TSE Bantu Yanuaris Keluar dari Jurang Kemiskinan

Aktivitas di perkebunan kelapa sawit milik Tunas Erma Grup di Papua, Rabu (24/3)( FOTO:  TSE For Cepos)

MERAUKE – Selama lebih dari tiga dekade, Yanuarius Tapung atau akrab disapa Yanu hidup dalam serba kekurangan. Untuk sekadar makan, warga asli Merauke, Papua, itu sering kali harus menahan diri. Apalagi untuk membiayai pendidikan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.

Kala itu, Yanu hanya bisa berharap dari pendapatannya sebagai seorang petani dan berkebun yang sangat minim. Makan tiga kali sehari menjadi sebuah kemewahan yang jarang dirasakan.

“Boleh dikatakan, hidup ini memang setengah mati. Untuk makan saja, terkadang hanya dua kali sehari,” ucap lelaki kelahiran 56 tahun silam itu.

Kehidupan Yanu perlahan berubah pada 2007. Saat itu, di penghujung usia kepala tiganya, Yanu mendapat kesempatan untuk bekerja di PT Tunas Sawa Erma (TSE) yang bergerak di perkebunan kelapa sawit di Boven Digoel, Papua.

Perjalanan Yanu untuk lolos rekrutmen TSE membutuhkan waktu. Setelah menyiapkan sejumlah berkas sebagai syarat administrasi, ia harus melewati proses wawancara dengan tim manajemen perusahaan.

Berbekalkan kegigihan yang dimiliki, Yanu pun lolos seleksi untuk masuk ke bagian personalia. Sesuai dengan ketentuan perusahaan, ia harus tinggal di mess karyawan yang sudah dibangun perusahaan di area kerja, tepatnya di daerah Asiki, Boven Digoel, Papua.
Sejak bekerja di TSE, kehidupan ekonomi laki-laki yang kini memiliki empat orang anak itu membaik. Kebutuhan perutnya mampu terpenuhi dengan lebih baik, pun dengan pendidikan sang buah hati.

Terlebih lagi, anak pertamanya kini sudah dapat menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Merauke. Tidak hanya itu, dengan pemasukannya, Yanu mampu membangun tempat tinggal yang nyaman. Ia juga bisa membantu keluarga besarnya. “Manfaat saya kerja di sini (re: TSE) juga bisa bantu keluarga. Banyak orang merasakan berkah,” tuturnya.

Pencapaian itu tidak diraih Yanu dengan mudah. Dengan pengalaman di bidang administrasi yang seadanya, ia masih harus banyak belajar untuk ‘mengejar’ ketertinggalan. Terlebih, saat pertama kali bekerja di TSE, usianya tidak lagi muda, yakni 39 tahun.

Tapi, Yanu beruntung punya banyak rekan kerja yang sering membantu. Teman-teman dan atasannya yang sudah lama bekerja tidak sungkan untuk memandu Yanu dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Tantangan lain yang dihadapi Yanu adalah hubungan jarak jauh dengan istri dan empat anaknya. Jarak antara Boven Digoel dengan Merauke yang memakan waktu tempuh hingga lima jam tidak memungkinkan Yanu untuk pulang ke rumah setiap hari.

Salah satu momentum yang paling ditunggunya adalah Hari Raya Natal. Saat itu, Yanu bisa sejenak melepaskan kerindungannya dengan keluarga untuk beribadah.

Sesekali, Yanu juga menyempatkan waktu untuk pulang sebentar. Asalkan untuk tujuan keluarga, perusahaan akan memberikan izin pada Yanu untuk kembali ke Merauke satu atau dua hari.
Sudah 14 tahun mengabdi ke TSE, Yanu memiliki banyak harapan pada perusahaan. Paling utamanya, harapan agar TSE dapat terus maju dan berkembang sehingga bisa menyerap banyak tenaga kerja Orang Asli Papua (OAP).

“Sehingga mereka bisa bekerja di sini dan perekonomiannya terbantu,” katanya.
Yanu merupakan satu dari sekian banyak OAP yang bekerja pada perusahaan Tunas Sawa Erma Group (TSE Group) di Papua. Menurut data manajemen, sejak tiga tahun terakhir, sudah lebih dari 2.400 tenaga kerja OAP yang terserap. Mereka tersebar di beberapa perusahaan naungan TSE Group, seperti PT TSE, PT Berkat Cipta Abadi dan PT Dongin Prabhawa.
Direktur Human Resource dan General Affair (HR-GA) TSE Group Ronny Makal menyebutkan, putra-putri asli Papua sudah menduduki berbagai posisi di perusahaan. Mulai dari kepala seksi, asisten manajer hingga manajer di lapangan maupun perkantoran.
TSE Group berkomitmen untuk terus menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat Papua, terutama para generasi muda. Tidak hanya mendorong kesejahteraan warga sekitar, juga untuk menekan jumlah pengangguran sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua.

“Kami berharap dapat memberikan banyak manfaat kepada masyarakat,” ucap Ronny.

Kemiskinan diketahui masih menjadi masalah besar di Papua.  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk miskin Papua lebih tinggi dari rata-rata nasional. Pada September 2020, tingkat kemiskinannya mencapai 26,80 persen, sedangkan nasional berada di posisi 10,19 persen. Angka kemiskinan di Papua bahkan menjadi yang tertinggi di Indonesia dibandingkan daerah lain. (Gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.