Berkas Tersangka Tipikor Kredit Bank Papua Tahap Pertama

Penyidik Tipikor Polres Merauke saat tahap I berkas tersangka Korupsi Kredit pada Bank Papua sebesar Rp 34,5 miliar ke Kejaksaan Negeri Merauke, Kamis (8/4) kemarin.  ( foto: Humas for Cepos)

MERAUKE-Berkas tersangka dugaan tindak pidana korupsi  atas kredit  pada Bank Papua yang dilakukan oleh bendahara gaji pensiun ASN pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset  Daerah Kabupaten Merauke berinisial IGL (58)  diserahkan ke  Kejaksaa Negeri Merauke, Rabu (7/4).

   Kapolres  Merauke AKBP Ir. Untung Sangaji, M.Hum melalui Kanit Tipikor Polres Merauke Ipda Juniar Djoko S, mengungkapkan bahwa  untuk berkas tersangka tersebut sudah tahap  pertama. “Kemarin kita sudah tahap pertama terhadap berkas  tersangka dugaan korupsi kredit pada Bank Papua yang merugikan negara  sekitar  Rp 34,5 miliar berdasarkan hasil  audit BPKP,” kata Juniar  Djoko ketika ditemui Cenderawasih Pos.

   Kanit Tipikor Polres Merauke tersebut menjelaskan bahwa  untuk sementara, pihaknya fokus  untuk menangani perkara tersangka IGL tersebut. Setelah itu, kemudian barulah menindaklanjuti  pihak lain yang bakal  ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan.  Kanit Tipikor menjelaskan bahwa tersangka tersebut dipercaya sebagai bendahara  pembayaran gaji pensiunan  sejak tahun 1999.

   Kemudian pada tahun 2010, tersangka kemudian mencoba mengajukan permohonan kredit pensiunan dengan melakukan rekayasa  pada daftar penerima pensiun sebanyak 3 perjanjian kredit. Karena berhasil dicairkan, sehingga tersangka mencoba lagi  membuat permohnan kredit agar bisa menutupi kreditnya dan seterusnya dilakukan sejak tahun 2010 sampai 2017.

   Perbuatan tersangka diketahui, ketika salah satu pegawai bank Papua  yang bertugas di bagian kredit melihat foto dari identitas kakeknya sehingga sampai di rumah, petugas  tersebut menanyakan ke kakeknya. Ternyata  kakeknya tidak mengajukan kredit. Sehingga dilakukan audit terhadap perjanjian kredit yang diajukan tersangka. Ternyata didapati dokumen yang diajukan untuk  mendapatkan kredit adalah fiktif/dipalsukan oleh tersangka.

   “Saat melakukan perbuatan tersebut, tersangka masih  aktif sebagai ASN dan baru pada bulan Juni 2020  kemarin, tersangka  pensiun,” tandas Juniar Djoko.

    Ditambahkan bahwa pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap 29 saksi dimana 2 diantaranya adalah saksi ahli yakni ahli dari BPKP dan ahli dari keuangan.   “Tersangka dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman  hukuman maksinal 20 tahun penjara,” katanya. (ulo/tri)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *