Satgas Yonif 512/QY Hidupkan Lagi Listrik di Kampung Yabanda

Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 512/QY memberikan cahaya penerangan bagi masyarakat Desa Yabanda, Distrik Yaffi Kabupaten Keerom, Papua, Senin (12/4). ( FOTO: Satgas Pamtas)

JAYAPURA- Peduli sesama, Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 512/QY memberikan cahaya penerangan bagi masyarakat Kampung Yabanda, Distrik Yaffi Kabupaten Keerom, Papua, Senin (12/4).

  Dansatgas Yonif Mekanis 512/Qy Letkol Inf Taufik Hidayat menyampaikan, sudah tiga tahun lamanya masyarakat Kampung Yabanda tidak merasakan penerangan pada malam hari, dikarenakan PLTS di kampung tersebut rusak dan menyebabkan padamnya listrik di Kampung Yabanda.

  “Dengan kerja keras yang dilakukan tim komunikasi beserta personel Yonif mekanis 512/QY, serta antusias warga kampung yang membantu untuk menghidupkan kembali listrik di Kampung Yabanda. Akhirnya jerih payah tersebut berhasil, yang sudah 3 tahun mati sekarang dapat menyala kembali” ucap Inf Taufik sebagaimana rilis yang diterima Cenderawasih Pos.

  Disampaikan, tak adanya aliran listrik selama tiga tahun diketahui dari Danpos Yabanda Letda Inf Hendri melaporkan kepada Dansatgas atas keluhan yang dialami warga. Hal ini dikarenakan PLTS di kampung tersebut sudah 3 tahun silam tidak berfungsi lagi.Menindaklanjuti laporan dari Danpos Yabanda, Dansatgas beserta Dantonkom turun langsung ke desa Yabanda guna untuk memperbaiki PLTS yang sudah tidak berfungsi tersebut.

  Sementara itu, Musi Mambrako selaku tokoh masyarakat menyampaikan terima kasih kepada anggota  TNI yang sudah memperbaiki PLTS di kampung mereka.“Terima kasi kepada anggota TNI, sehingga kami dapat merasakan penerangan lagi ketika malam hari, kami sangat senang karena listrik di kampung kami sudah bisa beroperasi kembali,” ucapnya.

   Remaja di Kampung Yabanda juga turut merasakan kegembiraan, karena listrik di kampung Yabanda sudah bisa beroperasi kembali. “Kami sangat senang, kami bisa bermain lagi di malam hari karena sudah ada lampu, biasanya kami ketika hari sudah gelap kami tidak tau mau berbuat apa, paling kami hanya diam di rumah dan tidur hingga cahaya matahari dapat memberi penerangan kembali pada desa kami” ucap Herbert salah satu pemuda. (fia/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *