Ditodong Senjata Saat Pelayanan Bansos, Temui Warga dengan Pakaian Preman

BERI ARAHAN: Dandim 1715/Yahukimo Letkol Inf Christian  FR Ireeuw memberikan arahan kepada anggota TNI yang bertugas di Kenyam, Kabupaten Nduga.( FOTO: Elfira/Cepos)

Sertu Thimuis Nirigi. ( FOTO: Elfira/Cepos)

Sertu Thimuis Nirigi  Putra Asli Nduga yang Bertugas di Tanah Kampung Halamannya

Setelah berdinas di Sentani dan Timika, anggota TNI Sertu Thimuis Nirigi putra asli Nduga, bertugas di kampung halamannya Kabupaten Nduga. Bagaimana kisahnya ?

SUHU di Kenyam, ibukota Kabupaten Nduga mencapai 21 derajat Celcius ketika Cenderawasih Pos mengikuti kegiatan kunjungan Komandan Kodim (Dandim) 1715/Yahukimo Letkol Inf Christian  FR Ireeuw, 17 Februari 2021 lalu.

Hujan mengguyur yang mengguyur Kenyam saat itu, tidak membuat aktivitas warga terganggu. Di pinggir jalan Pasar Kenyam yang tak jauh dari bandara, terlihat mama-mama Papua menjajakan jualannya.

Ada tumpukan ubi, keladi, sayur mayur, pinang, sereh, pisang dan hasil kebun lainnya yang baru saja dipanen dari kebun dijajakan dengan wajah khas mama-mama papua yang ramah. Sedang noken, tetap melekat pada tubuh mereka.

Di lain sudut, anggota TNI yang ada di Pos-pos di Kenyam tetap siaga berjaga lengkap dengan senjatanya memastikan situasi ibu kota Kabupaten Nduga tetap aman dan kondusif.

Pagi itu, pos-pos TNI yang berlokasi di Kenyam seperti Koramil, Satgas Ter, Danyon/700, Satgas Elang dan anggota  TNI lainnya mendapatkan kunjungan dari Dandim 1715/Yahukimo Letkol Inf Christian  FR Ireeuw.

Kunjungan Dandim ini menyusul beberapa rentetan kejadian yang terjadi di daerah pegunungan Tengah Papua seperti Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Puncak.

Kedatangan putra asli Port Numbay itu untuk memberikan pembekalan terhadap anggota TNI yang ada di Kabupaten Nduga khususnya yang ada di Kenyam.

“Kita harus baik-baik dengan masyarakat seperti apa yang disampaikan Danrem. Terutama kepada tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat yang ada di sini. Itu salah satu cara agar kita bisa mengambil hati mereka, sehingga selama bertugas semuanya berjalan dengan baik,” ungkap Dandim Christian  Ireeuw kepada anggotanya sat itu.

Di antara personel TNI yang mendengarkan arahan Dandim Christian  Ireeuw, terdapat Sersan Satu (Sertu) Thimuis Nirigi. Putra asli Nduga ini terlihat menyimak dengan baik apa yang disampaikan pimpinannya itu.

Sebelum bertugas di halamannya sebagai Babinsa Kodim 1715/Yahukimo, ayah empat orang anak ini pernah bertugas di Batalyon Infanteri (Yonif) 700/Raider, Sentani Kabupaten Jayapura dan Yonif 754/ENK, Timika, Kabupaten Mimika.

Usai mengikuti Secaba, T. Nirigi ditugaskan di Kodim 1702/Jayawijaya dan pada tahun 2010 ia ditugaskan di kampung halamannya Kabupaten Nduga.

Meskipun bertugas di kampung halaman sendiri, tidak mudah bagi T. Nirigi menjalankan tugasnya sebagai seorang anggota TNI.

Berbagai tugas berat, ia jalani di antaranya ikut mengevakuasi korban pembantaian terhadap pekerja bangunan jembatan di Distrik Yigi, tahun 2018 silam.

Tugas lain yang pernah dilakoni pria berusia 43 tahun ini yaitu  saat terjadi penembakan pesawat, perampasan senjata dan kejadian lainnya di Nduga.

Sebagai seorang Babinsa, Sertu Thimuis juga masuk ke tengah masyarakat  menjalin komunikasi dengan menggunakan bahasa lokal.

Meskipun demikian, niat baiknya dalam membantu masyarakat di tanah kelahirannya, terkadang tidak mendapat respon yang baik.

Tahun 2019, Thimuis pernah ditodong senjata saat melakukan pelayanan Bansos di Distrik Mugi.

Todongan senjata tersebut tak lantas membuat ia patah semangat atau mundur dari tugas. Berbagai cara ia lakukan agar bisa mengambil hati masyarakat demi keamanan Nduga. Ia mengakui bahwa sebagian masyarakat Nduga merasa ketakutan jika melihat orang yang berpakaian loreng.

Thimuis tak kehabisan akal, ketika warga takut dengan seragam loreng. Ia mengambil hati masyarakat dengan turun langsung menemui masyarakat menggunakan pakaian preman. Ia melakukan itu semua agar rasa aman tetap ada di tanah Nduga.

“Saya masuk di tengah masyarakat menggunakan bahasa daerah, menyampaikan tugas Babinsa   bukan untuk mengejar warga, melainkan merangkul masyarakat. Di mana ada kegiatan gereja, di situlah kami membantu,” jelasnya.

Sementara itu rekan Thimuis Nirigi, Sertu Pauli Yadi yang bertugas sebagai Bamin Ops Kodim Persiapan Nduga, juga mempunyai kisah tersendiri selama bertugas di Nduga.

Meskipun dirinya bukan putra asli Papua, Sertu Yadi yang sudah bertugas sebagai anggota TNI selama 23 tahun di bumi Cenderawasih, menilai masyarakat Nduga sangat ramah dengan warga yang bukan penduduk asli.

“Masyarakat Nduga itu sangat ramah terhadap pendatang, kalau ketemu pasti memberi salam dengan khas mereka,” kata Sertu Pauli Yadi sembari menyantap makanan yang ada di atas meja.

Berbagai suka duka juga dirasakan Sertu Pauli Yadi selama bertugas di Nduga. Salah satu kendala terberatnya yaitu komunikasi dengan keluarga.

Sulitnya mengakses jaringan telekomunikasi di Nduga, membuat Sertu Yadi jarang berkomunikasi dengan keluarganya. Kalaupun berkomunikasi dengan keluarga, dirinya harus numpang mengakses jaringan Wifi seminggu sekali.

 “Sebelum ditugaskan ke Nduga, komunikasi via telepon bersama keluarga lancar. Setiap saat dilakukan, entah itu video call atau telepon. Namun ketika berada di Nduga, 25 kali pencet tombol panggilan baru bisa masuk. Itupun ketika kita menelepon, kelarga sudah tidur lantaran jaringan bagus ketika pukul 24.00 atau pada pukul tiga dini hari,” ucapnya.

Meskipun demikian, hal itu tidak menurunkan semangatnya dalam menjalankan tugas. “Apapun yang terjadi di Nduga hari ini, saya berharap Kabupaten Nduga menjadi Kabupaten yang maju ke depannya,” tutupnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *