Peresmian Masjid Al-Muhajirin di Pulau Kosong, Bentuk dari Toleransi

Ondoafi Kampung Kayo Pulau, Nicolas Youwe, meresmikan Masjid Al-Muhajirin di Pulau Kosong, Distrik Jayapura Utara Sabtu (27/3) lalu. ( FOTO:Yewen/Cepos)

JAYAPURA- Peresmian Masjif Al-Muhajin yang berada di Pulau Kosong, Distrik Jayapura Utara (Japut), Kota Jayapura merupakan bentuk dari toleransi yang ada di Kota Jayapura secara umum di Papua.

Ondoafi Kampung Kayo Pulau, Nicolas Youwe melakukan peresmian secara langsung terhadap pembangunan Masjid Al-Muhajirin di Kampung Pulau Kosong.

Mewakili pemilik hak ulayat, Ondoafi Nicolas Youwe mengatakan, ini merupakan bentuk peduli dan dukungan dari pihaknya sebagai para pemilik hak ulayat di bumi Port Numbay. “Ini merupakan bentuk dari peduli dan dukungan dari kami, debab tokoh agama dan masyarakat di Kampung Pulau Kosong telah meminta izin melakukan renovasi pembangunan masjid di Kampung Pulau Kosong,” ucapnya.

Youwe menyampaikan, pembangunan Masjid Al-Muhajirin merupakan bentuk toleransi terhadap umat beragama, yang telah ada sejak dulu antara masyarakat di Kampung Kayo Pulau dan Kampung Pulau Kosong. “Toleransi yang telah dibangun ini adalah ikon dan contoh bagi wilayah lain di Indonesia,” ucapnya.

Kata Youwe bahwa yang terpenting adalah keberagaman ukat beragama, khususnya yang ada di Kota Jayapura yang sudah ada sejak dulu saling menghargau sebagai pemilik wilayah. “Sangat berharap keberagaman ini terus terjaga dengan baik di Kampung Kayo Pulau dan Pulau Kosong,” harapnya.

Sementara itu, Imam Masjid Al-Muhajirin Pulau Kosong, Haji Muhammad Angga menyampaikan, masjid yang berada di Pulau Kosong ini pertama kali dibangun pada tahun 80-an yang hingga saat ini baru pertama kali direnovasi.

“Pertama kali di renovasi pembangunan masjid Al-Muhajirin, mulai awal oktober 2020 selama 5 bulan pekerjaannya, dengan pengunaan anggaran dari para donasa yang kurang dari 400 jutaan untuk pembangunan masjid,” ujarnya.

Angga menyatakan, dengan renovasi yang telah rampung, dapat memberikan dampak positif bagi warga Pulau Kosong, untuk melaksanakan ibadah, serta menjadi satu- satunya sarana yang dapat memudahkan pengunjung ketika di Pulau Kosong (bet/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *