Klinik Asiki Sigap Adaptasi Kala Pandemi

Petugas Klinik Asiki ketika bersama masyarakat yang mendapatkan perawatan, Selasa (27/4). Ft: TSE for Cepos

BOVEN DIGOEL – Pandemi mengubah tatanan pada banyak sektor, tidak terkecuali kesehatan. Keberadaan virus corona (Covid-19) yang menyebar dengan cepat menyebabkan banyak orang enggan untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan.
Mereka cemas, rumah sakit dan klinik yang dikunjungi akan membuat mereka tertular virus corona (Covid-19). Padahal, tidak jarang di antara masyarakat yang masih membutuhkan layanan kesehatan.
Kondisi ini yang dialami Klinik Asiki, fasilitas kesehatan modern di pedalaman Boven Digoel, Papua.

Sejak virus corona menghampiri Indonesia pada Maret 2020, klinik yang dikelola Tunas Sawa Erma (TSE) Group ini mengalami penurunan pasien secara signifikan.

Sebagai informasi, Klinik Asiki merupakan klinik pratama modern yang ditunjang dengan perlengkapan canggih. Klinik ini memberikan fasilitas pelayanan kesehatan secara gratis untuk Orang Asli Papua (OAP).

Manajer Klinik Asiki Dokter Firman Jayawijaya menyebutkan, biasanya, sebanyak 100 hingga 120 orang berkunjung ke klinik tiap harinya. Sejak masa pandemi, jumlah itu berkurang menjadi sekitar 50 orang. “Artinya ada penurunan 50 persen,” ucapnya.
Bahkan, menurut Firman, klinik sempat hanya melayani beberapa pasien tiap hari selama beberapa waktu. Hal ini menjadi perhatian manajemen mengingat masih banyaknya permasalahan kesehatan yang dialami masyarakat setempat dan harus segera diselesaikan.
Klinik Asiki tidak berpangku tangan dan berupaya beradaptasi. Meski berada di daerah pedalaman, klinik yang diresmikan pada September 2017 ini gencar memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.

Firman mengatakan, salah satu programnya adalah bekerja sama dengan Mobile JKN, aplikasi milik BPJS Kesehatan yang dapat diakses melalui handphone. Melalui aplikasi ini, masyarakat di sekitar perusahaan dapat melakukan konsultasi kesehatan dengan dokter-dokter di Klinik Asiki.

Ketika dokter sudah mendiagnosa penyakit secara jelas, mereka akan membuatkan resep obat. Terakhir, petugas mengantarkan ke tempat tinggal pasien. “Jadi, kita kurangi kontak dengan orang banyak, kita lindungi mereka dan diri kami,” kata Firman.

Konsultasi juga bisa dilakukan via WhatsApp dengan proses yang sama, yakni obat-obat akan dikirim oleh petugas. Tapi, ada kalanya dokter sulit untuk memutuskan diagnosa dengan hanya wawancara. Ketika menemukan permasalahan ini, tenaga medis Asiki akan berkunjung ke rumah warga dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.

Firman menuturkan, berbagai upaya ini dilakukan agar Klinik Asiki masih dapat memberikan layanan kesehatan secara maksimal. “Di sisi lain, mereka bisa tetap memanfaatkan fasilitas yang ada,” ujarnya.

Adaptasi ini tidak dilakukan dengan serta merta. Firman mengatakan, Klinik Asiki baru memanfaatkan platform online pada Mei 2020 karena harus melakukan kajian dan percobaan terlebih dahulu. Tujuannya, memastikan proses layanan kesehatan tetap berjalan maksimal meski dengan proses yang baru.

Seiring berjalannya waktu, pemanfaatan platform online kini berkurang. Pasalnya, banyak masyarakat yang sudah berani untuk berobat langsung di Klinik Asiki, meskipun belum sebaik dibandingkan sebelum pandemi.

“Mereka sudah percaya dan kembali ke klinik lagi,” ujar Firman. (Gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *