Ratusan Pengemudi Ojek OAP Minta Perda Proteksi

Para pengemudi Ojek OAP dan Becak yang melakukan aksi demo saat diterima langsung oleh Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua, SE, MSi, Senin (15/3). (FOTO:Denny/Cepos)

Bupati: Raperda Proteksi Ojek dan Pemasok Pinang Bakal Didorong Ke DPRD

WAMENA- Ratusan Warga dari komunitas tukang Ojek dan Tukang Becak yang merupakan anak asli daerah kembali melakukan aksi demo di Halaman Gedung Wenehule Hubi Kantor Otonom Kabupaten Jayawijaya, Senin (15/3). Mereka menuntut kejelasan dari aksi demo yang sebelumnya dilakukan pada Jumat (12/3) lalu yang meminta agar Tukang Ojek Non OAP yang liar ditertibkan serta memberikan kesempatan kepada OAP yang berjualan Pinang.
Para tukang ojek dan Tukang becak meminta kepada Pemkab Jayawijaya untuk segera membuat peraturan daerah khusus mengatur tentang ojek yang memberikan kesempatan bagi pengemudi ojek OAP, dan menertibkan ojek liar yang kian semakin banyak beroperasi di Wamena. Tuntutan yang kedua yakni memproteksi pedagang pinang agar hanya OAP saja yang berjualan pinang di Wamena.
Mereka meminta agar pemerintah sesegera mungkin untuk menyusun perda tersebut agar bisa diterapkan di Jayawijaya, karena mereka menilai saat ini peluang pekerjaan di Jayawijaya khususnya semua diambil oleh Non OAP baik ojek maupun penjualan pinang. Selain itu mereka juga menuntut agar rekannya yang ditahan kepolisian harus dibebaskan.
Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua, SE, MSi yang menerima langsung masa pengemudi Ojek dan Becak OAP yang beroperasi di Jayawijaya mengakui jika penyampaian aspirasi yang disampaikan ini telah dilakukan sejak minggu lalu kepada wakil Bupati pada saat demo pertama, dan itu sudah disampaikan kepadanya dan ia juga telah bertemu mereka.
“Kami menjanjikan perda yang ada sekarang ini akan diubah agar bagaimana untuk jasa ojek ini 100 persen yang menjalani adalah OAP, dari Bupati ke Bupati tak ada yang memikirkan ini makanya saya membuat 2 konteks perlindungan jasa Ojek dan pemasok, penjual pinang dari Jayapura ke Wamena,” ungkapnya Senin (15/3) kemarin.
Menurutnya masalah ojek ini mungkin sudah jelas akan dibuatkan perda dan ia sendiri telah meminta Kabag Hukum, Plt Sekda, Perhubungan dan Perindag untuk sama -sama melihat masalah ini untuk sama -sama didorong ke DPRD Jayawijaya untuk memproteksi OAP Jayawijaya.
Ia berpikir dua profesi ini harus diproteksi oleh pemerintah daerah supaya OAP bisa mengembangkan sektor ini sendiri tidak perlu harus menerima dari Non OAP baru direalisasikan kepada mama -mama pedagang pinang, dapat dilihat mama-mama yang jual dengan orang lain jual itu ada perbedaan.
“Kasihan mama -mama kita jual sedikit yang lain lebih banyak, akhirnya banyak pembeli lebih memilih untuk membeli pinang di Non OAP, makanya saya sebagai Bupati akan mengajukan dua kajian perda ke DPRD Jayawijaya,”bebernya
Secara terpisah Kapolres Jayawijaya AKBP. Dominggus Rumaropen, S.Sos, MM menanggapi permintaan dari para sopir ojek yang meminta rekannya dibebaskan. Dimana Polres Jayawijaya menahan salah satu warga yang berprofesi sebagai tukang ojek karena melakukan kekerasan terhadap orang atau barang.
“Tentu ketika korban ada di rumah sakit kewajiban kepolisian menindak lanjuti setiap kekerasan yang terjadi, sehingga sentra pelayanan dan sat reskrim turun untuk menangkap pelaku dimana satu orang tertangkap dan seorang lagi melarikan diri,”bebernya.
Ia menegaskan bahwa untuk mengeluarkan pelaku dari rumah tahanan negara ada prosedur dan ada aturan, tidak bisa hanya karena demo dan tekanan demo, polisi keluarkan pelaku. “Kalau itu terjadi fungsi penegakan hukum dan perlindungan korban dimana, dengan demikian para ojek OAP ini tetap tenang dan kita akan lihat seberapa besar masalah itu, terkecuali korban cabut laporan itu kita bisa berikan penangguhan penahanan,”tuturnya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *