Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati

JAKARTA, Jawa Pos – Musim penghujan tengah mendekati penghujung waktu. Sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau April 2021. Puncaknya, Agustus 2021.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan, pihaknya memprediksi peralihan angin monsun akan terjadi pada akhir Maret 2021. Setelahnya, Monsun Australia akan mulai aktif. Karena itu, Musim Kemarau 2021 diperkirakan mulai terjadi pada April 2021.”Awal musim kemarau tidak serempak. Bertahap,” ujarnya, kemarin (25/3).

Pada April 2021, sebanyak 22,8 persen Zona Musim (ZOM) akan mulai mengalami kemarau. Seperti, wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa.

Kemudian, 30,4 persen wilayah akan memasuki kemarau pada Mei 2021. Diantaranya, sebagian Nusa Tenggara, sebagian Bali, Jawa, Sumatera, sebagian Sulawesi, dan sebagian Papua. Disusul pada Juni, Juli, hingga puncaknya yang terjadi pada Agustus 2021.

”Meski awal kemarau tak bersamaan, tapi puncak sebagian besar, 67,3 persen wilayah ZOM mengalami puncak kemarau bersamaan di Agustus,” jelasnya.

Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengungkapkan, meskipun sudah masuk kemarau, namun April-Mei masih masuk masa peralihan atau pancaroba. Karenanya, ia mewanti-wanti agar masyarakat tetap waspada akan potensi hujan lebat dengan durasi singkat, angin kencang, puting beliung, dan potensi hujan es yang biasa terjadi pada periode tersebut.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, bahwa jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Awal Musim Kemarau pada periode 1981-2010, maka Awal Musim Kemarau 2021 di Indonesia diprakirakan mundur pada di sebagian besar wilayah. Lalu, bila dibandingkan terhadap rerata klimatologis akumulasi curah hujan musim kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2021 diprakirakan normal.

”Artinya, Musim Kemarau 2021 cenderung normal dan kecil peluang terjadinya kekeringan ekstrim seperti 2015 dan 2019,” ungkapnya.

Kemudian, sebagian wilayah juga akan mengalami kemarau lebih basah. Curah hujannya lebih tinggi dari rerata klimatologis. Sehingga, meski kemarau masih akan terjadi hujan dalam satu bulannya. Namun, ada juga yang mengalami bawah normal atau lebih kering dari reratanya.

”Kemarau lebih kering ini terjadi di Riau, sebagian kecil Sumatera Barat, Bengkulu, sebagian Jawa Barat, Jawa Timur, dan sebagian kecil Sumatera Utara,” paparnya.

Bagi daerah-daerah tersebut, ia berpesan, agar pemerintah daerah (pemda) dan masyarakat mewaspadai potensi kebakaran hutan. Kemudian, bagi daerah yang rawan kekurangan air bersih, ia menghimbau agar mulai Juli sudah melakukan penyimpanan air. Baik itu di waduk, embung, ataupun lainnya. ”Untuk pertanian, guna menekan pengurangan hasil maka pengelolaan air harus lebih hemat dan gunakan varietas toleran kekeringan,” pungkasnya. (mia/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *