Menoken Papua Cara Baru Pengembangan Diri Lewat Berbagi

Suasana diskusi Menoken yang digagas The Shamdana Insitut di Rumah Bakau Jayapura, Minggu (14/3) kemarin. Kegiatan menoken ini menumbuhkan kembali nilai-nilai berbagi, semangat dan m6otivasi seperti yang menjadi bagian dalam filosofi noken itu sendiri. (Ikbal For Cepos)

JAYAPURA – Shamdana Institut mencoba menginisiasi satu gaya baru pengebangan diri yang dimulai dengan berbagi cerita. Dari cerita satu ke cerita lain dan menemui sosok – sosok inspiratif guna membangun nilai – nilai kebhinekaan, toleransi dalam keberagaman dalam menoken sekaligus menyampaikan bahwa ada pesan positif yang bisa disuarakan dari Papua untuk nusantara. Dari semangat inilah Shamdana bersama beberapa organisasi yakni Aliansi Masyarakat Adat Indonesia (AMAN), Papua Jungle Chef, Papuans Tour Guide Community (Patgom), Kipas, Komunitas Tulis Jayapura dan beberapa rumah literasi menjalankan progran menoken.
Kegiatan yang dimulai dari Kampung Kwadeware Distrik Waibu yang kemudian berlanjut ke beberapa titik mulai dari Kwadeware, Kampung Abar, Kampung Hobong, Kampung Yoboi, Hena dan akan dilanjutkan ke Kampung Asei. Ruwindrijarto, program Lifescapes Shamdana Institut menyampaikan bahwa menoken ini ingin merajut sikap dan kondisi sosial serta mengembalikan kembali nilai – nilai adat istiadat di Papua yang perlahan mulai menurun. Dari berbagai kisah yang dibagikan paling tidak akan melahirkan semangat inspirasi bagi yang lain.
“Kami ingin ‘menoken’ ini menjadi sebuah inisiatif dan menjadikan noken sebagai gerakan sosial yang dimulai dengan berbagi dan saling menukar. Jadi noken tidak sekedar menjadi sebuah platform, teknologi informasi tetapi juga komunikasi,” kata Ruwi saat berkunjung ke Rumah Bakau Jayapura, Ahad (14/3) kemarin. Ia membawa serta rombongan yang ikut berbagi dari Maybrat, Sorong dan organisasi lainnya. “Dari diskusi kami di Rumah Bakau Jayapura saya melihat lebih pada spirit, emosional dan pergumulan. Ini tentunya akan terus menyebar dimana teman – teman lain bisa mendapatkan banyak pengalaman yang dibagi,” jelasnya.
Sementara Meike Rottie, koordinator Rumah Bakau Jayapura menyampaikan bahwa semangat lahirnya Rumah Bakau tak lepas dari kepedulian terhadap kondisi dan isu lingkungan di Jayapura. Dari semangat itu yang hingga kini terus ditularkan. “Kami memulai dari hal kecil, dari apa yang bisa kami lakukan untuk terus menyebar semangat positif. Kami juga bersyukur bisa bertemu orang – orang hebat yang terus menginspirasi,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *