Miris, 42 Korban Bencana Masih Tinggal di Bangunan Pasar Doyo

Salah satu warga korban banjir bandang 2019 Maret yang terjadi di Kampung Doyo Baru. Saat ini masih mengunsi  di bangunan Pasar Doyo, Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu. Foto ini diambil, Kamis (22/4).( FOTO:  Robert Mboik Cepos)

SENTANI-Banjir bandang yang terjadi pada Maret 2019 lalu, sampai saat ini masih menyisakan duka yang mendalam bagi sejumlah korban. Secara khusus bagi mereka yang menjadi korban langsung akibat bencana yang mematikan itu.

Banyak warga yang menjadi korban bahkan tidak saja material, tapi juga  nyawa ikut hilang akibat bencana itu.

Kini sudah 2 tahun berlalu, namun masih saja ada warga yang menempati Posko pengungsian. Mereka yang masih tinggal di tempat pengungsian itu rata-rata yang kehilangan rumah atau rusak berat akibat bencana yang menerpa pemukiman mereka.

Salah satu kawasan terparah  yang terdampak akibat bencana banjir bandang pada Maret 2019 itu, warga di Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu.

Bahkan sampai saat ini, sebanyak 42 jiwa masih rela tinggal di bangunan Pasar Doyo.

“Setelah bencana, kami langsung mengungsi ke sini,” kata Naftali Mare, salah satu korban bencana di Kampung Doyo, saat ditemui media ini di tempat pengungsiannya di bangunan Pasar Doyo, Kamis, (22/4).

Naftali Mare dan puluhan jiwa lainya sampai saat ini masih mendiami bangunan Pasar Doyo. Saat dikunjungi media ini, sebagian besar mereka sedang mencari nafkah. Setidaknya ada 5 keluarga dengan jumlah jiwa mencapai 42 orang menempati bangunan pasar itu.

Dia pun menjelaskan, wilayah tempat tinggalnya menjadi salah satu daerah terparah yang terkena bencana alam itu. Bahkan air yang meluap dari BTN Nauli itu menghanyutkan 1 buah pesawat caravan yang terparkir di Apron milik penerbangan Adven yang ada di Doyo.

“Air dari atas itu datang dan menghancurkan rumah kami, sehingga sampai saat ini  masih tinggal di sini,” ujarnya.

Pihaknya juga berharap agar pemerintah Kabupaten Jayapura bisa merealisasikan bantuan rumah yang sudah pernah dijanjikan. Apa lagi mereka juga sudah pernah didata oleh pihak BPBD Kabupaten Jayapura sebagai korban dari bencana alam tersebut.

“Pemerintah baru perhatikan yang di Kampung Kemiri, sementara kami di sini belum. Yang kami mau tanyakan bedanya itu di mana. Karena kami sama-sama korban,”tuturnya.(roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *