Pilih Batal berobat karena Beri ASI sang Anak

Wartiani yang saat ini hanya bisa berbaring di tempat tidur karena kanker yang dideritanya.

Wartiani Berjuang Melawan Kanker Tiroid selama Sembilan Tahun   

Tubuh Wartiani hanya bisa terbaring di kamar berukuran 2×2,5 meter. Bengkak di leher sebesar telur ayam kampung membuatnya tak bisa bebas bergerak. Meski hidupnya cukup berat, dia tetap berusaha bercanda di depan anak-anaknya.

REKIAN, KABUPATEN, JP Radar Kediri 

Wartiani belum memiliki rumah sendiri. Perempuan berusia 44 tahun itu tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang kini menjadi milik adiknya di Jalan Langgar Ayem, Desa Jemekan, Kecamatan Ringinrejo.

Di rumah itu, ia hanya menempati satu kamar yang menjadi tempatnya berbaring. Tanahnya di belakang rumah sang adik belum dibangun sehingga statusnya masih menumpang.

Di kamar 2×2,5 meter itu, semua pakaiannya ditumpuk di dalam kardus. Lemari dan meja kecil tempat meletakkan obat juga mempersempit kamar tanpa plafon itu. “Sekarang bisanya hanya berbaring saja,” ucap perempuan yang rambutnya mulai tumbuh setelah selesai kemoterapi. Semua pekerjaan rumah kini diserahkan ke anaknya Andika Febrian Cahyono, 18, yang tamat sekolah tahun 2020 lalu.

Sambil melirik ke Andika, ibu dua anak ini lalu nyeletuk anak pertamanya adalah siswa lulusan Covid-19. Artinya, tamat belajar pada saat pandemi korona mewabah. Setiap hari, Andika bersama adiknya Ananta Bayu Dwi Cahyono, 10, mengurus ibunya saat suami Wartiani bekerja sebagai satpam pabrik.

“Mereka gantian merawat saya,” ucap istri dari Heri Agustinus Cahyono, 47 itu. Pagi dirawat anak lalu sore sampai malam dirawat suaminya. Meski lehernya sudah membengkak karena kanker tiroid tapi tidak membuat suaranya hilang. Bahkan mantan buruh pabrik sepatu di Sidoarjo itu cukup bertenaga menceritakan penyakit yang dideritanya selama sembilan tahun lalu.

Dia mengaku, awalnya, dia merasakan benjolan di bagian bawah leher sebelah kanan. Sekitar tahun 2009 lalu, benjolan itu berhasil dioperasi di Surabaya dan sudah tidak tumbuh lagi. Karena ini kanker tiroid, diakui Wartiani selalu tumbuh sepasang. Karena satunya sudah selesai dioperasi, kemudian benjolan serupa muncul lagi di sebelah kiri. Lokasinya berada di leher.

“Nah, yang ke dua, saya tidak bisa operasi karena saat itu (2012, Red) anak nomor dua baru usia enam bulan,” bebernya. Jika dioperasi, maka anaknya tidak bisa menyusui. Karena mempertahankan ASI, kanker itu terus membesar. Setelah anak keduanya sudah beranjak besar, dia memulai lagi pengobatan.

Karena sudah tidak lagi bekerja, Wartiani hanya mengandalkan gaji suaminya yang bekerja di pabrik. Hasil itu tidak cukup bila harus menggunakan uang pribadi. Mereka lantas membuat kartu jamkesda namun waktunya tidak bisa lama. Sedangkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang semestinya sudah bisa dipakai sejak 2016 baru bisa dipakai pada 2019 lalu.

“Kartu (KIS, Red) saya waktu itu keselip baru ketemu beberapa tahun lalu,” bebernya. Setelah ketemu, dia lantas berupaya untuk terus berobat. Karena bengkaknya sudah semakin besar, operasi tidak bisa dilakukan. Harus menunggu sambil melakukan kemoterapi dan sinar.

Karena kemoterapi rutin membuat rambutnya rontok hingga botak. Ia harus rutin kontrol. Jika biaya pengobatannya sudah ditanggung, biaya hidup untuk suaminya yang setia mendampingi ketika kemoterapi di Malang mulai menipis. Untuk tetap bertahan, ibu dua anak ini mengaku semua dilakukan agar tetap bertahan.

“Sepatu PDH (pakaian dinas harian, Red) satpam yang dibeli dengan harga Rp 500 ribu terpaksa dijual. Lakunya hanya Rp 150 ribu, pulang pakai sendal jepit,” bebernya. Tidak hanya itu, suaminya juga terpaksa harus mengamen agar tetap bisa membeli makan selama menemani Wartiani.

Karena semua dokter yang merawat Wartiani sudah menyerah, Ibu dua anak itu mengaku telah mengambil jalan pasrah dan ikhlas dengan apa yang dideritanya. Dia pun mengklaim, penyakit ibunya yang telah meninggal sama dengan yang dialaminya. Pandangan kosongnya lalu melontarkan tanya. “Apa iya ini penyakit turunan?” ucapnya menatap genting kamar. Setelah berucap, dia lantas mengalihkan pertanyaan ke kedua anaknya.

Anak dan suaminya terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan Wartiani. Yang kini dibutuhkan adalah kasa steril, plester tahan air, pembalut untuk menahan cairan dari leher dan underpad. Selain ke rumah sakit untuk kontrol, dia juga mengonsumsi buah merah dari Papua. Punya darah O plus, dia kerap transfusi darah. Sekali transfusi bisa empat sampai lima kantong. Kini beratnya sudah turun sepuluh kilogram. Kini jadi 45 kilogram. (dea/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *