Waspadai Puncak Cuaca Ekstrem 

Supriyanto Ridwan, S.E ( FOTO: Sulo/Cepos)

MERAUKE-Kantor Pencarian dan Pertolongan Merauke saat ini siaga penuh dalam rangka  menghadapi cuaca ekstrem  yang diperkirakan  terjadi di bulan April ini. Ini juga menyikapi  terjadinya musibah  yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat yang sudah merenggut ratusan nyawa manusia.

  Kepala Kantor Pencarian Dan Pertolongan Merauke Supriyanto Ridwan, S.E menjelaskan bahwa potensi curah hujan di wilayah Merauke menurut data dari Stasiun Meteorologi BMKG Merauke diperkirakan berintensitas ringan sampai dengan lebat cukup tinggi.

  Secara klimatologis, bulan Maret dan April inilah puncak curah hujan di wilayah kabupaten Merauke. Ini sejalan dangan apa yang disampaikan oleh prakirawan Stasiun Meteorologi BMKG Merauke Yana Arifin melalui keterangan tertulisnya.

  Ia menyampaikan bahwa mengingat iklim di Merauke adalah monsunal (monsun; iklim yang ditandai oleh pergantian arah angin dan musim hujan dan musim kemarau selang lebih kurang enam bulan mengikuti posisi matahari pada bulan Juni dan Desember, terdapat di daerah tropis dan subtropis yang diapit oleh benua dan Samudra, Kamus Besar Bahasa Indonesia.red) maka potensi terjadi hujan di wilayah Merauke masih cukup tinggi.

   “Kondisi pada periode ini masih didominasi oleh keadaan berawan sepanjang pagi hingga siang hari. Potensi hujan dapat terjadi  pada pagi dan siang hari, sedangkan potensi hujan pada malam dan dini hari cukup kecil. Namun sepekan kedepan masih berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang” tambahnya.

   Menyikapi kondisi cuaca yang kini sedang terjadi dan bencana alam yang tengah melanda beberapa wilayah di Indonesia baik yang skala musibahnya kecil hingga besar, Kantor Pencarian Dan Pertolongan Merauke senantiasa bersiap. Kesiapsiagaan baik personel maupun peralatan sudah menjadi rutinitas harian.

  Supriyanto Ridwan menyampaikan bahwa pada dasarnya Basarnas selalu bersiap setiap saat. Tidak hanya ketika terjadi cuaca ekstrem, namun saat semua dalam kondisi baik-baik saja pun Basarnas selalu siap karena yang namanya musibah ataupun kecelakaan itu tidak bisa kita duga datangnya. “Jadi kita harus senantiasa siap kapanpun,” katanya.

  Di tengah masa pandemi ini dimana pembagian jam kerja personel diatur tidak sebagaimana mestinya maka fungsi komunikasi semakin diperkuat. Personel tidak masuk kerja sesuai jam kerja normal namun hanya setengah hari, selebihnya bersiaga di rumah masing-masing kecuali yang memang terjadwal piket di kantor maupun di Pos dan di kapal selama 24 jam penuh.

   “Saya menekankan kepada seluruh personel yang on call (tidak di kantor) agar jangan sampai mematikan perangkat komunikasinya, jadi kapanpun dibutuhkan bisa dengan segera merespon panggilan tugas” bebernya.

   Pihaknya lanjut dia, selalu memantau prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG Merauke sebagai salah satu acuan dalam pelaksanaan siaga setiap hari. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *