Kenang, Kenanglah Nanggala

Syamsul Muanam diapit Siti Komariah (kiri) dan istrinya, di tempat tinggalnya, di Desa Ngadiluwih.

Duka, Harapan, dan Pertanyaan

SAJAK itu ditulis Beni Guntarman untuk koleganya, para pelaut. Larik-larik yang menggambarkan keberanian dan keteguhan para pengarung samudra.

Pelaut sejati pasti ’kan pulang kembali ke dermaga.
Meski ada seribu luka di sekujur tubuhnya.

Dan, nun di Kelurahan Sobo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, keluarga Serda (Ede) Pandu Yudha Kusuma juga memilih untuk merawat harapan, bahkan sekalipun itu setipis rambut. Televisi tak menyala sejak Rabu (21/4).
Sebagaimana yang dilaporkan Jawa Pos Radar Banyuwangi, mereka sengaja tak ingin mendengar kabar apa pun tentang perkembangan KRI Nanggala-402, kapal selam tempat sang anak bertugas bersama 52 kru lain.
”Entah sudah berapa puluh ribu kali salawat saya baca. Doa Nabi Yunus juga terus saya baca. Saya dan ibunya Pandu menunggu mukjizat,” kata Peltu Wahyudi, ayah Pandu, didampingi sang istri, Sri Hendah Lestari, yang kedua matanya nyaris tak pernah kering dari air mata.
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memang Minggu (25/4) mengumumkan bahwa ke-53 orang di dalam KRI Nanggala dinyatakan gugur. Kapal selam bikinan Jerman lebih dari 40 tahun silam itu hilang kontak tak lama setelah menyelam di perairan utara Bali pada Rabu (21/4).
Namun, sebagaimana keluarga Pandu, keluarga Serda (Lis) Edi Wibowo memilih untuk menunggu mukjizat. ”Ibu masih yakin Edi selamat. Meski, beliau juga siap menghadapi kenyataan,” ujar Endang Susilowati, kakak Edi, di rumah sang ibu, Kresmiati, di Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Dian Arisa Cahaya juga siap menghadapi apa pun yang akan terjadi kepada suaminya, Serda (Kom) Purwanto. Sebab, itulah risiko yang harus dihadapi sebagai istri prajurit. Namun, jauh di lubuk hati perempuan yang tinggal di Bulak Banteng, Surabaya, itu, dirinya tetap menganggap Purwanto masih selamat. Atau, lebih tepatnya masih ingin. Meski, dia tahu KRI Nanggala-402 telah dinyatakan tenggelam.
Barangkali memang bukan perkara tak mau menerima kenyataan. Barangkali itulah cara para keluarga kru Nanggala untuk merawat kenangan, untuk menjaga ”hubungan”, dengan orang-orang terkasih yang kini ”dalam pelayaran selamanya (on eternal patrol)”.
Sebab, kehilangan ini memang begitu cepat, sangat tragis. Juga, membuka mata banyak pihak sekaligus memicu sejumlah pertanyaan tentang berbagai kekurangan sistem pertahanan laut negeri ini. Salah satunya, mengapa negeri kepulauan terbesar di dunia ini hanya dijaga lima kapal selam yang dua di antaranya sudah berusia uzur?
Wahyu Wardhana, pakar kapal selam ITS Surabaya, menyebutkan, pada zaman pemerintahan Presiden Soekarno saja, Indonesia memiliki 12 kapal selam. Itu pun, menurut Wahyu, jumlah minimal. ”Menurut saya, idealnya Indonesia membutuhkan 24 kapal selam yang disesuaikan dengan pintu-pintu laut,” tuturnya kepada Jawa Pos.
Pertanyaan lain, negeri maritim yang dua pertiga wilayahnya lautan ini tak punya kapal selam kecil untuk emergency manusia. Dalam tragedi Nanggala, kapal jenis itu akhirnya datang dari Singapura, negara kota yang wilayahnya tak ada seujung kuku Indonesia.
Menurut Wahyu, seharusnya irama pembelian alutsista (alat utama sistem persenjataan) harus diikuti dengan kapal selam kecil. ”Sebab, jika terjadi kegagalan kapal selam seperti Nanggala-402, bisa siap melakukan pertolongan,” kata Wahyu.
Pertolongan memang akhirnya datang, tetapi toh tak kuasa menolong Nanggala beserta ke-53 kru. Kapal belum ditemukan, apalagi mereka yang ada di dalamnya. Yang pada akhirnya memaksa Cica Yuemi untuk sekuat hati berusaha mengikhaskan sang suami yang tengah berpatroli selamanya bersama Nanggala, Letda (P) Munawir. Hanya kenangan tentang sosok yang tak pernah bisa leren (berhenti) beraktivitas serta baju koko putih yang diantarkannya sebelum keberangkatan Munawir bersama Nanggala yang kini tersisa.
”Hari pertama nangis terus, bingung cari kabar bagaimana. Hari kedua agak reda. Saya mencoba kuat dan ikhlas,” ucap Cica kepada Jawa Pos di rumahnya di Surabaya.
Dian sebenarnya juga berusaha keras berdamai dengan kenyataan. Namun, pertanyaan dari putri sulungnya, Nafsya Isma Putri Rizkianto, tetap saja membuat pertahanannya ambrol. ”Dia sering nanya bagaimana kondisi ayahnya,” kata ibu dua anak tersebut tentang putrinya yang berusia 9 tahun itu.
Di Ngadiluwih, Kresmiati memilih untuk merawat keyakinan bahwa sang putra masih bisa selamat. Sri Hendah juga demikian dan mungkin juga para keluarga kru Nanggala lain. Mereka menunggu mukjizat dan tak ada yang berhak melarang. Toh, pelaut sejati, kata Beni Guntarman, memang selalu pulang. Meski kapal retak dihantam gelombang, meski kapal koyak digores karang.
Kelak semua badai pasti ’kan berlalu.
Masih besar harapan ’tuk kembali bertemu. (gal/ian/frec2/c3/fud/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *