Atasi Permasalahan Papua, Pengawasan Inpres 9 Tahun 2020 Harus Kuat

Suasana rapat bersama Rombongan Kantor Staff presiden bersama Pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Sekda Provinsi Papua dan juga kepala daerah yakni Wali Kota Jayapura  dan Bupati Jayapura di Swiss-bel Hotel Jayapura, Selasa (6/4) kemarin. ( FOTO: Yohana/Cepos)

JAYAPURA – Rombongan Kantor Staff Presiden bersama Pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Sekda Provinsi Papua dan juga kepala daerah yakni Wali Kota Jayapura  dan Bupati Jayapura gelar rapat,  terkait Inpres  9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat di Swiss-bel Hotel Jayapura, Selasa (6/4) kemarin.

Sekda Provinsi Papua, Dance Yulian Flassy mengatakan, Inpres nomor 9 Tahun 2020 harus kuat dan berada di bawah kendali Wapres atau Presiden dan pengawasannya langsung oleh Wapres maupun Presiden.

“Hal ini agar apa yang disampaikan dalan Impres  tidak hanya berjalan tanpa dikoordinir langsung. Kalau Inpres ini loyo-loyo saja sampai akhir tidak ada hasilnya. Untuk itu Inpres ini harus benar-benar kuat,”ujarnya kepada Cenderawasih Pos, Selasa (6/4).

Dengan demikian koordinasi inpres tersebut harus dibawah kendali orang nomor 1 atau nomor 2 di Indonesia, mengingat kementerian lembaga mempunyai program dan rencana ke depan adalah percepat kesejahteraan dan pembangunan Papua.

“Kalau bisa Inpres ini harus kuat pengawasannya. Kalau tidak Inpres ini hanya tinggal nama saja. Karena sampai sekarang teman-teman para bupati tanya, Inpres ini ada namun uangnya mana, untuk mengimplementasikan  Inpres tersebut,” jelasnya.

Lanjutnya, persoalan di Papua ini disparitas harga. Disparitas harga ini berat di Papua khususnya untuk daerah-daerah pegunungan. Contohnya, untuk telur saja satu butir bisa sampai Rp 15 ribu belum lagi kita bicara tentang inflasi dan sebagainya.

”Jadi untuk percepatan pembangunan kesejahteraan di Provinsi Papua harus struktural. Pengawasan Inpres 9 Tahun 2020 harus kuat untuk mengatasi permasalahan di Papua,”tandasnya. (ana/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *