Di Lereng Menoreh, Aipda Suranto Gunakan Kopi Cegah Kerawanan

SINERGI: Aipda Suranto bersama warga Purwosari menunjukkan tanaman kopi yang jadi produk andalan desa tersebut.

Polisi-Polisi yang Menginspirasi (2-Habis)

Aipda Suranto mengajak warga mengolah kopi dan salak serta memanfaatkan potensi wisata efek jalan tembus ke bandara baru Jogjakarta. ”Menjadi polisi itu amanah dan harus dipertanggungjawabkan,” katanya.

ILHAM WANCOKO, Jakarta, Jawa Pos

PANDEMI Covid-19 membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Pengangguran, yang bisa berbuntut pada tingginya tingkat kerawanan sosial, mulai merayap masuk ke pedesaan. Termasuk ke Purwosari, desa nun di lereng Bukit Menoreh di Kulon Progo, Jogjakarta. Gejala itu pun ditangkap anggota bhabinkamtibmas (Bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat) Polsek Girimulyo Aipda Suranto.

Apalagi, keluhan terus berdatangan sejak pandemi mendera setahun lalu. Mulai orang tua yang sambat anaknya menganggur sampai warga yang mengeluhkan banyaknya pemuda yang nongkrong. Dari sanalah, dimulai langkah untuk menemukan solusi atas masalah ekonomi yang membelit. Dengan prinsip: harus sejalan dengan potensi yang dimiliki desa. Aipda Suranto bersama kepala desa setempat dan babinsa (bintara pembina desa) Koramil Girimulyo pun mulai membicarakannya. Akhirnya, ditemukan jalan: kopi.

Warga Purwosari yang mendiami 13 dukuh itu memang memiliki banyak tanaman pangan di kebun perbukitan. Mulai kopi, salak, jahe, kencur, hingga pegagan. ”Potensi itu bisa ditangkap dari obrolan bersama warga,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Aipda Suranto menuturkan, kalau hanya menjual biji kopi atau mentahan, petani justru akan merugi. Harganya yang murah malah membuat petani enggan menanam. ”Kasihan petaninya,” katanya.

Karena itulah, bersama warga, Suranto memutuskan untuk mengolah kopi milik warga. Dengan bersama-sama membeli mesin dan belajar mengolah biji kopi sampai menjadi kopi bubuk yang siap konsumsi. Kopi itu dinamai: Kopi Menoreh Tumpangsari. ”Ini rintisan dari pemuda-pemuda Tegalsari (nama salah satu dukuh, Red), Purwosari,” jelas polisi yang memiliki gelar sarjana pendidikan tersebut.

Bukan hanya kopi, Aipda Suranto dan warga juga tengah menyiapkan olahan salak menjadi keripik salak atau sebagainya. Kebetulan, Purwosari juga akan dilewati proyek jalan tembus Menoreh. Dari arah Magelang, Jawa Tengah, menuju Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo. ”Kami berupaya agar masyarakat tidak hanya jadi penonton,” tuturnya.

Dengan jalan tembus itu dan pembangunan bandara, akan banyak pelancong yang melewati Purwosari. Potensi yang tidak boleh didiamkan. Namun, di sisi lain, sumber daya manusianya harus dipersiapkan. ”Alhamdulillah, setelah berbagai upaya, sudah ada beberapa homestay di Purwosari,” ungkapnya.

Selanjutnya dipikirkan cara agar kampung wisata memiliki daya tarik. Dipetakan apa yang bisa menjadi oleh-oleh.

Suranto asli Kulon Progo. Anak penjual geblek, makanan khas kabupaten di Jogjakarta tersebut. ”Dari semua saudara, yang jadi polisi saya saja,” terangnya.

Semua upaya Aipda Suranto itu dijalankan di sela tugas sebagai anggota bhabinkamtibmas yang menaungi 13 dusun dengan jumlah warga sekitar 6.000 jiwa. Sebuah tugas yang tidak ringan. Apalagi, secara geografis Purwosari terletak di lereng Bukit Menoreh. Dengan kondisi jalan naik-turun. Saat musim hujan, tanah longsor rawan terjadi. Ketika kemarau, kekeringan mengancam. Kondisi tersebut yang mendorong Suranto menggandeng relawan kampung siaga bencana (KSB). ”Ini bentukan BPBD (badan penanggulangan bencana daerah) yang terus saya ikut koordinasi,” urainya.

Ada berbagai aktivitas yang dijalankan KSB. Mulai bedah rumah hingga membagikan sembako. ”Bedah rumah ini kami patungan. Ada yang memberi kayu, semen, dan sebagainya,” jelasnya.

Aipda Suranto memahami bahwa tugas bhabinkamtibmas memang luas. Mencakup aspek keamanan, ekonomi, dan sosial. Saat persoalan ekonomi menjadi masalah, tentu bisa muncul gangguan kamtibmas. Sebelum kejahatan terjadi, bhabinkamtibmas mesti berupaya mencegahnya.

Dengan posisinya sebagai bhabinkamtibmas pula, dia berupaya sebisa-bisanya tidak menangkap orang. Dia merasa bahwa bhabinkamtibmas juga mengemban tugas restorative justice. Dengan berbagai upaya itu, Suranto berharap pandangan negatif masyarakat terhadap kepolisian bisa berubah. ”Saya berupaya tidak pernah menyakiti masyarakat. Menjadi polisi itu amanah dan harus dipertanggungjawabkan,” jelasnya. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *