Presiden ada Kunjungan, Pram Tepis Isu Reshuffle

Presiden Joko Widodo memberikan keterangan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 2 Maret 2021. Jokowi mencabut lampiran Peraturan Presiden terkait pembukaan investasi baru dalam industri minuman keras (miras) yang tercantum dalam lampiran Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Hal tersebut diputuskan setelah Presiden mempertimbangkan menerima masukan dari ulama-ulama, MUI, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, ormas-ormas lain, tokoh-tokoh agama, juga masukan-masukan dari provinsi dan daerah. --FOTO : LUKAS/SETPRES

JAKARTA, Jawa Pos-Isu perombakan Kabinet Kerja Jilid II kembali bergulir. Beberapa menteri diprediksi akan keluar. Salah satunya Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko.

Hari ini dikabarkan Presiden Joko Widodo akan melakukan reshuffle kabinet. Isu ini bermula dari DPR RI setuju penggabungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kemenristek. Selain itu pernyataan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin yang menuturkan perombakan bisa terjadi dalam waktu dekat.

Namun hal itu dibantah oleh Mensesneg Pratikno. ”Tidak ada,” tuturnya saat ditanyai di Istana Kepresidenan.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang bersama Pratikno saat mengendarai golf cart juga menyatakan hal yang senada. ”Besok Presiden ada kunjungan ke Jawa Barat,” kata Pram, sapaan akrabnya. Dia pun meminta agar seluruh pihak menunggu.

Dikabarkan akan ada enam menteri dan kepala lembaga yang diganti. Salah satunya Moeldoko. Kemarin saat mengunjungi Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Moeldoko menyatakan tidak tahu kabar tersebut. ”Soal reshuffle yang tahu hanya presiden,” tuturnya sambil bergegas.

Selama isu reshuffle bergulir, nama PAN juga turut diperbincangkan. Partai berlambang matahari ini digadang-gadang bakal mendapat jatah pada reshuffle kali ini. Hal tersebut menurut pengamat bukan hal aneh dan kemungkinan besar bisa terjadi.

Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menjelaskan, sudah lama PAN mahzab Zulkifli Hasan sudah terlihat dekat dan satu visi dengan pemerintah. “Yang anti Jokowi banget itu kan mahzabnya Amien Rais, yang sekarangn terdepak dari PAN. Jadi tidak mengherankan jika PAN dikaitkan dengan koalisi kabinet dan diajak bergabung,” jelas Adi kepada Jawa Pos kemarin (20/4).

Dia menjelaskan bahwa jika PAN bergabung, maka praktik Politik Gotong Royong semakin diterapkan. Seperti yang pernah terjadi pada Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang sebelumnya menjadi rival di Pilpres, tapi kemudian diajak menjadi menteri juga.

Lebih lanjut, Adi memperkirakan bahwa PAN bisa menempati posisi antara Kemenko PMK atau Kementerian Perhubungan. “Lebih dekat ke Kemenhub. Ada korespodensi politiknya, kan Pak Hatta Rajasa pernah menjadi Menhub,” lanjutnya.

Sementara itu, PAN sendiri menyatakan siap jika ada kadernya yang ditunjuk untuk mengisi kursi menteri dalam reshuffle nanti. Mereka sudah menyiapkan siapa-siapa saja yang dirasa layak maju.

“Kita siap berkontribusi bagi bangsa dan negara apa pun pos yang diamanatkan nantinya,” jelas Anggota Fraksi PAN DPR Guspardi Gaus dalam pernyataan tertulis kemarin.

Guspardi meyakini bahwa keputusan Presiden untuk melakukan reshuffle dan memilih sosok tertentu untuk menjadi menteri sudah melalui berbagai pertimbangan. Baik dari sisi politik maupun efektivitas dalam upaya peningkatan kinerja kabinet.

Meski demikian, Guspardi mengakui bahwa PAN belum menerima panggilan secara resmi dari Istana. “PAN belum menerima secara resmi kepastian mengenai tawaran kabinet. Kabar merapatnya PAN ke pemerintah justru didapat dari informasi para pengamat politik dan media massa,” lanjutnya. (lyn/deb/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *