Akademisi: Tak Ada Koordinasi dari CIQS Soal Jalan Tikus

DR Melyana Pugu M.Si (Gamel Cepos)

Mantan Tim Relawan Lukas Enembe: Kepergian Gubernur ke PNG Tak Perlu Dibesar-besarkan

JAYAPURA    Hingga kini perjalanan gubernur, Lukas Enembe melalui “jalan tikus” ke PNG masih menjadi sorotan hangat publik. Tak hanya publik sebenarnya sebab kasus ini sudah sampai ke pemerintah pusat bahkan sempat menjadi isu kedua secara nasional setelah pernikahan Atta Halilintar.  Terlepas dari itu, Ketua Pusat Studi Indo-Pasific, DR Melyana Pugu M.Si  menyampaikan bahwa dalam pengelolaan dan penanganan kawasan perbatasan sejatinya ditangani oleh sejumlah komponen elemen dasar.

Elemen dasar yang mengelola perbatasan adalah CIQS yaitu Costum, Imigrastion, Quarantine, Security. Komponen di atas mulai dari bea cukai, karantina kesehatan, karantina hewan, karantina tumbuhan dan manusia dan security atau pengamanan perbatasan (Pamtas) ditambah badan pengelolaan perbatasan nasional dan BPKLN Provinsi Papua. “Ini semua dasarnya termasuk elemen masyarakat. Nah elemen dasar ini yang menurut saya yang patut bertanggungjawab soal jalan tikus itu,” jelas Melyana di Abepura, Selasa (6/4).

Ia menyampaikan dari persoalan jalan tikus ini pelajaran yang bisa diambil adalah siapapun yang melewati batas negara baik keluar ataupun masuk tanpa pas lintas batas, tanpa visa, tanpa identitas yang jelas maka  bisa dijerat  dengan peraturan imigrasi nomor 6 tahun 2011 pasal 1 yang menyebut setiap orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia wajib memiliki dokumen perjalanan sah yang masih berlaku.

Apalagi saat ini sedang covid  dimana sejak Februari 2020 Papua juga sudah tutup sehingga akses di perbatasan memang seharusnya ditutup. Alumni UGM ini menilai ada ketidaksinergitasan dari para elemen dasar tadi. Harusnya bisa dimaksimalkan  sehingga tak perlu terjadi insiden baru semuanya saling berkoordinasi.

“Ini bisa jadi evaluasi bersama  sebab bisa saja tidak hanya gubernur yang melintas tapi masyarakat pasti lebih banyak yang melintas,” bebernya. Melyana juga menyampaikan bahwa keputusan Mendagri sudah tepat, memanggil dan mengingatkan gubernur soal aktifitasnya dan menjelaskan soal sanksi.

  “Saya pikir pak Lukas ini lalai saja dan mungkin hanya mendengar dari orang terdekatnya meski sebenarnya antara Papua dan PNG punya kerjasama sister province dan sister city sehingga dari kerjasama ini seharusnya bisa digunakan dan pak gubernur tidak perlu harus lewat jalan tikus seperti itu. Saya pikir orang yang mendampingi beliau ini yang perlu ditanyakan sebab gubernur pastinya hanya mengikuti saja,” sindirnya.  Selain itu seharusnya perjalanan ke PNG ini tidak dilakukan mengingat dalam dua minggu  terakhir ini angka covid 19 dan malaria di PNG sedang meningkat karenanya akses keluar masuk memang tidak diperbolehkan oleh kedua negara.

Ini juga yang nampaknya tidak dipahami oleh orang yang mengajak pak gubernur ke PNG. “Jadi catatan saya seperti itu, elemen dasarnya ini yang harus dievaluasi sebab CIQS ini yang lemah dan minim komunikasi. Saya pikir jika ada komunikasi dan koordinasi yang baik maka masalah ini tidak akan terjadi,” pungkasnya.

Sementara itu mantan Ketua Tim Relawan Lukas Emembe Dorus Wakerkwa Secara Tegas mengatakan kesalahan Gubernur Papua yang pergi ke PNG tidak perlu lagi dipersoalkan dan dikaitkan dengan isu lainnya yang merugikan gubernur dalam keadaan sakit saat.

“Seni budaya sama, dan punya hubungan  perkawinan, dalam mata pencarian baik sektor perdagangan, perikanan, apalagi dalam pertolongan aspek kemanusiaan untuk kesehatan saling memperhatikan dan saling melengkapi dalam solidaritas yang utuh sebagai satu rumpun, makan gubernur ke PNG  lewat jalan setapak tidak perlu dibesar-besarkan, dan kami berharap dan media tidak melebih-lebihkan berita,” Katanya,  di Abepura, Selasa, (6/4).

“Mari semua Pray for Lukas Enembe and save selamatkan LE, jangan sebar berita hoax dan melihat dari sisi kemanusiaan karena Pak Lukas Sudah mengaku dengan alasan sakit sehingga beliau melakukan tindakan pengobatan tradisional di negara PNG,” katanya. (ade/oel/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *