Bisa Menciptakan Kekompakan Tim dan Memberikan Hal Positif  Bagi Anak Muda

Ketua Komunitas Free Fire Kota Jayapura, Malfred Sebastian Samaran ( FOTO: Yewen/Cepos)

Bincang-bincang dengan Ketua Komunitas Free Fire di Kota Jayapura Malfred Sebastian Samaran

Permainan Free Fire teryata tak hanya dikenal di wilayah Indonesia bagian barat, tetapi kini sudah menjalar dan banyak diminati oleh warga masyarakat di Papua, terutama anak-anak muda di Jayapura. Bahkan, mereka telah membentuk komunitas yang dapat menghimpun tim-tim yang bermain Free Fire. Seperti apa saja Komunitas Free Fire di Jayapura?

Laporan: Roberthus Yewen

Garena Free Fire atau biasa disebut Free Fire atau sering disingkat FF adalah permainan battle royale yang dikembangkan oleh 111 Dots Studi dan diterbitkan oleh Garena untuk Android dan iOS itu menjadi permainan seluler yang paling banyak diunduh secara global pada tahun 2019.

Karena popularitasnya, permainan ini menerima penghargaan untuk Best Populer  Vote Game oleh Geogle Play Store pada tahun 2019. Pada bulan Mei 2020, Free Fire telah mencetak rekor dengan lebih dari 80 juta pengguna aktif harian di seluruh dunia, termasuk di Kota Jayapura.

Permainan Free Fire ini teryata tidak hanya didominasi oleh anak-anak muda atau anak-anak remaja saja, tetapi juga ada orang tua yang ikut terlibat dalam mengikuti permainan tersebut. Bahkan, mereka membuat timnya masing-masing dan saling bertarung antara satu dengan yang lainnya.

Meskipun, di Papua khususnya di Jayapura permainan Free Fire ini baru masuk dan membuat anak-anak muda membentuk tim dan saling lomba antara satu dengan yang lainnya. Hal ini sebagai bukti bahwa anak-anak muda di Jayapura begitu berdaptasi dalam mengikuti perkembangan, terutama permainan Free Fire ini.

Tak hanya itu, dari tim-tim yang dibentuk inilah, maka dibuatlah sebuah komunitas Free Fire yang dapat menghimpun semua tim-tim Free Fire yang ada di Kota Jayapura, sehingga bisa bersama-sama melakukan hal-hal yang positif secara bersama-sama dalam komunitas yang dibentuk tersebut.

Free Fire sendiri sudah dimainkan oleh kita sejak tahun 2019, tetapi untuk Komunitas Free Fire sendiri dibentuk pada tanggal 18 Mey 2020. Nanti bulan Mey 2021 ini genap,”  Ketua Komunitas Free Fire Kota Jayapura, Malfred Sebastian Samaran kepada Cenderawasih Pos.

Antusias untuk permainan Free Fire ini menurut Sebastian sangat rame sekali tim-tim yang ada di Kota Jayapura, terutama di kalangan para anak-anak muda, khususnya pelajar, mahasiswa, bahkan orang tua juga ada yang masih bermain permaian Free Fire ini.

Kebanyakan tim-tim Free Fire yang ada di Jayapura ini sudah di data dan diakomodir untuk menjadi bagian dari Komunitas Free Fire yang ada di Kota Jayapura. Hal ini agar bisa bersama-sama berkoordinasi dan berkomunikasi dalam mengembangkan permainan ini di Jayapura.

“Kalau di komunitas kami ini banyak sekali anak-anak muda, terutama pelajar SMP dan SMA/SMK yang terlibat, ada juga kalangan mahasiswa, begitupun juga para orang tua. Mereka juga sudah menjadi bagian dari anggota di komunitas,” ucap mahasiswa semester 8 Jurusan Komunikasi Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ).

Permainan Free Fire ini sendiri sudah ada di Jayapura sejak tahun 2019 yang lalu. Dimana turnamen Free Fire ini dilaksanakan pertama kali oleh Telkomsel di Hamadi, Kota Jayapura. Dengan turnamen ini banyak sekali anak-anak muda, bahkan orang tua yang mengikutinya.

Permainan Free Fire ini tentu memberikan dampak yang positif, sebab banyak anak-anak muda yang mempunyai tim akan memperbanyak latihan, untuk mengikuti turnamen-turnamen Free Fire yang dilaksanakan oleh berbagai kalangan secara nasional, bahkan secara lokal di Papua.

“Dampak positif, yaitu anak-anak bisa berlatih mengikuti turnamen yang ada dan bisa menjauhkan diri dari hal-hal negatif yang menjerumus mereka seperti miras, narkoba dan lain sebagainya,” ucapnya.

Free Fire sendiri biasanya dimainkan pertim yang terdiri dari 4 orang, dimana 3 orang bermain dan 1 orang akan menjadi cadangan. Bisa juga bermain 1 atau 2 orang, tetapi kurang bagus, sehingga bisanya dalam turnamen harus bermain tim yang terdiri dari 4 orang.

Sebastian berharap, dengan adanya Komunitas Free Fire di Kota Jayapura ini tentu akan menghimpun semua tim yang tentunya kedepan bisa berlatih dan bermain dalam turnamen-turnamen, baik di Papua maupun kedepan bisa membawa nama Papua di kanca nasional maupun internasional.  “Sejauh sudah ada yang sampai bermain di tingkat nasional. Ada dua orang dari Papua, yaitu perwakilan satu dari Merauke dan satu dari Fak-Fak yang bermain sampai di Jakarta,” ujarnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *