Lindungi Rawa Mayo, Pemkab Perlu Perlu Buatkan Perda

Yulianus M. Mambrasar, S.ST, M.Si, MT, ( FOTO: Sulo/Cepos)

MERAUKE-Kepala Balai Wilayah Sungai Papua Merauke Yulianus M. Mambrasar, S.ST, M.Si, MT, mengharapkan  Pemerintah Kabupaten Merauke dapat memberikan perlindungan terhadap Rawa Mayo melalui  pembuatan Peraturan Daerah. Karena  Rawa Mayo seluas 128 hektar yang terletak di  Kurik selama ini sebagai air baku yang dipompa masuk ke persawahan petani.

  “Ini juga kita akan sosialisasikan sekaligus bicarakan dengan pak bupati supaya kalau bisa disediakan perda untuk lindungi rawa-rawa ini. Jujur saja untuk Merauke ini,  hampir semua rawa ini kita bawa pertanian. Otomatis  kalau nanti digarap atau dicetak menjadi sawah maka  rawa  ini  akan berkurang,’’ kata   Yulianus Mambarasar, kepada  Cenderawasih Pos baru-baru  ini.

   Dikatakan,  air Rawa Mayo  ini selain digunakan untuk sawah, juga sebagai air baku. ‘’Kita tahu  bahwa kalau musim hujan seperti sekarang ini kita  kelebihan air. Tapi diharapkan apabila waduk ini berfungsi dengan baik, diharapkan mulai bulan Agustus, September sampai Desember yang merupakan puncak musim kemarau di Merauke setiap tahunnya dapat menjadi kebutuhan air di Kurik dan sekitarnya.

   “Waduk sudah ada. Rumah pompa juga sudah ada. Hanya kerusakan beberapa pompa dan ada  beberapa yang perlu diperbaiki.  Karena Merauke ini tanah pasir dan ketika ada getaran maka struktur tanah itu pecah dan itu  sudah pecah. Kalau 2 pompa itu dijalankan sama-sama dimana  kapasitasnya 1.500 liter perdetik. Bisa dibayangkan cukup besar.  Seharusnya di musim hujan ini  kalau kita bisa tampung  tinggal dikalikan saja maka bisa sekian juta kubik persediaan air kita sebenarnya,” terangnya.

   Karena   itu, lanjut Mambrasar, Rawa Mayo tersebut perlu  dilindungi  agar tidak dirambah lagi menjadi sawah. Yulianus Mambrasar juga meminta masyarakat  agar  tidak menebang semua kayu bus. Sebab, penguapan di Merauke  sangat tinggi.

  “Ada hal yang unik di Merauke, dimana  kayu bus ini mampu untuk menahan air tersebut saat musim kemarau. Kalau kayu bus itu   tidak ada, maka rawa akan cepat kering, karena penguapan di Merauke sangat tinggi saat  musim kemarau,” terangnya.

   Yulianus Mambrasar menambahkan,  bahwa pihaknya perlu  lagi sosialisasi ke masyarakat  untuk tidak menebang kayu bus. Kalau perlu ditanam lagi  untuk  menahan penguapan yang tinggi di saat musim   kemarau. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *