semua dualitas karena kita selalu berinteraksi dengan orang lain,” katanya.
Wakapolda menambahkan kelas adalah yang membedakan kita seperti tugas-tugas yang dilaksanakan berbeda itu yang namanya kelas dan kita terbagi dalam kelas kelas sosial.
“Habitus adalah kebiasaan, dan setiap orang memiliki habitus atau kebiasaan yang berbeda dan rekan semua harus mencari habitus yang positif seperti sekarang yaitu habitus mendengarkan biasakan bicara atau bergaul dengan kelompok-kelompok yang positif,” tegasnya
Wakapolda berpesan arena Komandan Pleton (danton) dan arenanya Komandan Kompi (dangki) tidaklah sama, setiap orang memiliki arena yang berbeda. Kita juga mempunyai modal atau kapital, dan setiap orang mempunyai kapital yang berbeda seperti contohnya kapital ekonomi, kapital budaya, kapital cultural, kapital simbolik.
“Mulai dari sekarang buatlah prioritas hidup kalian seperti pertama Tuhan, kedua Keluarga dan ketiga Pekerjaan,” pungkasnya. (fia/wen)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *