Tak Ada Penerbangan, Warga Bertahan Hidup Makan Mie Instan

Irjen Pol. Mathius D Fakhiri ( FOTO: Elfira/Cepos)

Warga Akan Dievakuasi Setelah Pesawat Bisa Masuk ke Beoga

JAYAPURA- Pengiriman pasukan ke Distrik Beoga, Kabupaten Puncak untuk melakukan penindakan terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pasca penembakan terhadap dua guru terkendala penerbangan.

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri mengatakan, pengiriman pasukan ke Beoga setelah pihaknya memastikan kondisi bandara di sana aman. Sehingga bisa meyakinkan penerbangan untuk masuk ke Beoga.

“Anggota Nemangkawi dan Brimob sudah kami siapkan dan sudah berada di Mimika. Mereka sedang menyusun rencana ke Beoga tinggal menunggu angkutan ke atas,” ucap Kapolda Mathius Fakhiri saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Selasa (13/4).

Lanjut Kapolda, setiba di Beoga, anggota akan mengumpulkan semua informasi untuk menyiapkan langkah-langkah guna melakukan penanganan terhadap KKB.

“Kelompok ini posisinya masih berada di ketinggian di sekitar bandara. Inilah yang menyebabkan penerbangan belum bisa dilakukan ke sana,” jelas Fakhiri.

Menurut Fakhiri, situasi Kabupaten Puncak terkhusus di Beoga sudah bisa dikendalikan. Pengiriman pasukan akan segera dilakukan dalam satu atau dua hari ini. Bahkan dirinya sudah bertemu langsung dengan Bupati Puncak untuk memfasilitasi pengiriman pasukan ke Beoga.

“Jika penerbangan yang membawa pasukan sudah bisa masuk ke Beoga, sekalian kita akan mengevakuasi guru dan warga lainya yang saat ini sedang mengamankan diri di pos-pos TNI-Polri yang ada di Beoga,” ucapnya.

Sementara itu, Kapolsek Beoga, Ipda Ali Akbar mengatakan masyarakat yang saat ini mengungsi di Koramil dan Polsek Beoga mulai kesulitan makanan.

“Semenjak KKB masuk di Beoga, toko-toko yang menjual bahan pokok tidak berani buka dan masyarakat tidak berani keluar rumah, terutama pada malam hari,” kata Kapolsek Ali Akbar saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Selasa (13/4).

Ali Akbar menyebutkan ada empat kios besar menjual mi instan kartonan. Sementara kios kecil yang jual eceran ada beberapa. Namun tidak ada kios berani buka dan kalau mau beli harus ketuk pintu. Itupun bukanya pada siang hari saja sementara malam hari mereka sudah tidak berani buka.

“Stok makanan yang tersedia di toko-toko tersebut juga sudah semakin sedikit dan perlu segera dipasok. Kalau dijual ke masyarakat semua tinggal 3-4 hari lah,” kata Kapolsek.

Dikatakan Kapolsek, KKB masih berada di Beoga dan bersembunyi di sekitaran ujung lapangan terbang Beoga. Untuk itu, dengan minimya jumlah personel kemanan di Beoga, ia berharap pasukan penebalan yang dikirim dari Mimika dan Intan Jaya segera tiba.

“Kami berharap personel perkuatan segera masuk untuk lakukan pengejaran terhadap penembakan kepada guru,” ucapnya.

Sementara salah seorang warga mengaku mereka di sana (Beoga-red) tinggal makan mi instan saja. Ia berharap pesawat bisa masuk ke Beoga.

Secara terpisah Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem meminta agar Pemerintah Provinsi Papua dapat membentuk tim investigasi dalam menyikapi penembakan dua guru yang terjadi di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Kamis (8/4) dan Jumat (9/4) lalu.

Dua guru ini masing-masing bernama Oktavianus Rayo dan Yonathan Renden diduga ditembak KKB. Keduanya merupakan guru yang sehari-hari mendidik dan melayani anak-anak untuk bersekolah di SMP Beoga, Kabupaten Puncak.

Menurut Theo, penyelesaian persoalan konflik di Papua, pemerintah daerah  setempat tidak mempunyai ‘taring’ yang cukup untuk menyelesaikan persoalan konflik yang terjadi di Papua.

Oleh karena itu, Pemprov Papua harus membentuk tim investiasi atas tertembaknya kedua guru di Beoga Kabupaten Puncak.

Menurut Theo, nantinya hasil investgasi tim investigasi dari Pemprov Papua dapat dilaporkan secara resmi ke pemerintah pusat dengan sejumlah rekomendasi, terkait penyelesaian konflik di Papua.

“Nanti pemerintah pusat mau terima laporan rekomendasi atau tidak itu persoalan kedua, tetapi dari sisi kemanusiaan pemerintah harus menyampaikan laporan hasil investigasi tersebut,” katanya.

Theo berharap, pemerintah bisa membuka mata dan mencari solusi untuk mengakhiri konflik siklus kekerasan di Papua dan Papua Barat. Apabila pemerintah pusat tidak mengambil langkah-langkah konkrit selain operasi militer, maka korban warga sipil mayarakat orang asli Papua (OAP) dan warga non Papua akan mengalami korban.

Pasca pembakaran helikopter di Bandara Aminggaru, Polri membuka fakta baru terkait KKB. Kelompok tersebut diduga ingin berupaya menganggu aktivitas bandara di seluruh Papua.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono menjelaskan, memang diketahui ada rencana menganggu aktivitas penerbangan di Papua. Maka, Polri melakukan berbagai upaya untuk mencegah KKB. ”Polda mengerahkan jajarannya,” terangnya.

Menurutnya, pengamanan di tiap bandara di Papua telah dilakukan penebalan atau penambahan petugas. Tujuannya untuk mencegah aksi yang sama dilakukan KKB. ”Kami berusaha aktivitas bandara tetap berjalan dengan baik,” tuturnya.

Untuk pengejaran terhadap KKB, lanjutnya, Satgas Nemangkawi telah melakukan upaya untuk menindak para pelaku pembakaran helikopter. Hingga saat ini belum diketahui apakah sejumlah nama yang diduga menjadi pelaku pembakaran telah tertanggap atau belum. ”Operasi ini terus berlangsung,” paparnya.

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III menambahkan, upaya mencari dan mengejar KKB di Papua juga tidak berhenti. Bersama aparat kepolisian, mereka berupaya menangkap anggota kelompok tersebut. “Saat ini TNI – Polri masih memburu kelompok itu, dan kami akan menindak tegas KKB yang melakukan aksi brutal di Ilaga,” ungkap Kepala Penerangan Kogabwilhan III Kolonel Czi I. G. N. Suriastawa kepada awak media.

Perwira menengah dengan tiga kembang di pundak itu menyebut aksi KKB di Ilaga ilegal lantaran dia menilai serangan terhadap fasilitas penerbangan di Papua sangat mengganggu dan menyusahkan masyarakat. Dia menyebut, fasilitas penerbangan merupakan salah satu instrumen penting di Papua. Sebab, untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya, pesawat sangat dibutuhkan. Apalagi bagi warga Kabupaten Puncak. “Di mana akses ke Ilaga, Puncak hanya bisa dilakukan dengan pesawat udara,” imbuhnya.

Serangan terhadap fasilitas penerbangan, sambung Suriastawa, bukan kali pertama dilakukan oleh KKB. Sebelumnya kelompok itu pernah menyasar pilot berkebangsaan Selandia Baru. Pilo tersebut disandera beberapa jam sebelum akhirnya dilepaskan. “Itu (aksi di Ilaga) merupakan aksi teror KKB yang kesekian kalinya terhadap dunia penerbangan di Papua,” jelas dia. Karena itu, aparat keamanan memastikan para pelaku dikejar dan ditindak tegas.

Terlebih kelompok yang kerap berbuat onar menggunakan senjata api itu juga belum lama menembaki guru dan membakar sekolah di Papua. Menurut Suriastawa tindakan tersebut sangat keterlaluan dan tidak berperikemanusiaan. “Setelah melakukan aksi teror di dunia pendidikan, KKB kembali melakukan aksi teror di dunia penerbangan,” sesalnya. Bukan hanya mengganggu dan menyusahkan masyarakat, aksi tersebut dinilai sudah meresahkan.

Apalagi KKB juga terus berusaha memprovokasi aparat keamanan. Kogabwilhan III memastikan seluruh jajaran TNI dan Polri tidak akan termakan provokasi tersebut. Mereka tegas menyatakan bahwa yang menjadi titik berat mereka adalah melindungi masyarakat. Aparat keamanan yang bertugas di sana tidak ingin korban kembali berjatuhan. Terlebih bila yang menjadi korban adalah masyarakat sipil. Untuk itu, selain pengejaran mereka juga meningkatkan penjagaan. (fia/bet/idr/syn/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *