Sampai Perlu Petugas Khusus Rayu Tamu Nonton Kecak

DOMINASI BANGKU KOSONG: Pertunjukan tari kecak yang diselenggarakan di tebing Pura Uluwatu, Bali (16/4). Pementasan tersebut menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat.

Menanti Wisatawan Mancanegara Membanjiri Bali Lagi

Di Bali yang terhantam keras pandemi, objek wisata luar ruang relatif lebih bisa bertahan. Rencana pemerintah membuka pintu untuk wisatawan mancanegara diharapkan bisa menggairahkan lagi destinasi wisata andalan Indonesia tersebut.

CAK…cak…cak…cak… Puluhan penari kecak menyuarakannya dengan padu di kawasan Pura Uluwatu, Bali. Lengkap dengan penari berias lengkap yang mementaskan kisah Ramayana, Dewi Sinta, Rahwana, dan Hanoman.

Kalau ditotal, ada sekitar 80 orang yang menampilkan ta rian budaya tersebut pada Jumat sore pekan lalu (16/4) itu. Lebih banyak dibandingkan penonton yang menikmati penampilan mereka. Hanya sekitar 30 orang yang duduk di tribun melingkar, menghadap ke arah matahari terbenam. Hampir semuanya wisatawan domestik. Hanya satu–dua orang yang berparas asing.

Salah seorang wisatawan domestik itu bernama Christian Sutiyono. Asal Jakarta. Bali menjadi destinasi wisata pilihannya bersama sang istri, Yolanda Kesuma, meski saat ini bukan musim liburan.

Di mata Christian, Bali yang dia kunjungi saat ini 180 derajat berbeda dengan Bali yang biasanya. Keindahannya tetap ada, pertunjukannya tetap asyik untuk dinikmati. Tetapi, semua terasa kurang tanpa hiruk pikuk keramaian wisatawan.

”Saya sama istri beraniin datang karena sebenarnya untuk wisata lokalnya sudah dibuka,” ungkap Christian.

Pada 2019, jumlah kunjungan wisman ke Bali mencapai 6.275.210 jiwa. Tapi, setahun kemudian saat pandemi mulai menghantam per Maret, hanya ada 1.050.505 kunjungan. Jumlah tersebut turun 83,26 persen dibandingkan tahun lalu dan terendah selama 10 tahun terakhir.

Pemerintah sudah mewacanakan membuka pintu untuk wisatawan mancanegara dalam beberapa bulan ke depan. Tapi, tentu dibutuhkan kerja keras untuk menarik kembali turis asing ke destinasi wisata andalan Indonesia tersebut.

Kawasan Pura Uluwatu masih terselamatkan dengan adanya pertunjukan tari kecak ini. Meskipun jumlahnya memang jauh menurun dibandingkan sebelum pandemi.

Ketua Seka Kecak Karang Boma Desa Adat Pecatu, I Made Sugira menghitung biasanya pengunjung di kawasan pura saja bisa mencapai 5 ribu orang sehari. ”Rata-rata 100 tamu masuk. Itu pun kita ada petugas tiket yang merayu tamu bagaimana bisa nonton kecak,” ungkap Made Sugira.

Kondisi yang sama dialami hampir semua objek wisata di Bali, terutama mereka yang mengandalkan hiburan dalam ruangan. Pub-pub di sepanjang Kuta–Legian tak beroperasi. Toko-toko kecil yang menopang di sekitarnya pun tutup. Banyak blok yang memasang tanda ”disewakan” atau ”dijual” alih-alih tarif harga layanan seperti biasanya.

Meski sama-sama payah, setidaknya objek wisata yang mengandalkan kegiatan luar ruangan masih bisa lebih kuat bertahan. Seperti tari kecak Uluwatu tadi.

Ada pula wisata alam sawah terasering di Tegallalang, Gianyar. Salah satu yang terkenal, Alas Harum, hingga kini masih buka dan mulai mengalami peningkatan pengunjung saat musim liburan. Misalnya, saat Paskah dan Galungan. ”Sekarang adanya wisatawan lokal, rata-rata famili,” kata Manajer Operasional Action and Coffee Alas Harum Ayu Santi.

Mereka biasa menerima tamu rombongan dari mancanegara sebelum pandemi. Namun, penurunan mulai terasa bahkan sejak Desember 2019, saat Tiongkok baru dilanda Covid-19. Agen turis asing asal Tiongkok tak lagi datang.

Padahal, pada 2019, jumlah turis asal Tiongkok ke Bali terbesar kedua. Kemudian, menyusul dari negara-negara lain hingga Alas Harum tak lagi kedatangan turis asing sejak Maret 2020.

Di tengah keterbatasan, mereka tetap berusaha beroperasi karena wisatawan lokal masih bisa datang. Maintenance tetap dilakukan, tapi terbatas. Paralayang hingga kini belum dibuka lagi untuk wisata umum.

Ketua Pengprov Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia Bali, Risky Widiantara pun mengatakan bahwa usahanya hingga kini belum berjalan karena pasarnya belum cocok. Wisatawan domestik, menurut Risky, kurang begitu suka jenis wisata adventure seperti paralayang. Justru mereka lebih sering menggaet wisatawan mancanegara. Tamu domestik hanya 20–30 persen. ”Sebenarnya kita menunggu timing. Setelah tamu datang, baru kita buka,” ujar Risky.

Namun, Risky mengaku tak begitu yakin dengan peningkatan jumlah pengunjung yang signifikan pada pembukaan pariwisata tengah tahun ini. Sebab, pasar yang biasa mereka gaet seperti wisatawan Eropa dan Australia mungkin baru bisa kembali ke Bali pada akhir tahun. ”Kita udah mantau, Australia dan Eropa paling cepat akhir 2021,” lanjutnya.

Hal yang sama dialami wisata layar, Aneecha Sailing. Iwan Syahlani selaku owner representative mengakui, sebelum pandemi, pihaknya lebih fokus menggarap pasar internasional. Namun, begitu keran wisatawan asing ditutup, Aneecha harus balik kanan dan mengubah strategi marketing untuk menarik pasar domestik.

Rencana membuka pariwisata bagi turis asing pun menjadi harapan untuk pelaku wisata seperti Iwan. Dia membandingkan daerah wisata seperti Bali dengan kota-kota lain, misalnya Jakarta. Karena tidak bergantung pada sektor pariwisata, ekonomi masih berjalan di kota-kota tersebut. ”Itu harus ada perimbangan. Mal yang dibuka dengan ribuan pengunjung boleh, tapi kita pariwisata yang luas begini dan orangnya menyebar merata ini tidak boleh,” katanya. (deb/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *