Maret, NTP Provinsi Papua Turun

Kepala BPS Provinsi Papua, Adriana Helena Carolina, saat menggelar konferensi pers di ruang kerjanya, Sabtu (29/8) lalu.  (Foto:Yohana/Cepos)

JAYAPURA – Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).

Kepala  BPS Provinsi Papua Adriana Helena Carolina mengatakan, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang  dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

“Pada bulan Maret 2021, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Papua turun -0,10 persen dengan indeks NTP sebesar 102,90. Perubahan terjadi karena penurunan indeks harga yang diterima petani (It) lebih dalam dari pada penurunan indeks harga yang dibayar petani (Ib),” katanya dalam rilis kepada Cenderawasih Pos, Senin (5/4) kemarin.

Diakuinya, NTP Nasional Maret 2021 sebesar 103,29 atau mengalami peningkatan 0,18 persen dibanding NTP bulan sebelumnya.  NTP Provinsi Papua bulan Maret 2021 menurut subsektor yaitu, NTP Subsektor Tanaman Pangan 102,40, NTP Subsektor Hortikultura 97,89; NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 99,84, NTP Subsektor Peternakan 106,74, dan NTP Perikanan 114,58.

“Dari 34 provinsi yang dilakukan penghitungan NTP pada Maret 2021 menunjukkan bahwa 22 provinsi mengalami peningkatan NTP. Sementara 12 provinsi lainnya mengalami penurunan NTP dimana  Provinsi Bangka Belitung tercatat mengalami kenaikan NTP tertinggi yaitu 3,93 persen dan Nusa Tenggara Barat tercatat mengalami  penurunan terbesar yaitu sebesar -1,84 persen.

“Pedesaan Papua pada Maret 2021 tercatat mengalami penurunan Indeks Konsumsi Rumah tangga (IKRT) sebesar -0,10 persen. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Papua pada Maret 2021 adalah 105,60 atau mengalami penurunan sebesar -0,18 persen,” jelasnya. (ana/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *