Keluarga Tolak Autopsi, Kasus Ditutup

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari (kiri) saat turun langsung ke LPMP Kotaraja pasca ditemukannya seorang pasien Covid-19 yang gantung diri, Senin (5/4). ( FOTO:  Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Kasus  meninggalnya seorang guru SMK  dalam masa karantina di LPMP Kotaraja tidak berlanjut. Pihak  keluarga menolak untuk korban dilakukan otopsi alias menerima kejadian tersebut sehingga polisi juga tidak melanjutkan ke tahap penyidikan. Kapolsek Abepura, AKP Clift Gerald Duwith melalui Kanit Reskrim Polsek Abepura, Ipda Nunut Simanjuntak menyampaikan bahwa  setelah kejadian tersebut jenasah langsung dibawa ke RS Bhayangkara dan polisi sendiri mencoba berkoordinasi dengan pihak keluarga.

Apakah bersedia dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian korban atau seperti apa dan ternyata ditolak. “Kami tanyakan kepada orang tua korban dimana pihak keluarga menolak untuk diautopsi sehingga kami hanya sebatas mengambil keterangan awal saja,” jelas Nunut. Pihaknya juga tak ingin meraba-raba soal apa yang menyebabkan korban memilih untuk gantung diri termasuk jika ada persoalan internal.

“Karena keluarga menolak ya kami buatkan surat penolakan autopsi yang ditandatangani pihak keluarga dan kasusnya tidak kami lanjutkan. Kami sendiri tidak tahu persis apakah ada persoalan lain sehingga korban melakukan itu. Jadi kasus ini tidak kami teruskan dan pihak keluarga juga bisa menerima,” tutupnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari  usai jenazah dibawa ke RS Bhayangkara terlihat sempat melakukan briefing sejenak dengan para pasien yang tengah menjalani karantina. Di situ terdengar jika kepala dinas meminta agar penghuni LPMP bisa menceritakan jika ada persoalan dan jangan memendam sendiri sebab semua sedang berjuang dan jangan sampai ada pikiran – pikiran yang merusak atau mengganggu imun.  “Kalau ada masalah ceritakan saja, jangan memendam sendiri,” pinta dr. Sri Antari.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. Rustan Saru, MM., mengaku terkejut dengan peristiwa pasien Covid-19 yang ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di tempat karantina terpusat Satgas Covid-19 Kota Jayapura, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kota Jayapura, Senin (5/4) lalu. “Kami juga tiba-tiba kaget dan prihatin dengan peristiwa dimana satu pasien Covid-19 di LPMP meninggal dengan cara gantung diri,” ucap Rustan Saru, Selasa (6/4) kemarin.

Berdasarkan informasi yang diterimanya dari petugas di lapangan, diketahui bahwa pasien tersebut masuk LPMP pada 1 April yang lalu. Dengan kata lain, yang bersangkutan baru 4 hari di LPMP. “Selama di LPMP, kami tanya teman-teman sesama pasien, katanya pasien selalu berkomunikasi baik dengan mereka. Pasien juga melakukan aktivitas  seperti biasanya dengan baik. Seperti olahraga dan makan,” ungkapnya.

“Bahkan, malam itu mereka sempat main gaplek bersama dengan pasien lain. Di pagi hari, ketika ambil sarapan, bahkan istrinya datang ke LPMP pukul 9.00 WIT pagi membawakan makanan/minuman, seperti jamu, tapi belum diambil oleh pasien,” sambungnya.

Namun saat jam makan siang, pasien tersebut menurut Rustan Saru tidak muncul-muncul. Bahkan sampai selesai jam makan siang pun pasien tak terlihat. “Petugas mengambil inisiatif untuk mengetuk pintu ruangan pasien namun tak dibuka. Petugas kami kemudian menggunakan kamera handphone untuk mengecek dalam ruangan dan terlihat bahwa pasien sudah gantung diri. Pintu didobrak petugas, dan diketahui bahwa pasien menggunakan sepreia tempat tidur untuk gantung diri di kamar mandi,” tambahnya.

Dengan peristiwa ini, Rustan sangat kaget dan merasa prihatin. Pasalnya, pasien ini berkomunikasi sangat lancar, bersosialisasi, dan tidak menyendiri, namun perisitiwa ini bisa terjadi. “Secara psikologis, keluarga ada dan tidak ada persoalan, makanya kami minta Polisi melakukan penyelidikan. Pasien sudah divisum di RS Bhayangkara, dan kami serahkan kepada Kepolisian untuk melakukan penyelidikan terkait penyebab kematian,” tambahnya.

“Kita harap ada solusi. Karena saya lihat ini bukan karena stress, bukan karena penyakit (Covid-19) juga. Karena pasien bersosialisasi, dan juga selalu komunikasi dengan sesama pasien dan petugas kami,” pungkasnya. (ade/gr/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *