Korban Pembunuhan Diterbangkan ke Toraja Utara

Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua didampingi Kapolres dan Jayawijaya saat menemui warga yang menggelar aksi Solidaritas Paguyuban Nusantara di Kantor Otonom Jayawijaya, Kamis (1/4). (FOTO:Denny/ Cepos)

WAMENA-Jenazah Ida Patandianan (40) yang menjadi korban kekerasan saat berada di kiosnya di Sinakma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, diterbangkan ke kampung halamannya Toraja Utara, Kamis (1/4) sekira pukul 12.30 WIT.
Jenazah korban kekerasan yang dilakukan dua pria tak dikenal yang dalam kondisi dipengaruhi minuman keras, diantara ribuan warga baik keluarga maupun simpatisan serta beberapa warga paguyuban yang ada di Wamena.
Setelah jenazah diterbangkan dari Bandara Wamena, warga yang berkumpul di bandara Cargo Wamena langsung mendatangi Kantor Otonom Pemda Jayawijaya untuk melakukan aksi solidaritas.
Warga menuntut adanya keadilan dan jaminan keamanan bagi warga non OAP yang dinilai selalu menjadi korban kekerasan. Aksi solidaritas ini yang dipimpin mantan Ketua IKT Jayawijaya, Titus Tampanggallo dan Ketua Paguyuban Nusantara Rudy Beai
“Kedatangan kami ke sini menuntut keadilan dari pemerintah daerah dan pihak keamanan. Karena dalam beberapa waktu terakhir ini warga non OAP yang ada di Wamena selalu menjadi korban kekerasan. Seperti bapak Bobi yang dibacok di Distrik Musatfak belum lama ini dan sekarang ibu Ida Pantadianan yang menjadi korban. Ironisnya korban dibunuh di depan anaknya yang berusia 10 tahun,” ungkap Titus di hadapan Foropimda Jayawijaya.
Titus juga menyatakan memberikan waktu kepada pihak keamanan 5×24 untuk mencari pelaku pembunuhan untuk diproses hokum. Karena apabila belum didapat maka warganya sendiri yang mencari.
Menanggapi aksi solidaritas itu Kapolres Jayawijaya AKBP Dominggus Rumaropen mengatakan masih mendalami kasus kasus kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Bahkan ia sendiri sejak malam memimpin anggotanya melakukan pencarian kepada pelaku yang melakukan tindakan criminal.
“Saya ingin sampaikan jika tanpa kalian melakukan aksi demo, sudah menjadi tanggung jawab dan panggilan dari Kepolisian untuk menangani masalah ini. Dalam kasus ini kami tidak bisa sembarang tangkap orang dengan ciri-ciri yang disebutkan tanpa ada saksi yang menyaksikan atau mengenali pelaku,” jelasnya.
Kapolres menegaskan, Kepolisian perlu melakukan pendalaman dan klarifikasi mencari saksi yang melihat pelaku agar bisa dilakukan penindakan atau penangkapan. Oleh karena itu ia meminta warga untuk menyerahkan kasus ini kepada kepolisian yang akan mengungkapnya.
“Kalau waktu yang diberikan 5×24 jam itu, tidak menutup kemungkinan bisa lebih dan juga bisa kurang dari waktu yang diberikan. Sekarang biarkan kami yang melakukan pendalaman dan mencari para pelaku kejahatan ini,” pintanya.
Di tempat yang sama Dandim 1702/Jayawijaya, Letkol Inf. Arif Budi Situmeang mengaku sangat menyesalkan adanya masalah ini. Sebab kejadian tersebut masih tergolong waktu yang belum terlalu malam, namun tidak ada tentangga dari korban sebelah kiri dan kanan yang merespon atau menolong korban seakan hidupnya individual.
“Jangan melihat pas ada keributan langsung tutup kios dan tidak keluar menyelamatkan diri sendiri. Nanti kalau sudah ada korban seperti ini kelihatannya sangat kompak menuntut ini dan itu, tapi kalau membantu sesama tidak dilakukan seakan hidupnya individual,”tegasnya
Sementara itu Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua Menyampaikan jika akar dari permasalahan kekerasan yang selama ini terjadi adalah Miras dan semua jenis judi yang sering dilakukan oleh oleh masyarakat. Akibat tidak punya uang untuk beli minuman atau togel, maka terjadi tindakan kriminal untuk memenuhi itu.
“Kalau mau kita berantas sama-sama. Siapa yang jual minuman silakan laporkan kepada saya langsung atau Kapolres dan Dandim. Kami bersama-sama akan memberantas semua penyakit masyarakat yang meresahkan,”tegasnya. (jo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *